Kembali Jadi Bahasa ‘Pasar’

Foto: playgoogle.com
‘Kami poetra dan poetri Indonesia mendjoendjoeng bahasa persatoean, bahasa Indonesia’

Kalimat itu pasti akrab bagi insan pergerakan dan ngaktipis, yang orangnya aktif tapi kantongnya tipis, hehe. Ya, itu rekomendasi butir ketiga dalam kongres pemuda pada 27-28 Oktober 1928 tersebut kemudian kita kenal dengan ‘sumpah pemuda’.

Jika Gajah Mada punya ‘sumpah palapa’, pemuda gak kalah mblo, kita punya ‘sumpah pemuda’, dan yang pasti di dalamnya semua adalah pemuda (dan yang ngaku-ngaku muda…hehe). Tujuanya pun tidak jauh berbeda, karena bertekad untuk menyatukan nusantara.

Nah, lantas apa yang menarik dari sumpah itu? Mari kita bredel mblo, ketimbang rame-rame menghujat, memarginalisasi sampai seolah-olah jadi Tuhan dengan menghakimi orang-orang yang suka belok ‘kiri’. Padahal yo opo salahe? Belok ‘kiri’ kan jalan terus kalau di traffic light.

Nah sekarang kita obrolin hal paling mendasar dari aktivitas mengetahui, yaitu bahasa. Karena pentingnya bahasa, semua filsuf posmo pun menguraikan secara apik dalam alur pemikiranya masing-masing. kayaknya gak perlu saya jelasin di sini, karena filsafat adalah urusan pegiat KS Tanda Tanya.

Bahasa Indoensia yang diikrarkan sebagai pemersatu bangsa, saat itu gak pernah ada ndan. Beda dengan eksistensi bahasa Kolonial, Jawa, Sunda, Dayak, Bima dlsb, termasuk dialek-dialek keren seperti kaumku ngapakers. Bahasa Melayupun, yang paling deket dengan bahasa Indonesia juga beda, karena bahasa Indonesia bukan bahasa Melayu. Kasusnya beda mblo dengan bahasa Hebrewyang dihidupkan kembali oleh kaum Yahudi waktu mau mendirikan Israel, bahasa kita adalah bahasa yang diciptakan.

Dalam diskursus sosiolinguistik bahasa kita adalah bahasa pidgin (bahasa yang direkayasa), karena saat itu belum memiliki penutur asli dan kamus standar. Sesungguhnya, bahasa yang kita katakan ilmiah dan baku saat ini adalah bahasa yang digunakan dalam aktivitas jual-beli dipasar, Aku tenanan ki lho Mas/Mbak. Jadi mbok-mbok penjual dan pembeli saat itu menggunakan bahasa yang menjadi cikal bakal bahasa Indonesia. Lah trus opo buktine?, coba difikir! Bahasa Indonesia diikrarkan pada 1928, sementara Sutan Takdir Alisjahbana (Bapak Bahasa Indonesia) baru merumuskan tata bahasa Indoensia pada tahun 1938 hingga akhirnya STA menginisiasikan lahirnya kongres pertama bahasa Indonesia di Solo sebelum era kemerdekaan.

Selama itu bahasa kita masih menjadi pidgin, sebelum akhirnya memiliki banyak penutur asli pasca kongres dan upaya pembinaan yang dilakukan oleh STA hingga terbit edisi pertama KBBI pada tahun 1988, sebagai pengembangan dari kamus bahasa Indonesia yang terbit tahun 1983. Nah saat itulah bahasa Indonesia sudah menjadi bahasa creol (memiliki penutur asli) dan standar (karena memiliki kamus). Betapa luar biasa mbah-mbah kita dulu, berikrar persatuan dengan bahasa resmi yang baru terstandar 55 tahun setelahnya, Ajib to?

Nah sekarang kita bicara soal kekinian mblo, saking kreatif nya, barisan generasi unyu bertekad untuk mengembalikan bahasa Indonesia yang sudah high standard kembali pada wilayah pasar. Fakta-fakta menarik mudah kita temukan kok di Ngaliyan dan sekitarnya. Bahasa gaul cenderung non-standard (vernacular) karena ada perasaan keren, bangga hingga lucu-lucuan. Hal tersebut sejalan dengan pemikiran Suhardianto, Mas dosen dari Universitas Putera Batam tentang beberapa fakta unik bahasa gaul.

Bahasa anak-anak Ngaliyan bisa dirasakan dari kebiasaanya menggunakan penyingkatan (abbreviation). Misalnya dalam komunikasi sehari-hari ada kata PHP (pemberi harapan palsu), OTW (on the way), M2M (makan-makan), OOT (omong-omong tok) dlsb. Cah saiki gak seneng sing dhowo-dhowo. Selain itu, yang sering muncul dalam aktivitas chating di socmed adalah pengahapusan (deletion), contohnya kata gi yang berasal dari kata lagi, kata pa yang berasal dari kata apa, kata mam yang berasala dari maem, dan beberapa contoh yang bisa dicari sendiri.

Terus perubahan huruf dan suara (letter and sound change) mucul pada kata-kata yang biasanya nyeplos dari aktivitas mbribik dan pacaran. Seperti kata sayang yang berubah jadi cayang atau tayang, kata makasih yang berubah jadi makacih atau maacih, atau pada kata semangat mendadak jadi cemungut, yang biasanya disertai dengan kata eaaa.. dan emot lope-lope. Disisi lain, adopsi asal kata dasar (adoption of basic world)pun dapat kita temukan dengan mudah, misalnya kata baby yang berubah menjadi bebeb, kata jalan-jalan menjadi jelong-jelong, atau kata mahal berubah jadi mehong. Nggilani buwangeet to?

Berikutnya adalah singkatan campuran bahasa Inggris atau Bahasa Indonesia seperti kata CoPas (Copy Paste) dan LoLa (Loading Lama) dan yang terkahir adalah konstruksi baru (New Construction). Karena terlalu kreatif, anak-anak cenderungan membuat kalimat baru seperti kata glah-gleh yang diguakan untuk merujuk pada seseorang yang tidak teguh pendirian, bla-bla adalah aktivitas mbribik lewat wejangan yang butuh waktu hingga berjam-jam lamanya, danNe-A adalah istilah untuk pembesuk Tadabur Alam (Acara rutin PMII).

Kesimpulanya, yang penting dalam hati dan nalar kita tidak ada upaya untuk menganggap bahasa Indonesia tidak keren lagi, sehingga diubah-ubah semau kita sendiri. Kalau itu bagian dari kreatifitas bagus dan perlu dilestarikan dengan tetap memahami bahasa Indonesia juga dengan baik, sebagai bahasa perjuangan dan pemersatu bangsa yang telah diperjuangkan dari tidak ada menjadi ada. Bayangke mumeteSTA saat membuat tata bahasa hingga terbit KBBI. Namun tetap jangan lupa untuk juga melestarikan bahasa daerah masing-masing ya, jangan mau dijajah bahasa asing.



           
           



Comments

Popular posts from this blog

Lawan Terorisme, FKPT Jateng Kenalkan Konsep Gemeter

Sarasehan Jurnalistik, Gerakan Santri Menulis Lawan Paham Radikalis

Lantik Ranting NU se Kecamatan Gunungpati, Kiai Hanif Tunjukkan Peran NU Hadapi Tantangan

Bangun SDM dan Tekankan Peran Keluarga dalam Pendidikan

PB PMII Dukung POLRI Berantas Terorisme Sampai Ke Akar-Akarnya