Hikmah di Balik Musibah


Foto: http://cdn.theatlantic.com/

Dunia pendidikan indonesia kembali geger. Ya, tepat pada 2 Mei 2016 yang juga dikenal sebagai Hari Pendidikan Nasional, seorang mahasiswa di Medan nekat menikam leher dosennya sendiri. Lebih menyedihkan lagi, kejadian itu terjadi di kampus dan pada siang hari, bukan di hutan atau jalan yang sepi pada malam hari.
Banyak berita seliweran yang menyatakan sebab pembunuhan itu dilatar belakangi oleh dendam pelaku pada korban; karena sering dimarahi, diberi nilai jelek, hingga cekcok soal skripsi. Tapi, apapun sebabnya, pembunuhan itu –seharusnya- tidak terjadi dan karena sudah terjadi maka wajib untuk dikecam, apalagi dilakukan oleh mahasiswa yang seharusnya memiliki kecerdasan intelektual dan emosional. Nah lho..
Namun, seperti kata pepatah, “selalu ada hikmah dan pelajaran dibalik setiap kejadian”. Lho kok bisa? Memangnya apa hikmah dibalik tindakan yang amoral itu?. Tentu saja, namun hikmah dan pelajarannya hanya akan didapatkan oleh mereka yang melihat kejadian ini secara jernih dan bijak (seperti penulis.. hehe).
Pertama, jangan pernah menasehati seseorang dengan cara-cara yang menyakitkan hati, sebab tidak semua orang bisa melupakan sakitnya hati meski bisa dengan mudah memaafkan, bahasa kerennya always forgive but never forget. Nah lho.. jangan main-main dengan hati dan perasaan seseorang ya.. terutama untuk cewek-cewek cantik dan cowok-cowok keren. #KodeUntukMantan&Inceran J
Kedua, jangan menuruti hawa nafsu dengan  mudah, karena pasti akan menyesal di kemudian hari. Kenapa dengan nafsu? Apa yang salah dengannya? Bukankah tanpa nafsu manusia tidak akan memiliki gairah untuk hidup? sabar dulu, penjelasnnya ada pada paragraf dibawah J
 Dalam bahasa agama (Islam: red), nafsu hampir selalu berorientasi pada keburukan, lihat saja dalam Qs. Yusuf: 53 yang menyebutkan bahwa nafsu itu selalu mengajak kepada kejahatan, kecuali yang sudah diberi rahmat oleh Tuhan. Dalam kasus ini, tentu kerugian bukan hanya didapatkan oleh pelaku yang bisa dipastikan tidak akam memperoleh gelar sarjana dan harus mendekam dipenjara, melainkan juga oleh keluarga korban yang telah kehilangan wanita cerdas nan hebat yang telah mendidik anak-anaknya, keluarga pelaku yang kehilangan harapan masa depan keluarga, serta kampus yang dianggap gagal mendidik kecerdasan emosional dan spiritual mahasiswanya.
Ketiga, kalimat inspiratif Soe Hok Gie yang berbunyi, “guru bukan dewa yang selalu benar dan murid bukan kerbau yang dicocok hidungnya dan harus selalu patuh”, menjadi pengingat bagi kita agar tidak mengklaim kebenaran sebagai hak milik kita. Kenapa begitu? Sebab, jika kebenaran sudah diklaim sebagai hak milik, maka yang akan terjadi adalah perintah, bukan dialog. Sedangkan perintah selalu identik dengan menguasai dan dikuasai, sementara dialog lebih identik dengan kesamaan posisi.
Jika perintah cenderung tidak menghargai orang yang kuasai, maka dialog lebih cenderung menghargai lawan komunikasi, dan tentunya semua orang ingin dihargai, sebagaimana disampaikan oleh Abraham Masslow dalam teorinya tentang hierarki kebutuhan dasar manusia yang menempatkan kebutuhan manusia akan penghargaan pada baris kedua setelah kebutuhan akan aktualisasi diri.
Akhirnya, tulisan ini sama sekali tidak ingin menganggap musibah yang terjadi di Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara (UMSU) sebagai lelucon, melainkan sebagai pengingat bahwa ternyata ada yang salah dalam aspek pendidikan kita selama ini, dimana perangkingan dan kecerdasan kognitif menjadi prioritas utama pendidikan kita, bukan kecerdasan emosional dan spiritual. Mari berbenah!!


Comments

Popular posts from this blog

Lawan Terorisme, FKPT Jateng Kenalkan Konsep Gemeter

Sarasehan Jurnalistik, Gerakan Santri Menulis Lawan Paham Radikalis

Lantik Ranting NU se Kecamatan Gunungpati, Kiai Hanif Tunjukkan Peran NU Hadapi Tantangan

Bangun SDM dan Tekankan Peran Keluarga dalam Pendidikan

PB PMII Dukung POLRI Berantas Terorisme Sampai Ke Akar-Akarnya