Stoicisme Jomblo


Saya, begitu juga panjenengan, kerap menemu sebutan menarik bagi jomblo di medsos. Baik sebutan itu untuk menambah level percaya diri seorang jomblo, mencela jomblo, atau menertawakan kehidupan seorang jomblo. Sebutan-sebutan ini semakin banyak di unggah ke medsos terutama saat malam Minggu tiba.
Sekurang-kurangnnya sebutan yang pernah saya temui adalah: Jomblo high quality, Jones (jomblo ngenes), Jomblo tapi hapal pancasila, STMJ (semester tua masih jomblo), Jojoma (jomblo-jomblo manis), dan lain-lain yang boleh anda teruskan sendiri.
Meski pemuka-pemuka jomblo kemudian juga pandai berdalih atas sebutan tersebut. Salah satunya adalah dengan membedakan istilah ‘jomblo’ dengan ‘single’. Katanya, ‘jomblo’ adalah keadaan sendiri karena tiadanya pilihan (akibat nasib) sedangkan ‘single’ adalah keadaan sendiri karena sebagai pilihan (kehendak bebas).
Dan dapat ditebak, segolongan jomblowan dan jomblowati merasa lebih terhormat ketika bisa menegaskan diri; “Saya single, bukan jomblo, lho!”
Ah, sudahlah, mblo.
Pembedaan ini bagi saya tidak ada bedanya dengan pembedaan ngawuriyah antara ‘kawin’ dan ‘nikah’. ‘Kawin’ itu bukan ber-ehem di luar nikah. Dan ‘nikah’ itu ber-ehem setelah akad nikah. Lah wong undang-undang kita menyebutnya dengan undang-undang Perkawinan, bukan undang-undang pernikahan. ‘Nikah’ itu dicomot dari bahasa Arab, sedangkan ‘kawin’ berakar dari bahasa Sansekerta. Paham?

Begitu juga dengan ‘jomblo’ dan ‘single’, intinya ya sama. Sama-sama tanpa pasangan. Kog malah minta dibeda-bedain gitu. Duh…

Saya itu malah lebih kagum ketika melihat jomblo yang jujur nan lugu di medsos. Seperti biasa, ketika malam minggu tiba, ia dengan lugunya akan buat meme “sandalku nembe ilang, gak iso lungo” dan ketika malam Senin tiba, ia akan ganti dengan meme baru “sandalku wes ketemu, nembe iso lungo”. Atau ada yang jujur begini: ”eh ono sing takon aku neng endi bengi iki, jawaben aku neng masjid. Pengajian”. Kan asu tenan jomblo iki. Huahahaha….

Daripada jomblo terus-menerus membela diri dengan alibi-alibi tersebut dan pura-pura tegar menghadapi kenyataan (pura-pura bahagia itu bikin laper, lho!). Saya punya usulan bagi saudara sebangsa dan setanah air, jomblowan dan jomblowati. Satu aliran dalam filsafat yang tidak saja dapat digunakan sebagai pandangan hidup tetapi juga sebagai jalan hidup seorang jomblo.
Namanya: Stoicisme.
Aliran filsafat ini diajarkan oleh Zeno dari Citium. Nama aliran ini diambil dari ruang terbuka dekat Agora, tempat berkumpul masyarakat Athena. Karena ruang terbuka tersebut memiliki sejumlah pilar yang bercat warna-warni (Stoa Poikile) dan Zeno mengajarkan pengetahuannya di tempat tersebut. Ajaran Zeno kemudian dikenal dengan nama Stoicisme. Tokoh-tokoh dalam Stoicisme antara lain adalah Cicero, orator terkenal dan Marcus Aurelis, kaisar romawi.

Tapi saya tidak bermaksud membincang tentang Stoicisme secara mendalam disini, saya hanya akan mengutip satu pandangan hidup kaum Stoa yang semoga mampu menguatkan kehidupan seorang jomblo. Iya, demi kamu, mblo!
Emotion is the error of reasoning (perasaan adalah kekeliruan berpikir)
Dalam pandanga kaum Stoic, hidup adalah usaha menselaraskan diri dengan semesta. Agar manusia mampu selaras dengan semesta maka manusia harus mampu memperentasikan kenyataan secara benar. Cara mempresentasikan kenyataan secara benar bagi Stoic adalah dengan tidak memberikan penilaian pada kenyataan tersebut.
Saya kasih misal: Jika kamu melihat mawar putih, katakan saja jika kamu melihat mawar putih. Jangan kamu bilang telah melihat mawar yang indah dan kemudian kamu merasa senang, ini namanya penilaian.
Misal satu lagi,
Jika seorang sahabat dekat kamu meninggal, maka janganlah kamu merasa sedih karena merasa kehilangan. Ini kamu keliru dalam memperesentasikan kenyataan karena kamu memberikan penilaian. Bilang saja: Makhluk yang mortal itu bisa mati dan sekarang mati. Begitu saja.
Simpelnya: perasaan sedih, senang, kecewa, marah, cinta, cemburu atau kesepian adalah akibat dari salah mempresentasikan kenyataan. Kenyataan-kenyataan yang terjadi adalah kenyataan yang memang seharusnya terjadi. Setiap manusia itu sekedar menjalankan bagian yang semesta berikan padanya diantara jutaan bagian lainnya. That’s it. Itulah harmoni.
Paham mblo?
Jadi mulai malam ini, tinggalkan perasaan galau, merasa sendiri, merasa dunia tidak adil dan perasaan melankolis lainnya. Jadilah seorang stoic! Dengan tangal terkepal dan maju ke muka, katakan: Saya terlahir jomblo, menjalani hidup dengan jomblo, dan bisa jadi mati dalam keadaan jomblo. Ini kenyataan. Dan saya tidak perlu merasa sedih atau minder. Karena itu adalah cara berpikir yang keliru! Dan saya tolak itu!
Merdeka!!!
Nb: Oiya saya lupa kasih info, ajaran Zeno ini diajarkan abad ke-3 sebelum Masehi. Saya pikir ini masih cocok bagi jomblo abad itu. Tapi bagi abad ini masih cocok gak ya ditengah ribuan perempuan-perempuan semelohe macam Dian Sastro, Jessica Mila dan dek Chelsea Islan. Huahahaha
*M. Risya Islami                        

Comments

Popular posts from this blog

Lantik Ranting NU se Kecamatan Gunungpati, Kiai Hanif Tunjukkan Peran NU Hadapi Tantangan

Lawan Terorisme, FKPT Jateng Kenalkan Konsep Gemeter

Sarasehan Jurnalistik, Gerakan Santri Menulis Lawan Paham Radikalis

Ragam Aksi Teror, Ika Unnes Sampaikan Pernyataan Sikap

PB PMII Dukung POLRI Berantas Terorisme Sampai Ke Akar-Akarnya