Hitler vs Jaures, kisah perang ropaganda

foto:firstworldwarhiddenhistor.wordpress.com
Final liga champions antara Real Madrid vs Athletico Madrid akan segera disaksikan seluruh Ummat di seantero jagad raya. Stastisitik taruhan sudah dibuka antara 1 untuk real madrid berbanding ¼ untuk Athleticco Madrid. Perbandingan ini menunjukkan, ternyata Real Mdrid dengan segala pengalamannya mampu memberikan pengaruh yang besar kepada pecinta sepak bola dunia. Di  Asean sendiri, Setelah MEA dibuka, presentasi jumlah taruhan juga meningkat seiring menjalarnya pasar bebas ASEAN, 

Berkaitan dengan Pasar Bebas, Aset-Aset ekonomi dan sumber daya alam Indonesia sedang diperebutkan antara china, Eropa, dan Amerika. Eropa dan Amerika disinyalir memanfaatkan lobi-lobi yahudi di beberapa konsorsium perusahaan Indonesia. Seperti halnya perang antara Butho vs Kurowo yang dimainkan sengkuni.

Perang ekonomi semacam ini bisa diruntut sejarahnya semenjak Perang Dunia pertama dimulai. Khususnya perang yang melibatkan Hitler dengan partai Nazinya.  Di surat kabar “Pemandangan” didalam rencana itu digambarkan, betapa Adolf Hitler dapat merampas seluruh dunia Jerman dengan ia punya kerongkongan. Dari Adolf Hitler-lah  datangnya perkataan: “Gobloklah orang yang mengatakan: sedikit bicara, banyak bekerja. Goblok..!! Orang yang sedemikian itu tak pernah meninjau kedalam sejarah dunia. Semboyan kita harus: banyak bicara, banyak bekerja.

Belum selang berapa lama ini terbitlah sebuah buku anti-Hitler yang sangat menarik, yang namanya “Propaganda als Waffe”, -“Propaganda sebagai senjata”. Penulisnya ialah musuh Hitlerianisasi yang terkenal: Willi Munzenberg. Didalam buku ini dikupasnyalah aktiviteit-Hitlerianisme dengan kerongkongan itu.

Willi Munzenberg sendiri adalah seorang pergerakan. Ia adalah salah seorang pemimpin kaum buruh, yang pergerakannya dibinasakan Adolf Hitler. Ia sendiri mengaku pentingnya propaganda, dan mengakui pula bahwa salah satu sebab kekalahan kaum buruh terhadap kaum Nazi ialah karena memakai kerongkongan. Ia sendiri adalah seorang propagandis yang ulung. Tapi ia mengakui, bahwa gerakan kaum Nazi lebih sistematis.

Munzenberg menunjukkan, propaganda kaum Nazi tidak hanya ditujukan kepada akal dan pikiran, tetapi ialah satu “Appel ans Gefuhl”-, memangil kepada sentimen sahaja. Propaganda yang sahaja adalah menuju kepada rasa dan akal, kepada kalbu dan otak, kepada persaan dan pikiran.

Tetapi apakah yang misalnya diajarkan oleh Hitler? Hitler berkata: Kita sama sekali tidak objektif, sebab nanti rakyat jelata yang selalu goyah pikiran itu lantas mengajukan pertanyaan, apakah benar semua musuh kita itu tidak benar? dan hanya bangsa sendiri saja atau pergerakan sendiri sahaja yang benar?”. Begitu pula Goebbels. Waktu didalam bulan september 1932 partai Nazi kena krisis yang hebat, maka Goebbels berkata: “Man mub jetzt wieder an die primitivsten Massseninstinke appellieren.” Artinya: “Sekarang kita mesti cuba bangunkan lagi perasaan-perasaan yang paling rendah dari rakyat jelata.”

Didalam bagian ini kritik Munzenberg tidak ada ampun lagi. Dibuktikannya, bahwa maksud kaum Nazi dengan propaganda itu bukanlah menyebarkan kebenaran atau keyakinan, melainkan Hitler sendiri berkata, hanyalah “moglichst grobe Massen zu gewinnen”.- “mencari pengikut rakyat jelata sebanyak mungkin”. Sebab memang inilah pokok filsafat hidup Hitler.

Yang betul-betul dinamakan laki-laki dunia ialah menurut Hitler adalah orang yang bisa menggerkkan massa. Bukan misalnya mengeluarkan ide saja, bukan menyusun teori saja, bukan kepandaian ini atau kepandaian itulah yang menjadi ukuran orang besar. Orang besar adalah orang yang cakap menggerakkan massa.

“Grob sein heibt Massen bewegen konnen.” Filsafat hidup ini telah dilaksanakan Hitler dengan cara yang paling mengagumkan. Menurut keterangan Konrad Heiden, seorang penulis biografi Hitler yang terkenal, memang belum pernah ada seorangpun yang menyamai Hitler dalam sejarah dunia.

Namun menurut Haiden, ada satu orang didunia barat yang hampir menyamai Hitler dalam hal kecakapan berpidato, orang itu adalah Gapon, yang terkenal sebagai agamawan dari Rusia pada permulaan abad ini. Saya kira Konrad Heiden belum pernah mendengarkan Jean Jaures berpidato.

Jean Jaures adalah seorang pemimpin kaum buruh Perancis yang dijuluki Frankrijks grootste volkstribuun (gema di tengah gemuruh). Menurut anggapan saya, setelah membandingkan pidatonya dengan Hitler, Pidato Jaures lebih banyak dibaca dan didengarkan di radio-radio jerman. Sampai-sampai trotzky, yang juga juru pidato maha hebat, mengakui kehebatan Jaures dengan menyebutnya “air terjun di tengah-tengah batu karang” yang ditulis dalam bukunya “Mijn Leven.”

Tapi kenapa Jaures tidak dapat menggerakkan massa sebanyak Hitler?

Ini karena pengaruh Jaures yang begitu hebat. Menurut keterangan De Rappoport, jika Jaures berpidato pendengar-pendengarnya seperti mendapatkan tetesan cinta akan semua manusia, tak heran penikmat pidatonya sangat banyak. Hingga akhirnya pada 1914 Jaures tewas ditembak. Seandainya dia tidak tewas kemungkinan Perang Dunia tidak akan pernah terjadi.

Tetapi kembali lagi kepada pertanyaan: apakah sebabnya Jaures tidak dapat mengerakkan massa sebegitu banyak seperti Hitler? Apa sebab ia punya pengikut hanya jutaan saja, dan tidak puluhan maljun seperti Hitler? Apa sebab ia tidak dapat bekuk negara, seperti Hitler?

Jawabannya pertanyaan ini adalah terdapat didalam buku Willi Munzenberg itu, Hitler tidak saja mencari anggota, ia juga, dan malahan terutama, mencari pengikut. Pengikut yang sebanyak mungkin, pengikut ribuan, ketian laksaan, maljunan. Ia malahan puluh maljunan asal ikut, asal bergerak, asal mengalir, asal tertarik. Tak usah sadar, tak usah memikir, tak usah “erklart”, tak usah pula semuanya menjadi anggota partai. Asal ikut propaganda itu lebih penting di organisasi. “Aufgabe der Propaganda ist es, Anhanger zu werben, Aufgabe der Organisation, Mitglieder zu gewinnen”. Artinya: Propaganda cari pengikut, organisasi cari anggota”.

Hitler cari pengikut lebih dulu, anggota nanti datang sendiri. Katanya”Bodohlah orang yang mengira, kita mesti mendirikan cabang lebih dulu, kemudian baru propaganda. Tidak lebih dulu propaganda, lebih dulu kita mempengaruhi massa. Cabang nanti datang dengan sendirinya. Dan metodenya mendapatkan pengikut yang sebanyak mungkin itulah yang digasak oleh Munzenberg. Massa yang hanya digerakkan saja. Zonder diberi pengetahuan yang berdiri atas “Wahrheit”, zonder diberi keyakinan yang terpaku juga didalam otak, zonder disadarkan tetapi hanya dimabokkan, zonder diberi “Wissen” tetapi hanya diberi Illusion” massa yang demikian itu nanti tentu akan “gugur” kembali. Munzenberg meramalkan keguguran kembali ini. Munzenberg, sebagai juga Fritz Stenberg didalam bukunya yang bernama “Hoe lang kan Hitler oorlog voeren?”, meramalkan, bahwa justru massa ini, yang menjadi dasar, alas, tiyang, dan tubuhnya Hitlerianisasi itu. Karena ia hanya dimabokkan saja. Karena ia hanya dicekoki “Illusion” saja. Karena ia tidak terdidik, tidak diyakinkan pula tidk disadarkan.

Sangat menarik sekali uraian Fritz Stenberg itu pula: dikatakannya, Hitler boleh cukup alat-alat perangnya, boleh cukup meriamnya, pada primaire doelstellingya, bukanlah peparangan umtuk memenangkan sesuatu faham, bukanlah peperangan ideologi, tetapi adalah peperangan antara kebutuhan mentah dengan kebutuhan mentah. Semua peperangan itu adalah peperangan kontra belangen, interessen bukan “zelfbeschikkingsrechnya bangsa-bangsa kecil” harus dilindungi dan dibela terhadap kepada serangan serangan “Militerisme”, bukan “kemanusiaan” kontra “barbarendom”, dan didalam peperangan tiga puluh dan delapan puluh tahunpun bukan agama roms-katholiek berpukulan dengan agama protestan. Didalam peparangan-peperangan ini adalah kepentingan mentah bertabrakan dengan kepentingan mentah pula. Ahli-ahli sejarah sebagai Professor Jan Romein, Ahli-ahli ekonomi sebagai Johan Manyard Keynes, Ahli-ahli politik sebagai kaum Marxis ataupun pasifis Loard Robert Cecil, sudahlah menerangkan hal ini dengan cara yang menyakinknkan.

Cubalah tilik keadaan perang sekarang. Orang katakan Jerman perang karena ismenya. Benarkah begitu? Tidak ada satu ideologi yang sewajarnya memberi nyawa begitu hebat kepada pergerkan nasional sosialisme sebagai rasa benci kepada bolshevisme. Sejak Hitler keluar dari rumah sakit serta bersumpah akan menjadi politikkus, belum pernah ia membuat satu pidato, dimana ia tidak mengatakan bahwa “staasvijand no. 1” ialah bolshevisme. Demokrasi ia serang pula sering-sering. Tetapi menghantam bolshevisme adalah ia punya nafsu nomor satu, ia punya nafsu. Tetapi apa kini terjadi ? negeri yang ismenya ia benci mati-matian itu, justru negeri itulah ia cari persahabatannya. Kini mereka berperang. Bukan karena demokrasi atau fasisme itu. Bukan karena ideologi, bukan karena isme. Isme mereka sebenarnya bersaudara satu dengan yang lain. Ismekah yang menjadi sebab nafsu ekspansi ini? Seperti halnya kondisi sesaat ini baru digumunkan dengan peperangan di negara-negara Timur Tengah, ISIS, Kemerdekaan Palestin, Suriah, Irak dkk, sampai munculnya ancaman-ancaman terorisme bahkan sampai di Indonesia dengan dalih apapun. Siapa banyak mempelajari ilmu sejarah, ilmu ekonomi, dia akan mengetahui artinya “Demokrasi” didalam peperangan ini saya tak perlu uraikan disini panjang lebar. Pergilah saja kebibliotik,dan pinjamlah misalnya bukunya Ramsay Muir “The Expansion of Erope” Perang Ideologi? Ach,- marilah kita lebih sadar.

Allah terlalu baik untuk menjadi kejam, Terlalu bijak untuk membuat kekeliruan, Ketika anda tidak dapat menemukan tanganNya anda dapat mempercayai (Charles H. Spurgeon)

Tolak ukur utama manusia bukanlah dimana ia berdiri di masa-masa nyaman dan senang, Tetapi dimana ia berdiri di masa-masa tantangan dan kontroversi (Martin Luther King, JR)

Kebaikan yang tiada henti dapat mengerjakan banyak hal, Seperti matahari melelehkan es, Kebaikan membuat kesalahpahaman, ketidakpercayaan dan permusuhan yang menguap (Alrbert Schweitzer)


COMMENTS

Name

artikel,256,berita,110,Cerpen,4,esai,26,Fotografi,19,hiburan,7,jualbeli,1,kolom,4,opini,2,Puisi,20,resensi,3,sastra,15,semartv,6,
ltr
item
SemarNews.com: Hitler vs Jaures, kisah perang ropaganda
Hitler vs Jaures, kisah perang ropaganda
https://3.bp.blogspot.com/-tTxeT77e5E4/V0lRSCkYWgI/AAAAAAAAAuo/9zSaPkSm3o0rsq6nXMkDWatjA9CsxYpPACLcB/s320/young-hitler.jpeg
https://3.bp.blogspot.com/-tTxeT77e5E4/V0lRSCkYWgI/AAAAAAAAAuo/9zSaPkSm3o0rsq6nXMkDWatjA9CsxYpPACLcB/s72-c/young-hitler.jpeg
SemarNews.com
https://www.semarnews.com/2016/05/hitler-vs-jaures-kisah-perang-ropaganda.html
https://www.semarnews.com/
https://www.semarnews.com/
https://www.semarnews.com/2016/05/hitler-vs-jaures-kisah-perang-ropaganda.html
true
6531980057997603091
UTF-8
Loaded All Posts Not found any posts VIEW ALL Readmore Reply Cancel reply Delete By Home PAGES POSTS View All RECOMMENDED FOR YOU LABEL ARCHIVE SEARCH ALL POSTS Not found any post match with your request Back Home Sunday Monday Tuesday Wednesday Thursday Friday Saturday Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat January February March April May June July August September October November December Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec just now 1 minute ago $$1$$ minutes ago 1 hour ago $$1$$ hours ago Yesterday $$1$$ days ago $$1$$ weeks ago more than 5 weeks ago Followers Follow THIS CONTENT IS PREMIUM Please share to unlock Copy All Code Select All Code All codes were copied to your clipboard Can not copy the codes / texts, please press [CTRL]+[C] (or CMD+C with Mac) to copy