Kak Dodo; Pendekar Ngaliyan yang Terlupakan


“Ngaliyan selalu ada cerita dan gak ada habisnya untuk diperbincangkan”, itu yang sering diomongkan Ndan Pres Beni pas mbribik adek-adek yang butuh wejangan dan petuah. Dari kalimat itu, saya ingat seorang tokoh mitologi Ngaliyan yang namanya belum pernah “di-tawashul-kan” di majelis ta’lim ngeProf.com. Mungkin karena peredarannya di Semarang yang mulai berkurang. Belio adalah Kak Dodo, tokoh mitologi-provokatif yang sering dikultuskan oleh pengikut setianya. Belio layaknya Bambang Sugali, tokoh yang mempunyai pengaruh besar bagi ukhti-ukhti emezzz, atau sekaliber Arif Suyana, Seorang demonstran, provokator, dan pemecah es batu Kucingan Angkringan Songo.

Biografi Singkat

Nama aslinya Kurnia Widodo, tapi penulis lebih akrab memanggilnya Kak Dodo. Belio mak'bedunduk nongol dari sebongkah batu karang di Temanggung, bulan oktober tahun 1990. Belio memaksa diri lulus dari SD, SMP, dan SMA di tanah kelahirannya. Kemudian, pada tahun 2008 belio nyatroni IAIN Walisongo semarang dan memaksa kuliah di Fakultas Ushuluddin jurusan tashawuf psikoterapi. Di kampus pergerakan ini Kak Dodo bertemu dengan tokoh-tokoh gerakan Ngaliyan dan berguru kepada mereka, diantaranya Ahwan Ahadi Ihsan (Kak Hero I), RahulSyaiful Bahri (Mbah Rahul) dan Mas Azhar.

Di Ngaliyan, Ia tercatat sebagai santri di YPMI Al Firdaus mulai tahun 2008-2012. Tempat ini membuatnya mengenal banyak teman dan dikenal orang lain. Disini pula, dia bertemu dengan kamerad-kameradyang telah membawa perubahan cara berfikir dan bertingkahlaku, seperti Kak BayuRen Warin, Kak Rouf, Kak Bojesto Musollini, Kak Risya Matius, Kak Jalil, dan KakBisri. Kak Dodo selalu menjadi narator ulung, pandai bercerita , dan pencair suasana dalam setiap obrolan di YPMI.

Tahun pertama di YPMI dia sangat sibuk. Selain kuliah, ia pun harus aktif di Pondok. Di tengah-tengah rutinitasnya, Ia bersama dengan Bayu, Rouf, Bisri, Jalil dan Imam Wahyudi, mendeklarasikan genk santri yang unik, Santri Semut namanya. Tidak ada yang tahu sejarah keberadaan santri semut itu secara jelas. Berdasarkan obrolan ringan dengan Ndan Bos Ma’ruf, Santri Semut adalah gelar kehormatan bagi kelima orang itu yang diberikan oleh Al MukarromMaha Guru Pergerakan Senior Ndan Bos Ahwan Ahadi Ihsan. Kak Hero I mentahbiskan gelar itu kepada mereka karena alasan yang sedehana, hampir setiap sore mereka mencari semut di sudut pondok dan dibawah pepohonan jambu YPMI. Karena perilaku “sufi” itu, santri-santri lain rasan-rasan, “Dodo ndak Gendeng?” Setelah ditelisik, ternyata Dodo hanya ingin mengetahui apa yang dilakukan oleh Semut setiap harinya, bagaimana mereka makan dan ngopi. Kurang kerjaan banget bukan?

Kak Dodo dan 1001 Kebanyolannya

Apa yang pernah ditulis oleh Kak Risya Matius tentang Lima Tokoh Paling Berpengaruh di Ngaliyan, sepertinya dia sengaja melupakan Kak Dodo sebagai yang paling berpengaruh dari kelimanya. Pasalnya, dari berbagai literatur cangkem yang ada, Kak Dodo jauh melampaui mereka berlima. 

Sebagaimana istilah ngeProf, ngeRouf, ngeDul, ngeHum dan lainnya adalah istilah yang lahir dari pertapaannya di YPMI. Istilah “Nge dan Nga” yang sering dipakai oleh pecinta dedek-dedek emezzzdi Ngaliyan ini berawal dari belio. Kata “Nge dan Nga” telah bermetarmorfosa menjadi kata kerja apabila digandeng dengan kata benda. Seperti contoh Suyono apabila ditambah dengan kata “Nge” maka menjadi kata “NgeSuyono” yang bermakna “mendatangi suyono di kucingan atau nongkrong di kucingan”. 

Maka jangan heran, jika saya mengangap belio sebagai “Pendekar Ngaliyan” yang berkontribusi bagi peradaban Ngaliyan. Selain itu, masih ada karomah yang menclokdalam diri Kak Dodo yang diyakini mempengaruhi pergolakan pemikiran di Ngaliyan.

Pertama, di Usianya yang Masih Muda, Kak Dodo telah Lulus S3

Mungkin anda tidak akan percaya dengan karomah ini, selain tercatat sebagai mahasiswa di Fakultas Ushuluddin IAIN Walisongo Semarang, belio tercatat sebagai mahasiswa S1 Sastra Inggris UNTAG serta S1 Pendidikan Bahasa dan Sastra Inggris UPGRIS.

Berawal di tahun 2009 ketika Kak Dodo telah kuliah satu tahun di Walisongo, belio ndaftar ke Akademi Bahasa Asing (AKABA) mengambil D3 Bahasa Inggris. Nah, setelah lulus D3 AKABA belio melanjutkan pendidikan ke UNTAG dan UPGRIS dengan cara transfer hingga lulus. Alhasil, kini ia telah memperoleh tiga gelar sarjana S1, yakni S.Psi.I (di IAIN Walisongo lulus 2014), S.S (di UNTAG lulus 2014), dan S.Pd (di UPGRIS lulus 2015). Kondang opo ora prof?   

Kedua, Ia adalah Penakluk Kucingan dari Jerakah-Kedungpane

Sebagai seorang Pendekar Ngaliyan yang telah melalangbuana, Kak Dodo telah hafal dan fasih jumlah kucingan yang ada di Ngaliyan. Kucingan-kucingan itu pernah belio singggahi satu-persatu. Belio pun pernah mendata kucingan mana saja yang layak dan bisa untuk ngebon atau ngutang. Berkat kepiawaiannya dan jasanya dalam menaklukkan kucingan-kucingan tersebut, gelar “Wiro Sableng’e Ngaliyan” pernah disandangnya. Kurang sakti opo neh Kak Dodo?    

Ketiga, Pandai Mengatur Waktu

Ditengah kesibukan yang sangat padat, setiap minggu belio pulang ke Temanggung. Bukan untuk holiday tapi untuk ngajar Paket C. Sebagai Pendekar sakti mandraguna rawe-rawe rantas malang-malan putung, belio enjoy wae. Malahan hal ini belio niatkan sebage pengabdian. Banyangkan prof, hari Senin sampe Jum’at belio kuliah S3 di Semarang, kadang jadi Guide di Dinas Pariwisata “Visit Jateng”, dan Sabtu-Minggu ngajar Paket C di Temanggung. Kurang kondang opone mblo?  

Keempat, Gurunya Tokoh Muda Ngaliyan     

Untuk yang terakhir, belio itu “Seniore-senior” Tokoh Muda Ngaliyan. Dari tangan dinginnya telah lahir kader-kader yang telah teruji, mumpuni dan turah-turah soal gerakan. Darinya lahir provokator-provokator dan narrator “cerbol” yang sangat ulung, seperti Ndan pi’i, Ndan Gopal, Mbah Tuk. Kak Dodo, wes koyok wali durung?

Itulah Kak Dodo, tokoh besar Ngaliyan yang menurut penulis mulai dibuang sejarahnya dari Ngaliyan, (kurang ajar tenan….). Setidaknya, dedek emhezz wajib showan dengan belio truz nyium tangannya bolak-balik tiga kali kalo belio sedang di Ngaliyan. Minimal selfa-selfie lah dengan belio atau kencan semalam.        




       *Yulius Caesar

Comments

Popular posts from this blog

Sarasehan Jurnalistik, Gerakan Santri Menulis Lawan Paham Radikalis

Bangun SDM dan Tekankan Peran Keluarga dalam Pendidikan

PB PMII Dukung POLRI Berantas Terorisme Sampai Ke Akar-Akarnya

Tebarkan Kasih di Gersangnya Hati

Lawan Terorisme, FKPT Jateng Kenalkan Konsep Gemeter