Sedikit-Sedikit Komunis, Komunis Kok Sedikit-Sedikit!


Foto: simomot.com
 “Ingat!!! Tulisan ini bukanlah tulisan ilmiah, teoritis tur akademis, namun tulisan ringan berfaham humoris sebagai teman saat anda ‘ndodok’ sambil merokok. Apabila ada kesamaan tokoh, tempat dan cerita, itu disengaja, sekian dan iqro,!”

Sadar betul bukan sebagai seorang yang fasih berkhutbah tentang sejarah layaknya aktivis paling heroik sejagad raya, Abdul Gopang putra Sang Nasikin. Ataupun seorang yang hafidz ratusan isme atau ideologi di dunia bak para profesor ngeprof.com. Saya hendak mengatakan bahwa saya masih merasa memiliki satu harta paling berharga, yakni The Power of Paketan.

Begini bro/sis, sebagai seorang yang masih dikaruniai paketan data oleh Allah SWT untuk menengok beberapa informasi di sosial media untuk dijadikan hiburan sekaligus penambah wawasan dan pengetahuan, saya bisa mengakses berbagai informasi dan pengetahuan, mulai dari foto selfi dan narsis ukhti-ukhti emezzz dengan segenap aktivitas mereka sampai postingan para pejuang atau aktivis yang berdiri setia mendampingi kaum tertindas, dan akhir-akhir ini, saya mencoba melakukan hitung-hitungan kasar tentang trending topic yang ramai diperbincangkan di beranda facebook saya. 

Wal hasil, survey membuktikan, teman facebook saya 40% sedang membincangkan aktivitas mereka masing-masing, 25% ramai berkomentar tentang polahkader (fa)HMI(as sidiqi), dan sisanya, 35%, berita dan obrolan seputar bangkitnya PKI yang merepresentasikan penganut faham komunisme (yang pernah ada) di Indoensia.

Dari sinilah saya ingin mengecrotkan tinta di laptop (kredit) saya tentang fenomena ramainya isu bangkitnya faham komunisme di facebook. Mengapa saya lebih memilih fenomena yang terakhir ini, sederhana saja, karena dari ketiga hasil survey saya, fenomena ini yang memiliki prosentase paling tengah dintara dua fenomena lainnya. Aswaja (tawassut) banget bukan?

Dalam bukunya yang berjudul “Sarinah”, Soekarno muenlis: “Imperialisme Belanda pada waktu itu baru saja mengamuk tabularasa di kalangan kaum Komunis, PKI dan Sarekat Rakyat dipukul dengan hebatnya, ribuan pemimpinnya dilemparkannya dalam penjara dan dalam pembuangan di Boven-Digul. Untuk meneruskan perjuangan revolusioner, maka saya mendirikan Partai Nasional Indonesia.” Dari pernyataannya, minimal ada dua hal yang bisa saya peroleh berkaitan dengan PKI atau Komunisme.

Pertama, gerakan kaum Komunis melawan para penjajah berpengaruh secara sosial atas lahirnya Partai Nasional Indonesia milik Bapak Proklamator Indonesia. Kedua, ini membuktikan bahwa mereka (baca; Kaum Komunis) merupakan salah satu elemen penting yang ikut memperjuangkan kemerdekaan Republik Indonesia atau dalam istilah Soekarno telah melakukan perjuangan revolusioner. Tidak menjadi sebuah keraguan tentunya jika kita menyematkan label para pejuang atau pahlawan kepada mereka.

Jika di buku “Sarinah” Soekarnno memuji perjuangan kaum Komunis dengan istilah revolusioner, hari ini Komunisme dihujat habis-habisan seperti empat belas pemuda mabuk yang telah memperkosa gadis yang masih unyu-unyu. Komunisme, sekarang, layaknya zombie yang bergentayangan menghantui bangsa ini. Hampir tak ada lagi ruang di negeri ini untuk ideologi yang dianggap menakutkan ini. Sebuah anomali yang patut kita curigai. Tentu ini berkaitan erat dengan tragedi 1965 dan berdirinya rezim orde baru (nah, untuk lebih jelasnya, para fans dan pembaca www.ngeprof.com bisa mulai rajin-rajin membaca buku seperti Kekerasan Budaya Pasca 1965 karya wijaya Herlambang atau buku, artikel, esai yang berisi tentang tragedi 1965 lainnya).

Kembali ke face......book. Berita-berita yang menghadirkan terkait larangan menggunakan simbol palu dan arit, atau video yang menayangkan pemukulan dan intimidasi terhadap seseorang yang memakai pin berlambang palu arit, setidaknya ingin menghadirkan gambaran betapa bahayanya simbol Partai Komunis ini. Intimidasi dan teror yang sedemikian rupa seakan-akan menghendaki agar masyarakat semakin takut dan menjauhi Komunisme tanpa taaruf lebih dekat dengannya.

Seringkali gerakan rakyat yang berusaha mempertahankan hak-hak dan kedaulatannya, agenda-agenda perjuangan kaum buruh dan tani, diskusi dan bedah film yang mencoba mengungkapkan kebenaran, atau buku-buku ilmiah yang progresif-revolusioner akan dicap sebagai antek-antek dan sinyal kebangkitan Komunis. Duh, sedikit-sedikit kok Komunis.

Bahkan bisa saja jika anda memasang foto bapak anda yang sedang ngaritatau foto si revoluisoner gendut ndan Pi'i saat memegang palu untuk memperbaiki paku centelan celana dalamnya di DP BBM atau PP facebook, atau mengenakan celana dalam berlogo seperti bentuk palu dan arit, mungkin anda akan dituduh sebagai Reinkarnasi D.N. Aidit. Bayangkan saja, mosok Sapii adalah reinkarnasi D.N. Aidit, bukankah dia reinkarnasi Panglima Tian Feng yang menjalani hukuman 1000x patah hati? Hahaha...

Apabila memang benar petani melawan ketidakadilan, buruh menuntut keadilan, atau segala aktivitas revolusioner lainnya dianggap sebagai kebangkitan Komunis,  maka, semoga semakin menjalar ke seluruh basis masyarakat. Komunis kok sedikit-sedikit!

Comments

Popular posts from this blog

Lantik Ranting NU se Kecamatan Gunungpati, Kiai Hanif Tunjukkan Peran NU Hadapi Tantangan

Lawan Terorisme, FKPT Jateng Kenalkan Konsep Gemeter

Sarasehan Jurnalistik, Gerakan Santri Menulis Lawan Paham Radikalis

Ragam Aksi Teror, Ika Unnes Sampaikan Pernyataan Sikap

PB PMII Dukung POLRI Berantas Terorisme Sampai Ke Akar-Akarnya