Sakit Pancagila karena Dipelintir



foto:nendangbanget.net

Sebagai Ideologi negara, Pancasila wajib untuk selalu dikumandangkan. Negara tanpa sebuah ideologi yang jelas, menjadikan negara itu mandul dan kering. Tapi apa pelak, ketika sebuah ideologi dipelintir sedemikan rupa menjadi ajaran yang kaku dan kasar, bukan pada ideologinya tapi pada tafsir dimana ideologi hanya sebatas norma tertulis yang mati.

Ya, Pancasila hanyalah lima baris tulisan yang jika ditulis oleh petani miskin tanpa daya juang teks itu tak akan dihayati banyak orang. Lima baris ini diperdebatkan, dirumuskan, kemudian ditulis oleh sekelompok tokoh revolusi sehingga wajar jika lima baris ini dihayati sedemikian rupa oleh segenap tumpah darah bangsa. Ingat baik-baik, itu hanya lima baris, tidak lebih. Karena yang lebih-lebih itu hanya tafsirannya, tafsirannyapun mesti harus ditafsiri lagi, ditafsiri lagi, ditafsiri lagi, terus seperti itu hingga menyentuh kenyataan masyarakat Indonesia yang sesungguhnya.

Namun apa jadinya jika tafsir pancasila dipelintir?

Ah, soal pemelintiran agaknya kita tak bisa menuduh siapapun. Karena pemelintiran sifatnya halus, tidak kentara. Pemelintiran sifatnya seperti angin, dia sangat terasa tapi tak terlihat. Seperti balon udara yang menggelembung diisi udara tapi kita tak bisa menunjuk udara itu seperti apa persisnya, seperti iulah pemelintiran.

Kita yang awam, yang memang pengetahuannya dibatasi oleh kekuasaan, tak akan mampu menunjuk siapapun sebagai pemelintir pancasila. Kita hanya bisa merasakan, menggerutu, ingin melawan, tapi akhirnya hanya kentut saja yang bisa kita keluarkan. Kita hanya bisa melawan udara wangi pemelintiran dengan bau kentut busuk agar wangi itu hilang dari peredaran. Tapi apa daya, kentut kita hanya seuprut bau saja, sementara udara wangi itu semakin semerbak dirundungi parfum dan pesona bunga kuasa.

1 juni 1945, tokoh-tokoh revolusi itu berkumpul mempersiapkan lahirnya bangsa yang baru. Mereka ingin memberi sebuah tanda lahir agar bangsa ini kelak tak lupa dengan akar sejarahnya. Mereka merenungi seluruh sejarah bangsa yang semenjak berabad-abad silam sudah memiliki nilai-nilai agung. Tercetuslah lima baris itu yang menggambarkan kedigdayaan dengan kerawuhan gusti serta kemanunggalan bangsa dengan persatuan, keadilan, dan musyawarah yang mengambil intisari dari kitab Sutasoma karya empu tantular. Empu tantular menyebutnya negara kertagama gemahripah loh jinawi toto tentrem karto raharjo yang menjiwai persatuan dan ketuhanan yang ditujukan untuk kesejahteraan dan kebahagiaan seluruh tumpah darah bangsa.

Bangsa ini dimitoskan sebagai negara adiluhung, kuat tak tertanding serta adil tanpa ada penindasan.

Namun setelah 30 September 1965, apa yang terjadi? Pemelintiran itu terjadi, hari setelahnya 1 oktober dijadikan tanda kesaktian yang membuat sebagian anak bangsa ternistakan. Anak bangsa ini dituduh menghianati saudaranya sendiri, dituduh makar, dan dituduh tak beragama. 1 oktober yang kelam, karena pancasila telah dipelintir menjadi remasan milik penguasa jagal.

Semenjak itu, makna pancasila tak lagi persis seperti pertama kali dilahirkan. Pancasila justru dibuat untuk menutupi sejarah kelam yang dialami bangsa ini. Sekarang, pancasila sedang kesakitan karena dipelintir terus-menerus…


Comments

Popular posts from this blog

Sarasehan Jurnalistik, Gerakan Santri Menulis Lawan Paham Radikalis

Bangun SDM dan Tekankan Peran Keluarga dalam Pendidikan

PB PMII Dukung POLRI Berantas Terorisme Sampai Ke Akar-Akarnya

Tebarkan Kasih di Gersangnya Hati

Lawan Terorisme, FKPT Jateng Kenalkan Konsep Gemeter