Palu dan Arit Itu...


Dua benda yang menyimbolkan masyarakat pekerja, palu menandakan getirnya jadi buruh dan arit menandakan gerahnya jadi petani.  Tapi, di era modern ini fungsi dua benda itu sudah digantikan dengan alat-alat pembantu kerja yang sangat canggih. Orang tua saya juga sudah lama tidak menggunakan dua benda itu, mereka lebih suka memakai mesin gebas saat memanen padi. Paling bapak saya memakai palu kalo ingin membuat peralatan perlengkapan rumah tangga, itupun jika diminta ibu.


Dulu kakek saya punya banyak koleksi palu dan arit, ada banyak, ada yang besar ada pula yang kecil, tergantung kegunaan masing-masing. Saya sering mainan kedua benda itu, bahkan saya sering berkreasi membuat layangan, mobil-mobilan, kapal-kapalan dengan dua benda itu. Dua benda itu memang sangat vital untuk menyelesaikan pekerjaan bagi keluarga kecil seperti kami. Untuk membuat banyak perlengkapan rumah, tak mungkin kami memesannya di toko meuble. Kami hanya butuh sepotong kayu dan dua benda itu untuk “mencetak” kursi, bangku atau dipan.


Beda dengan si juragan yang ada di desa kami, dia sih enak, butuh peralatan apa saja tinggal beli. Tapi si juragan itu gak punya palu dan arit, mereka malah sering meminjam dengan kami kalau sedang butuh. Anak-anak juragan itu juga takut dengan dua benda itu, mereka bilang “bahaya”, nanti kalo kena bisa sakit.


Palu dan arit sudah sangat membantu proses “pembangunan” keluarga kami. Tapi sekarang dua benda itu sudah karatan, palunya sudah longgar dan ringan, sedangkan aritnya sudah tumpul karena gak pernah diasah. Sekarang dua benda itu aku taruh di gudang belakang, tempat koleksi barang-barang lama.


Palu dan arit, simbol peradaban yang sederhana.

Comments

Popular posts from this blog

Sarasehan Jurnalistik, Gerakan Santri Menulis Lawan Paham Radikalis

Bangun SDM dan Tekankan Peran Keluarga dalam Pendidikan

PB PMII Dukung POLRI Berantas Terorisme Sampai Ke Akar-Akarnya

Tebarkan Kasih di Gersangnya Hati

Lawan Terorisme, FKPT Jateng Kenalkan Konsep Gemeter