Kawan-kawan HMI, Berterima Kasihlah pada Bung Saut


Teruntuk kawan-kawan HMI yang saya banggakan karena sumbangsih besarnya untuk bangsa dan negara tercinta. Saya doakan semoga kawan-kawan sehat selalu dan senantiasa dalam lindungan-Nya, amiin.

Oh ya, bagaimana kabar perseteruan kalian dengan Bung Saut? Akan ada aksi apalagi setelah yang kalian lakukan di depan gedung KPK kemarin? Kejutan apa pula yang sedang kalian siapkan untuk menghibur rakyat negara ini? Eh salah, maksud saya untuk Bung Saut, pimpinan KPK yang kalian tuntut meminta maaf dan mundur dari jabatannya karena –kalian anggap- merusak marwah dan nama baik organisasi itu lho..

Kalau boleh jujur, saya merasa risi, gelo, bahkan mangkel membaca status ataupun kiriman di wall facebook yang nyinyir pada aksi kalian, padahal kalian hanya membela marwah organisasi yang -kalian anggap- telah di rendahkan oleh Bung Saut, Iya toh? 

Dan idealnya, sebagai orang luar yang tidak tahu apa-apa tentang internal kawan-kawan di HMI, saya tidak berhak menulis –artikel- ini. Tapi ya harap dimaklumi, saya ini kan mahasiswa semester dua yang sedang belajar nulis, tujuannya sederhana kok, biar terkenal kayak senior-senior yangdulu  ngospekin saya. hehe

Gini-gini, kalau saya tidak salah, awal perseteruan kawan-kawan dengan Bung Saut kan karena ucapannya dalam sebuah program televisi yang –kalian anggap- mendiskreditkan HMI. Kalau tidak salah lagi, ucapannya seperti ini,”Mereka orang-orang cerdas ketika menjadi mahasiswa, kalau HMI minimal LKI, tapi ketika menjadi pejabat, mereka korup dan sangat jahat”. Bener gitu toh?

Kalau salah, tolong saya diingatkan ya.. jangan didemo, disuruh meminta maaf di berbagai media selama lima hari berturut-turut, apalagi sampai dilaporkan pada polisi yang bisa berujung pada penahanan saya. Bisa modiar saya, lhawong saya ini cuma mahasiswa yang bisa makan Senin-Kamis aja sudah seneng banget kok. Terus, kalau disuruh minta maaf di media selama lima hari berturut-turut yang katanya berbiaya mahal, dari mana saya dapat uang? Jadi, tolong diingatkan saja ya.. saya pasti siap meminta maaf kok. Secara langsung lho ya, bukan lewat media. Biayanya mahal bos. hehe

Nah, jika ucapan Bung Saut memang benar demikian dan tidak dipelintir oleh media untuk satu kepentingan, maka saya mendukung penuh sikap kawan-kawan HMI yang menuntut permintaan maaf dari Bung Saut dan –harusnya- mengajak beliau berdialog lebih lanjut untuk mengklarifikasi ucapannya dan membersihkan kembali nama HMI.Ya, hanya sebatas itu, tak kurang dan tak lebih.

Namun, ketika melihat aksi yang dilakukan HMI  pada Senin(9/5/2016) di depan gedung KPK -yang menurut asumsi saya jauh dari sikap bijak HMI-, saya malah berpikir lebih jauh lagi, hingga muncul petanyaan dalam benak saya, mengapa kawan-kawan HMI bertindak sebrutal itu? Ada apa dengan kawan-kawan HMI? Kenapa tidak saya temukan wajah Islam dalam aksi kemarin? Kenapa pula tidak saya temukan visimembina insan akademis dan misi membina pribadi muslim untuk mencapai akhlakul karimah? Ada apa dengan kawan-kawan HMI? Entahlah, saya tidak berani berspekulasi dengan menjawab pertanyaan saya sendiri, takut dikira tendensius dan pada akhirnya dilaporkan polisi. Hehe

Lantas, bagaimana sikap bijak yang harusnya diambil oleh HMI? Berikut saya sampaikan pandangan pribadi saya yang tidak berada dalam lingkaran HMI.

Pertama,setelah Bung Saut meminta maaf karena mendiskreditkan HMI, maka HMI harus berterima kasih pada Bung Saut. Mengapa demikian? Dalam asumsi saya, Bung saut sebagai pejabat negara tidak mungkin berbicara tanpa data dan fakta. Apalagi Bung Saut menyampaikannya di depan publik, dalam sebuah acara tv yang disiarkan secara live dan disaksikan oleh jutaan pasang mata dari Sabang sampai Merauke. Meskipun, saya juga meyakini bahwa Bung Saut telah melakukan kesalahan berlogika, karena menggeneralisir tindakan sedikit orang dengan menyebutkan nama lembaga sehingga beliau harus meminta maaf dan membersihkan kembali nama HMI.

Kedua, HMI harus merespon ucapan Bung Saut dengan mengevaluasi sistem kaderisasi yang telah ada selama ini –struktural maupun kultural- agar tidak ada lagi alumni yang terjerat kasus kosupsi. Sehingga ke depan, tidak ada lagi ucapan spontanyang mencontohkan HMI untuk tindakan korup seperti yang dilakukan oleh Bung Saut. Mengapa demikian? Karena –masih dalam asumsi saya- ucapan Bung Saut, hanyalah untuk memberi contoh tindak korupsi yang dilakukan oleh orang-orang cerdas, hal ini terbukti dari penggalan kalimat Bung Saut yang berbunyi, “kalau HMI, minimal LKI ”. Tentu, evaluasi semacam ini tidak hanya berlaku untuk HMI, melainkan juga untuk seluruh organisasi mahasiswa ekstra kampus lain. Seperti, PMKRI, GMKI, GMNI, PMII dan lain sebagainya. Sebab, hampir seluruh organisasi mahasiswa ekstra kampus memiliki alumni yang tersangkut korupsi, sehingga saya meyakini bahwa ada yang salah dalam sistem kaderisasi mereka.

Ketiga, daripada mengintruksikan Badko dan cabang HMI se-Indonesia serta menggunakan tenaga ribuan kader untuk meluruk KPK  mengakibatkan terjadinya kebrutalan yang tidak mencitrakan sikap inteketual –organik-, akan lebih baik jika tenaga itu digunakan untuk mendampingi rakyat –khususnya kelompok minoritas- yang mendapatkan banyak sekali permasalahan karena sikap negara yang belum mencerminkan general will rakyat.
Sebut saja kasus Suku Anak Dalam yang masih memperjuangkan tanah kelahirannya, pengungsi Syi’ah di Sidoarjo, Kartini Kendeng di Rembang, kriminalisasi petani Surokonto di kendal, serta kasus-kasus yang dialami oleh kelompok-kelompok minoritas lain.

Saya hanya bisa membayangkan, jika seandainya HMI sebagai organisasi tertua dan terbesar di Indonesia -sebagaimana tercantum dalam web resmi organisasi-berdiri bersama rakyat yang terpinggirkan, pasti akan muncul people power dalam skala besar yang melawan segala bentuk diskriminasi terhadap kelompok minoritas. Ya, ini kan harapan saya sebagai mahasiswa semester dua, tentunya harapan yang bersifat tarojji bukan tamanni. Hehe

Sebagai penutup, mari kita berdoa bersama-sama untuk seluruh organisasi mahasiswa ekstra kampus, agar di masa yang akan datang tidak ada lagi alumni  organisasi mahasiswa yang sangat idealis di masa mudanya, namun tersangkut kasus korupsi ketika sudah menjadi pejabat. ‘Alaa an niyyah ash-sholihah, Alfaatihah..

mahasiswa smester dua yang pengen terkenal kayak senior-senior





Comments

Popular posts from this blog

Lantik Ranting NU se Kecamatan Gunungpati, Kiai Hanif Tunjukkan Peran NU Hadapi Tantangan

Lawan Terorisme, FKPT Jateng Kenalkan Konsep Gemeter

Ragam Aksi Teror, Ika Unnes Sampaikan Pernyataan Sikap

Wow, Seminar Hasil Penelitian Balai Litbang Agama Semarang Ungkap 42 Persen Mahasiswa LDK Setuju Khilafah

FKPT Jateng Ajak Tingkatkan Kewaspadaan Dini Hadapi Terorisme