4 Buku untuk Mahasiswa Masa Kini



Situs ngeProf.com telah merilis beberapa orang berpengaruh di bumi pergerakan Ngaliyan. Meskipun terbilang baru dan belum selametan, setidaknya rumah maya pergerakan ini sudah mempunyai niat baik, menjadi media inspiratif untuk mendidik professor menjadi profokator. Karena profokator mampu merubah keadaan, melayani sahabatnya dengan candaan dan menghidupkan kehidupan.Filsuf muda berbahaya, Risha Mathius sebagai peneliti cum penulis telah memilih lima orang dengan indikator: wilayah pergerakan lengkap dengan pendukungnya - media sosial, basis massa, dan kelembagaan. Hasilnya bisa dibaca sendiri di sini.

Tantangan bagi mahasiswa-mahasiswa kekinian untuk melanjutkan perjuangan para tokoh Ngaliyan terpilih menjadi semakin berat. Di tengah gagapnya kampus UIN Walisongo menghadapi perubahan dan dihadapkannya mahasiswa pada jam-jam kuliah yang full day, bisa menjadikan nalar fikir kritis, idealis dan anti kemapanan mahasiswa menguap di udara.
Jika tidak segera dicarikan solusi, kemungkinan tak akan ditemukan lagi tokoh seperti Faqih Yahullah (Fafa Yohanes) dan Amin Suroso – duo pelopor kajian filsafat. Atau seperti Tedi Kholiludin yang seumur hidupnya dibaktikan untuk mengajar, advokasi dan menulis. Apalagi tokoh semacam Ruchman Bashori yang sudah go nasional dan Kamerad Bojeste Musholini yang mewarisi semangat Tan Malaka, bergerilnya ke basis massa tanpa kenal lelah.

Tapi jangan kenal putus asa, semua pasti ada jalannya. Setiap generasi memiliki cara tersendiri dalam menghadapi rintangannya. Jika tidak bisa seperti kelima tokoh tadi, paling tidak bisa seperti Filsuf Risha Mathius, yang merupakan anak rohani Fafa Yohanes dan pernah besar di Labiba. Atau seperti Kamerad AbdulGhofar, sang agitator, orator dan pujaan wanita. Juga seperti Prof. Ahmad Umam Aufi, pejuang kemanusiaan yang mulai tajam kritik dan pemikirannya lewat goresan pena.

Saya yang merasa tak bisa menyamai kehebatan tokoh-tokoh di atas, memiliki sedikit tips untuk membantu dedek-dedek mahasiswa membentuk karakter-karakter yang telah diwariskan dan harus dijaga sebagai mahasiswa; kritis, idealis dan anti kemapanan, yaitu dengan membaca!

Ya, membaca buku-buku di bawah ini, akan mampu memompa semangat perjuangan, mengisi kapasitas intelektual dan melatih berfikir kritis melalui propaganda yang disajikan oleh para penulis buku, dan selanjutnya menuntun kita untuk mendiskusikannya dengan kawan atau pacar, untuk kemudian ikut menulis. Karena menulis adalah sebuah keberanian!

1.      Tetralogi Pulau Buru
Mahasiswa sebagai kaum terpelajar, berpendidikan tinggi dan agen perubahan sosial wajibul kudu’ membaca karya-karya Pramoedya Ananta Toer, terlebih master piecenya Tetralogi Pulau Buru; Bumi Manusia, Jejak Langkah, Anak Semua Bangsa dan Rumah Kaca.
Secara keseluruhan, karya Pram ini bercerita tentang pergolakan perjuangan pergerakan menuju Indonesia modern. Melalui tokoh Minke yang dinisbatkan kepada RM. Tirto Adi Suryo, Pram ingin menegaskan bahwa bangsa Indonesia telah membangun peradabannya sendiri, lepas dari dua budaya yang membelenggu; kolonialisme dan feodalisme. Pram juga menegaskan bahwa perjuangan itu dilakukan memalui organisasi dan surat kabar.
Membaca Tetralogi ini, kita akan dibawa Pram mengikuti perjalanan Minke, seorang anak priyayi yang mulai sadar akan ketertindasan dirinya dan sebangsanya. Kita dibawa bersama melihat perjuangannya, perjalanan cintanya dan bagaimana kehidupan para nenek moyang kita pada masa penjajahan Belanda.
Yang tak kalah asyik, kita juga akan menemui beberapa kata-kata inspiratif dari Pram yang telah banyak dikutip sebagai penyemangat perjuangan, seperti:
   “Jangan sebut aku perempuan sejati kalau hidup harus berkalang lelaki. Tapi bukan            berarti aku tidak butuh lelaki untuk aku cintai”
“Didiklah masyarakat dengan organisasi, dan didiklah penguasa dengan perlawanan”
“Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian”
“Seorang terpelajar harus sudah berbuat adil sejak dalam pikiran apalagi dalam perbuatan” 
“Tahu kau mengapa aku sayangi kau lebih dari siapa pun? Karena kau menulis. Suaramu takkan padam ditelan angin, akan abadi, sampai jauh, jauh di kemudian hari”

2.      Catatan Seorang Demonstran
Buku ini merupakan diaryseorang mahasiswa Jurusan Sejarah Universitas Indonesia, Soe Hok Gie. Buku catatan ini mulai ditulis sejak Soe duduk di sekolah menengah pertama sampai beberapa hari sebelum ia meninggal di Gunung Semeru.
Diary ini bukan buku catatan harian biasa, tetapi ungkapan pikiran, kritik atas realita sosial juga perjalanan kehidupannya sehari-hari. Dan tak kalah penting, bagaimana seorang Soe menjadi inisiator sebuah gerakan mahasiswa melalui demonstrasi.
Membaca buku ini akan mampu memompa semangat kita dan paling tidak tahu apa yang harus dilakukan sebagai seorang mahasiswa. Tidak hanya kongkow di mall atau menjalin kasih asmara saja tetapi juga membaca buku, berdiskusi, menulis dan melakukan gerakan. Sebagai aktivis mahasiswa, Soe juga seorang yang romantis dan mempunyai kisah asmara yang rumit. Soe juga seorang pecinta alam yang menjadi perintis adanya organisasi Mahasiswa Pecinta Alam (Mapala) di kampusnya.
Dalam buku ini juga terdapat banyak quote yang sering dikutip oleh aktivis-aktivis mahasiswa, seperti:
“Lebih baik diasingkan daripada menyerah pada kemunafikan”
“Nasib terbaik adalah tidak dilahirkan, yang kedua dilahirkan tapi mati muda, dan yang tersial adalah umur tua. Rasa-rasanya memang begitu. Bahagialah mereka yang mati muda.”
“Kami jelaskan apa sebenarnya tujuan kami. Kami katakan bahwa kami adalah manusia-manusia yang tidak percaya pada slogan. Patriotisme tidak mungkin tumbuh dari hipokrisi dan slogan-slogan. Seseorang hanya dapat mencintai sesuatu secara sehat kalau ia mengenal obyeknya. Dan mencintai tanah air Indonesia dapat ditumbuhkan dengan mengenal Indonesia bersama rakyatnya dari dekat. Pertumbuhan jiwa yang sehat dari pemuda harus berarti pula pertumbuhan fisik yang sehat. Karena itulah kami naik gunung.” 
“Hanya ada 2 pilihan, menjadi apatis atau mengikuti arus. Tetapi aku memilih untuk jadi manusia merdeka”

3.      Pergolakan Pemikiran Islam
Buku ini merupakan ‘warisan pemikiran’ seorang Ahmad Wahib, tokoh muda pembaharu Islam Indonesia. Buku ini berupa catatan harian Wahib yang ditata ulang dan diterbitkan oleh LP3ES. Diantara pemikirannya yang paling fenomenal adalah soal pembaharuan dalam Islam dan kebebasan berfikir.
Daniel Dakhidae dalam pengantarnya di Catatan Seorang Demonstran bahkan membandingkan sosok Ahmad Wahib dengan Soe Hok Gie. Bagi Daniel, keduanya adalah generasi baru dan angkatan muda Indonesia yang menyumbangkan pemikiran kritisnya untuk bangsanya. Yang menarik adalah, keduanya sama-sama menuliskan catatan harian dan dari latar belakang berbeda, Wahib dari keluarga muslim taat di Madura, sedangkan Soe adalah seorang keturunan China dan dari keluarga jurnalis.
Kembali ke Wahib, baginya kebebasan berfikir adalah hak bagi setiap orang. Dia berkata, “Lebih baik ateis karena berpikir bebas daripada ateis karena tidak berpikir sama sekali. Ya, walaupun sama-sama jelek.” Membaca catatan Wahib ini secara tidak langsung kita juga diajak ikut bersama-sama berfikir kritis, tentang pembaharuan Islam, sosial, politik, budaya dan dunia kemahasiswaan.

4.      Tuhan tidak Perlu Dibela
Sebagai santri pergerakan yang mewarisi dan meneruskan nilai-nilai perjuangan KH. Abdurrahman Wahid, rasanya tidak afdhol jika tidak membaca buku ini. Buku Tuhan tidak Perlu Dibela merupakan kumpulan tulisan Gus Dur di Majalah Tempo dalam kurun waktu 1970-an dan 1980-an.
Buku ini mengulas berbagai persoalan di Indonesia, mulai dari kenegaraan, kebudayaan dan keislaman. Disajikan dengan renyah dan gaya khas Gus Dur, mampu meyakinkan pembaca bahwa ide Gsu Dur adalah telah melalui pemikiran panjang, perjalanan kehidupan dan pengamatan di lingkungan sekitar.
Di antara judul-judul yang ada dalam buku ini adalah: Tiga Pendekar dari Chicago, Tuhan tidak Perlu Dibela, Kerudung dan Kesadaran Beragama, Agamawan dan Pembangunan Desa dan Sang Romo, Rumah dan Bambu.


Tabik!

COMMENTS

Name

artikel,256,berita,110,Cerpen,4,esai,26,Fotografi,19,hiburan,7,jualbeli,1,kolom,4,opini,2,Puisi,20,resensi,3,sastra,15,semartv,6,
ltr
item
SemarNews.com: 4 Buku untuk Mahasiswa Masa Kini
4 Buku untuk Mahasiswa Masa Kini
https://4.bp.blogspot.com/-1zzEEJL9Io8/Vy64CYTeajI/AAAAAAAAAO0/628hAml_X9wgcBgjqlZHU1BHJZBmCcxfgCLcB/s320/liana%2Bmembaca.jpg
https://4.bp.blogspot.com/-1zzEEJL9Io8/Vy64CYTeajI/AAAAAAAAAO0/628hAml_X9wgcBgjqlZHU1BHJZBmCcxfgCLcB/s72-c/liana%2Bmembaca.jpg
SemarNews.com
https://www.semarnews.com/2016/05/4-buku-untuk-mahasiswa-masa-kini.html
https://www.semarnews.com/
https://www.semarnews.com/
https://www.semarnews.com/2016/05/4-buku-untuk-mahasiswa-masa-kini.html
true
6531980057997603091
UTF-8
Loaded All Posts Not found any posts VIEW ALL Readmore Reply Cancel reply Delete By Home PAGES POSTS View All RECOMMENDED FOR YOU LABEL ARCHIVE SEARCH ALL POSTS Not found any post match with your request Back Home Sunday Monday Tuesday Wednesday Thursday Friday Saturday Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat January February March April May June July August September October November December Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec just now 1 minute ago $$1$$ minutes ago 1 hour ago $$1$$ hours ago Yesterday $$1$$ days ago $$1$$ weeks ago more than 5 weeks ago Followers Follow THIS CONTENT IS PREMIUM Please share to unlock Copy All Code Select All Code All codes were copied to your clipboard Can not copy the codes / texts, please press [CTRL]+[C] (or CMD+C with Mac) to copy