Lucunya penegak khilafah vs konyolnya pembela pancasila



google


Beberapa hari lalu di sebuah kampus Islam Nasionalis (KIN), ada dosen yang ujug-ujug ngaku ikut ndukung penegakkan khilafah di Indonesia. Tentu aja pihak kampus kalang kabut bingung dan gelisah gak ketulungan seolah-olah sedang menerima cobaan berat tiada tara. Sampe-sampe sebuah grup WA Ikatan Korp Alumni Organisasi Pergerakan yang berembel-embel Mahasiswa Islam Indonesia mengutuk keras perbuatan dosen itu. Ini masih mending ngutuk, daripada nyantet.

Buat saya, sikap dosen itu sih biasa aja, malahan kalo mau pake aja kontrakan saya buat negakkin khilafah siapa tahu saya dapet pahala jariyah. Yah seenggaknya kontrakan saya biar ada kegiatan keagamaannya lah, daripada nyampah dan penghuni kontrakan masih buta agama.  Siapa tau sistem khilafah bisa merombak tatanan negara yang bobrok gara-gara gagal mengkonseptualisasikan pancasila, atau sekali lagi saya tegesin, seenggaknya biar penghuni kontrakan pada melek agama...hehe

Kita harus jujur bahwa kita salut dengan keputusan dosen itu yang mau ikut organisasi penegak khilafah demi belajar ilmu agama walaupun kena cibir banyak orang. Saya mau tanya, ada gak di antara kita yang senekat itu belajar agamanya? Jangankan belajar agama, belajar berpakaian rapi aja ogah-ogahan, malahan lebih seneng pake sandal jepit sama kaos oblong dan celana jeans sobek-sobek kalo kuliah, persis kaya orang yang lagi jualan kain rombeng.

Sebatas yang saya tau dari mahasiswa yang bimbingan skripsi dengan dosen itu, katanya dosen itu orangnya baik dan gak pernah nyusahin mahasiswa, malahan kalo ada mahasiswa yang ngerasa kesusahan nggarap skripsi, dosen ini siap jadi garda terdepan buat penanggulangan masalah. Dosen ini Cuma mau berusaha jadi orang baik berdasarkan tuntunan agama yang dia yakini. Kok malah dihujat banyak orang. Udah ketahuan yang ngehujat pasti orang-orang yang pikirannya cetek...

Kemungkinan, semua pengikut gerakan penegakkan khilafah di indonesia persis kayak dosen itu pas pertama ikut. Mereka ingin mendalami agama secara kaffah, mereka jengah dengan pembelajaran agama yang mencampur adukkan budaya lokal. Apalagi ormas-ormas agama yang katanya menjaga tradisi dan pancasila justru ikut bancakan aset negara, mereka berkoalisi dengan pemerintahan thoghut yang seharusnya dilawan. Mereka ngerasa kejebak dengan tradisi yang gak ada sangkut pautnya dengan kemurnian islam.

Kita harus percaya bahwa pemeluk agama yang baik adalah orang yang menebar kebaikan di manapun ia berada. Bahkan kalo bisa pribadi-pribadi baik yang agamis harus masuk mengganti sistem negara yang bobrok ini. Kita camkan ini baik-baik...

Cerita selanjutnya bisa ditebak, dosen itu diancam dipecat kalo gak keluar dari organisasi yang menyerukan penegakkan khilafah. Gimana respon dosen itu? Wallahua’lam, kita tungggu aja kisahnya.

Nah perilaku keagamaan ekstrem kayak gini emang jadi phobia tersendiri buat para pecinta dan penegak pancasila. Mereka ketakutan kalo nanti pancasila bakal digantiinsama sistem khilafah. Persis kayak para purnawirawan jendral yang takut kehilangan hegemoni gara-gara muncul komunisme “gaya baru”.

Saya yakin-seyakin-yakinnya dengan besarnya cinta mereka dengan pancasila. Buktinya mereka dengan sigap ngerespon “dosen khilafah” itu tanpa pertimbangan apapun. Gak pake dialog-dialog segala, gak penting itu dialog.

Lho kan kampus ini lembaga akademik yang harus mengedepankan forum dan kajian ilmiyah. Gak tau deh, mungkin aja pak rektor lupa, atau memang gak perlu forum ilmiyah buat dosen penegak khilafah yang jelas-jelas pengin nyopot pancasila dari muka bangsa ini.

Kita harus maklum, sebagai pecinta pancasila sejati pak rektor tau apa yang harus dia lakukan. Karena kalo pak rektor membuka forum dialog malah Cuma membuka kesempatan buat dosen itu mengampanyekan khilafah secara gratis. Miris kan...

Lho kan bisa tabayyun secara pribadi gak usah di forum besar. Gak usah tabayyun secara pribadi juga, entar malah pak rektor jatuh cinta lagi sama dosen itu.

Pokoknya kami pecinta pancasila berprinsip NKRI harga mati, Pancasila jaya, Indonesia Raya(han)...!!! begitu yang digelorakan pak rektor persis kaya gerombolan preman yang mbubarin nonton film Pulau Buru Tanah Air Beta di Purbalingga.

Tapi, setelah ngowos kaya gini, siapa yang nyugihi rokok sama udud ya... kecut nih mulut...


Comments

Popular posts from this blog

Lawan Terorisme, FKPT Jateng Kenalkan Konsep Gemeter

Sarasehan Jurnalistik, Gerakan Santri Menulis Lawan Paham Radikalis

Lantik Ranting NU se Kecamatan Gunungpati, Kiai Hanif Tunjukkan Peran NU Hadapi Tantangan

Bangun SDM dan Tekankan Peran Keluarga dalam Pendidikan

PB PMII Dukung POLRI Berantas Terorisme Sampai Ke Akar-Akarnya