Deritanya Kebonharjo, Bahagianya Negara


bemundip
Sengketa agraria udah jadi trend lagi sekarang. Hari ini, tadi siang (19 mei 2016) segerombolan aparat yang dicokok PT KAI Daop IV semarang nggerudug warga kebonharjo. Gak tanggung-tanggung yang dikerahkan pasukan brimob yang jumlahnya sekitar 1200an personel. Serem banget kan…

Ceritanya nih, bahkan brimob mengerahkan sniper buat ngintai kalo-kalo ada yang nyelonong nyusup kebarisan pasukannya sendiri, dan juga untuk mengantisipasi ada pihak luar yang”ikut campur” urusan PT KAI dan warga kebonharjo. Intinya, kita orang luar kebonharjo gak boleh masuk kawasan itu, apalagi buat ngebantu warga… masya Allah

Kisah sengketa agraria akhir-akhir ini memang lagi ngetrend seiring dengan visi pemerintah yang ingin membangun infrastruktur demi tercapainya target ekonomi. di jawa tengah aja ada banyak kawasan yang sekarang disengketakan, dan rata-rata yang bikin perkara adalah perusahaan plat merah alias BUMN. Contoh aja yang sangat terkenal seantero jagad raya, konflik warga kendeng dan PT semen Indonesia, konflik warga kebumen dengan TNI yang disokong PT AnTam, dll. dari sisi ini sebetulnya ada dua sisi yang sekaligus merundung masyarakat Indonesia.

Sisi pertama, Indonesia sekarang ini jadi negara Invest darling (istilah penulis) yang sangat menggiurkan para investor asing terutama dari negeri china yang pengin nanem duitnya sekaligus menyalip para investor dari amerika dan eropa. Sebetulnya ini sebuah berkah bagi kita, tapi sayangnya, turunnya investasi ini juga dibarengi dengan syarat agar modal ini segera di putar ke wilayah produktif. Karena kalo duitnya ngendap dikantong negara pasti akan habis sia-sia. Sehingga untuk menyegerakan perputaran uang investasi, pemerintah harus secepatnya cari “ladang” buat nanem duit ini biar cepet panen. Ini syarat mutlak ndan, apalagi udah saya bilang di atas, china pengin nyalip besarnya modal amerika di Indonesia. Tau sendiri kan persaingan ekonomi antara china dan amrik…

Sisi kedua, konsekwensi dari derasnya arus investasi,sekali lagi saya jelaskan pemerintah mau gak mau harus segera cari ladang buat nanem modal itu. Layaknya pesugihan sama nyi roro kidul, maka pemerintah yang pengin cepet kaya harus nyari tumbal, atau pemerintah sendiri yang kena malapetaka buat ngembaliin lagi investasi itu dengan bunga dua kali lipat. Kalo njenengan yang jadi pemerintahnya, kira-kira pilih mana?
Tapi sob, kita juga jadi prihatin kalo yang ditumbalkan terus-terusan masyarakat kecil. 

Dengan syi’arnyapenggususran warga kebonharjo saya melihat ternyata masyarakat kecil sama sekali gak dianggep sebagai awarga negara. Negara Cuma nganggep warga kecil dengan penghasilan kecil dan gak punya kontribusi apa-apa sama negara itu sebagai sampah yang harus segera dibersihkan.

Iya sob, negara cuma nganggep warga pinggiran hanya sampah yang bikin beban buat negara. Inilah nalar negara yang kita bangga-banggain, padahal Negara gak pernah bangga sama rakyatnya.

Kalo gini terus, masa kita Cuma diem sob…


Ayo lawan…!!!


Comments

Popular posts from this blog

Sarasehan Jurnalistik, Gerakan Santri Menulis Lawan Paham Radikalis

Bangun SDM dan Tekankan Peran Keluarga dalam Pendidikan

PB PMII Dukung POLRI Berantas Terorisme Sampai Ke Akar-Akarnya

Tebarkan Kasih di Gersangnya Hati

Lawan Terorisme, FKPT Jateng Kenalkan Konsep Gemeter