Aku Rita, Aku Butuh Bantuan...!!!

Sejumlah warga Ponorogo melakukan aksi keprihatian terhadap Rita dengan menyulut lilin di depan kantor DPRD Ponorogo. (Abdul Jalil for Ngeprof.com)
Masyarakat Indonesia, khususnya warga Kabupaten Ponorogo, Jawa Timur, pada tanggal 30 Mei 2016 dikejutkan dengan Rita Krisdianti, tenaga kerja wanita (TKW) asal Kota Reog yang divonis hukuman gantung atau mati di Pengadilan Penang, Malaysia. Rita mendapat vonis hukuman mati karena kedapatan membawa empat kilogram sabu-sabu oleh polisi diraja Malaysia di Bandara Bayan Lepas, Penang pada 10 Juli 2013.

Kasus persidangan Rita memakan waktu yang cukup lama dan pengadilan memutus Rita bersalah dengan diberi hukuman mati pada 30 Mei 2016. Sebelum vonis dibacakan, malamnya keluarga Rita di RT 001/RW 002, Desa Gabel, Kecamatan Kauman, Ponorogo, menggelar doa bersama dengan harapan Rita bisa dibebaskan dari segala tuntutan. Ternyata Tuhan berkata lain, Rita harus lebih lama tinggal di jeruji penjara Malaysia.

Rita sebenarnya TKW di Hong Kong, namun setelah kontraknya habis, Rita kemudian terkatung-katung di Hong Kong. Hingga Rita berkenalan dengan seseorang yang menawarkan pekerjaan di Makau. Kemudian Rita menyetujuinya dan mereka memulai berbisnis. Rita diminta untuk ke New Delhi, India untuk mengambil titipan tas.

Dalam berbisnis itu, Rita dilarang membuka isi tas hingga diterima pihak yang telah ditentukan. Selanjutnya Rita berada di Malaysia dan tertangkap petugas bandara dengan mendapati tas dari New Delhi terdapat empat kilogram sabu-sabu.

Nasib nahas Rita sebagai seorang buruh migrant yang ingin mencari rejeki di luar negeri kandas seketika. Rita harus berurusan dengan kepolisian dan hukum di Negeri Jiran.

Kondisi yang dialami Rita sebenarnya hampir mirip dengan kasus Mary Jane Fiesta Veloso, terpidana mati kasus narkotika di Indonesia. Tetapi, beruntung Mary Jane yang telah divonis hukuman mati pada 2010, hingga kini Mary Jane masih bisa bernafas, bahkan pada 10 Januari 2016 lalu dia merayakan ulang tahun ke-31 di penjara Yogyakarta.

Pemerintah Filipina untuk menyelamatkan warganya yang telah divonis bersalah itu juga tidak tanggung-tanggung. Selain mengajukan banding hingga kasasi, dengan hasil yang sama pengadilan Indonesia tetap menghukum Mary Jane dengan hukuman mati. Pada bulan Agustus 2011, Presiden Benigno S Aquino III mengajukan permohonan grasi atas nama Mary Jane ke Presiden Susilo Bambnag Yudhoyono. Namun, karena saat itu Indonesia memberlakukan moratorium eksekusi dan permintaan grasi, sehingga permintaah Presiden Filipina itu tidak ditindaklanjuti. Dilanjutkan pada 2014, Pemerintah Indonesia yang digawangi Presiden Jokowi juga menolak grasi terpidana narkoba.

Meski ditolak, pemerintah Filipina melalui pengacara yang disewa juga mengajukan permintaan peninjaukan kembali. Selain itu, Presiden Filipina dalam kunjungan kenegaraan awal 2016 juga menyinggung kasus Mary Jane.

Pemerintah Filipina dalam menyelamatkan warga negaranya yang akan dihukum mati di negara lain telah melakukan berbagai hal mulai hukum hingga diplomasi antardua negara.

Saat ini, Rita sangat berharap kepada pemerintah Indonesia untuk mengupayakan kebebasannya dan tidak mendapat hukuman gantung. Pemerintah Indonesia masih bisa mengajukan banding atas vonis itu, dan kasasi jika diperlukan.

Berkaca pada kasus Mary Jane, pemerintah nampaknya perlu menyelesaikan permasalahan ini dengan dukungan diplomatik antar kedua negara. Campur tangan pemerintah dalam kasus ini bisa menjadi harus ada dan berupaya semaksimal mungkin. Seperti Presiden Filipina Aquino, Presiden Jokowi juga harus memperbincangkan kasus Rita dengan pemerintah Malaysia.

Dalam kasus narkoba, kita semua sepakat bahwa pengedar harus dihukum berat. Tetapi, dalam kasus ini tentu lain, Rita bukan lah seorang pengedar, pengguna, apalagi bandar narkoba. Rita adalah korban keganasan mafia narkotika internasional yang memamnfaatkan ketidakberdayaannya di negeri orang.

Negara harus hadir dalam kasus ini memberikan jaminan kemanan warganya yang menunggu ajal di negeri orang. Rita adalah salah satu bentuk nyata negara belum mampu memberikan kesejahteraan hidup kepada warganya. Fenomena TKI yang berkasus di negara tempat mereka bekerja itu seperti fenomena gunung es, tentu Rita hanya deretan kenestapaan anak negeri kaya yang bernama Indonesia.

Banyaknya TKI yang bekerja di luar negeri itu menunjukkan bahwa negara belum bisa memberikan kesejahteraan kepada warganya, sehingga mereka harus ke negara lain untuk mencari sesuap nasi. Mayoritas alasan TKI pergi ke luar negeri adalah karena mereka kesulitan mencari pekerjaan di Indonesia, kalau pun ada gajinya sungguh tidak manusiawi.

Mereka berinisiatif pergi ke luar negeri untuk mencari kesejahteraan di luar kewajiban negara dan mereka juga diagungkan sebagai pahlawan devisa yang menyokong sendi kehidupan pemerintahan. Seharusnya, ketika ada TKI yang bermasalah di negeri tempatnya bekerja, pemerintah juga harus getol untuk menyelamatkan.

Dari buku Tanggung Jawab Negara yang saya kutip menjelaskan terdapat dua fungsi yang harus dijalankan negara, yaitu fungsi keamanan dan fungsi kesejahteraan. Fungsi keamanan negara berasal dari ide bahwa negara merupakan antithesis dari kondisi anarki yang dianggap menjadi karakter alami masyarakat dan sistem internasional.

Negara juga memiliki fungsi kesejahteraan, karena negara merupakan entitas yang dibentuk untuk memberikan kesejahteraan bagi warga negaranya. Negara dipercaya mempunyai kemampuan untuk mendistribusikan sumber daya nasional untuk menciptakan kesetaraan dalam masyarakat atau keadilan sosial..

Atas dasar fungsi itu, negara wajib hadir untuk menyelamatkan Rita dari ancaman hukuman gantung, syukur-syukur Rita bisa bebas dan kembali ke Tanah Air. Ketika negara gagal dalam menjalankan menyelamatkan dan mensejahterakan warga negaranya, tentu patut dipertanyakan pemerintah dalam menjalankan fungsi negara.

Apa yang telah dilakukan Presiden Filipina dalam melakukan upaya penyelamatan terhadap warganya yang terkena kasus di negeri orang patut dijadikan contoh Presiden Indonesia. Selain menggunakan kekuatan perlindungan hukum mulai dari banding hingga kasasi, pemerintah juga harus bersiap diri untuk melakukan pembicaraan diplomatik dengan pemerintah Malaysia menyoal nasib Rita.

Indonesia merupakan bangsa yang besar, gunakan pendekatan politis atau kalau perlu himpun kekuatan dari negara-negara sahabat untuk mengintervensi pemerintah Malaysia. Dengan satu tujuan menyelamatkan nyawa warga negara yang terkatung di negeri orang.

Karena sesungguhnya nyawa adalah segalanya. Tidak ada yang bisa membuat nyawa kecuali sang Khalik.

Rita, kamu harus mempersiapkan diri untuk dua hal, bersiap diri untuk mendapatkan pembelaan dari negara dan bersiap diri dikecewakan negara. Kami berdoa semoa engkau tetap sehat dan tabah di balik jeruji besi negeri jiran. 


*Abdul Jalil (Jurnalis di Pacitan, Jawa timur)

Comments

Popular posts from this blog

Lawan Terorisme, FKPT Jateng Kenalkan Konsep Gemeter

Sarasehan Jurnalistik, Gerakan Santri Menulis Lawan Paham Radikalis

Lantik Ranting NU se Kecamatan Gunungpati, Kiai Hanif Tunjukkan Peran NU Hadapi Tantangan

Bangun SDM dan Tekankan Peran Keluarga dalam Pendidikan

PB PMII Dukung POLRI Berantas Terorisme Sampai Ke Akar-Akarnya