Absurditas Kehidupan


Albert camus, sastrawan besar abad 20 yang terkenal dengan quote “aku melawan maka aku ada” dan “hidup itu absurd tak layak untuk dijalani.” Berbicara quotenya yang ke-2, ini menarik, konotasinya pesimistis, datar. Bisa jadi jika semua manusia mengamini quote yang kedua kehidupan manusia tidak akan ada klimaksnya, seperti hewan saja. Tapi toh kasunyatannya manusia tetap hidup dalam kenyataan, se-absurd apapun kehidupan, seluruh manusia tetap menjalani kehidupan ini.

Dalam novelnya yang berjudul SAMPAR, camus menggambarkan betapa absurditas dalam hidup betul-betul nyata. Bukan hanya hidup itu saja yang absurd, absurditas itu sendiri memang hidup. Bahkan penemuan-penemuan hebat di dunia ini muncul akibat dari absurditas itu.

Jika kita melihat perjalanan hewan yang hidup, mencari makan, komunal, saling memangsa kamunitas hewan yang lain, setelah itu mati, menjadi bangkai, di makan bakteri, dan kemudian tiada. Begitupun hidup manusia, realitas kehidupannya sama dengan hewan itu. Lalu apa yang membuat manusia sedemikian dinamis? Jawabannya absurditas.

Manusia itu rumit, perjalanan kehidupannya tidak di gerakkan oleh organ tubuh, tapi oleh ambisi, cita-cita, harapan dan motif-motif, bahkan ketika organ tubuh lumpuh sekalipun, jika ambisi dan harapannya  bergelora  semuanya bisa di capai. Sudah banyak contohnya orang cacat yang berkarya dan memiliki pencapaian hidup luar biasa. Sebaliknya ketika manusia tak memiliki ambisi, sama saja seperti mati, padahal fisiknya masih bisa bergerak dan organ tubuhnya masih lengkap.

Belum lagi kenyataan hidup manusia diwarnai kejahatan dan kebaikan, kesalahan dan kebenaran, kesuraman dan keindahan, kebahagiaan dan penderitaan. Apa itu semua, apa ukuran itu semua, absurd!. Seluruh kenyataan hidup manusia ada di antara hal-hal absurd itu. Motif-motif hidup manusia cuma berputar-putar untuk mencapai kebaikan, kebenaran, keindahan, dan kebahagiaan. Jika gagal ya pasti hidupnya suram dan menderita.

Dalam “SAMPAR,” camus menggambarkan musibah penyakit epidemic di sebuah kota bernama oran di tahun 1943, persis ketika mulainya perang dunia dua. Sebelum penyakit sampar ini datang, kehidupan kota ini seperti biasa, ada bisnis, pendidikan,pertanian, ada juga premanisme,pencurian dll. Keadaan berubah drastis ketika penyakit sampar menjangkit. Tiba-tiba penduduk kota jadi religious dan saling tolong menolong. Seolah-olah mendapat wahyu dari tuhan.

Camus heran, gara-gara sampar kok jadi begini ya. Toh ada penyakit gak ada penyakit manusia bakal mati juga. Yang lebih mengejutkan lagi ada pihak-pihak yang tiba-tiba sangat sibuk, seperti wartawan, rumah sakit, kepolisian, pembasmi hama, dan aparat pemerintah. Kenapa tidak dari kemarin mereka sibuk melayani masyarakat. Yang lebih parah lagi ada pihak-pihak yang mengambil keuntungan dari peristiwa ini.

Tapi tetap saja, ada sosok-sosok pahlwan yang dengan gigih berani menolong dan berpikir agar penyakit sampar segera musnah. Manusia-manusia yang siap berkorban demi manusia lainnya tanpa memikirkan dirinya. Tapi bagi camus aneh juga, lah kok bisa-bisanya orang-orang ini tidak memikirkan keselamatannya sendiri. Mereka menolong orang lain agar tidak mati terkena sampar, tapi mereka malah membahayakan dirinya sendiri. Kalau bukan orang yang di tolong, ya pasti mereka yang mati. Diberitakan setiap harinya ada 10-11 orang meninggal karena wabah sampar ini.

Ini salah satu gambaran absurditas. Dimana selalu ada pristiwa tak terduga yang menyebabkan sikap manusia yang tak terduga pula.

Tapi albert camus menyimpulkan. Dalam situasi apapun, apa yang bisa kita lakukan, lakukan saja. Tak  peduli bagaimana ambisimu dan motif-motifmu. 

Comments

Popular posts from this blog

Sarasehan Jurnalistik, Gerakan Santri Menulis Lawan Paham Radikalis

Bangun SDM dan Tekankan Peran Keluarga dalam Pendidikan

PB PMII Dukung POLRI Berantas Terorisme Sampai Ke Akar-Akarnya

Tebarkan Kasih di Gersangnya Hati

Lawan Terorisme, FKPT Jateng Kenalkan Konsep Gemeter