Bangkit Menggalang Dana atau Duduk Nonton Berita Bencana


foto:berita.suaramerdeka.com

Lihat mereka-mereka terkapar,
korban dari mengganasnya alam,
gedung-gedung jadi urugan tanah,
sawah-ladang rusak berantakan,
seisi negeri jadilah amarah,
tersisa hanya puing kehancuran,
banyak jiwa tertimbun mati,
sanak saudara hilang entah kemana,
sungai jadi lautan darah,
yang terdengar jerit merintih,
(Timur tragedi – power metal)

Assalamu’alaikum pemirsa ngeprof. sengaja artikel ini saya buka dengan beberapa bait lagu timur tragedi dari power metal. Lagu itu emang lagu rock yang kadang-kadang bagi para pecinta musik dangdut dan pop gak bisa fokus memperhatikan liriknya. Tapi seenggaknya, saya yang emang gandrung sama musik cadas ingin menyampaikan makna terdalam dari lagu itu. Di sini saya tautkan lagunya, semoga bisa menikmati.

Ngomongin soal power metalnya dikit aja ya, semoga dengan lagu itu para pemirsa ngeprof bisa “kenalan” sama grup band tahun 80-90 an yang suka ngeritik rejim orba dengan lagu-lagu yang sarat makna-makna sosial itu.

Nah, berkenaan dengan lirik lagu itu, beberapa waktu lalu, mungkin sekitaran semingguan lah, saudara kita di Purworejo kena musibah longsor. Tentu kita sebagai saudara sebangsa dan setanah air, dan lebih dalam lagi atas nama kemanusiaan, pasti merasakan empati. Apalagi bertepatan dengan bulan suci ramadhan.

Sebagai manusia yang secara alamiah memiliki nurani kebaikan, begtu kata JJ rousseou, hati kita pasti tersentak mendengar kabar bencana itu. Dan bagi kita yang berjarak jauh dari TKP, pasti kesulitan untuk memberikan pertolongan. Ini persis seperti yang saya rasakan, hati ini bener-bener terpanggil untuk memberikan pertolongan, tapi apa daya, jarak jualah yang menghambat rasa empati saya. Akhirnya apa yang saya sampaikan pun hanya sekedar omdo (omong doang).

Begitupun yang dirasakan oleh para aktifis pergerakan yang berdomisili di kota-kota besar, wabil-khusus kota semarang tempat saya duduk dan berbaring. Aktifis-aktifis di sini merasakan kepedulian dan empati yang dalam kepada para korban bencana itu. Tapi mereka tidak mungkin pergi ke TKP. Lha gimana mau kesana, wong aktifitas mereka di semarang juga banyak. Selain melaksanakan agenda rutinan Ramdhan, mereka juga harus melaksanakan beban akademiknya di kampus, karena mayoritas aktifis adalah mahasiswa. Apalagi udah memasuki masa-masa UAS.

dengan seabrek agenda yang “menghambat” aktifitas kemanusiaan, akhirnya para aktifis ini mengambil “jalan pintas” untuk mempermudah niat mereka menyampaikan pesan kemanusiaan, yaitu dengan melakukan penggalangan dana. Mereka melakukan penggalangan dana di jalan-jalan protokol, lampu merah, atau mendatangi rumah-rumah pernduduk satu-persatu.

Tapi sayangnya apa yang mereka lakukan ini terkadang mendapat nyinyiran dari sebagian masyarakat, bahkan dari senior-senior mereka sendiri. Kebanyakan yang nyinyir itu bilang gini “emang gak ada cara lain apah?” atau “mau nolong orang kok ya jadi pengemis dulu”.

Waduh, kasihan banget aktifis-aktifis itu, mereka udah merelakan waktu dan tenaga demi memberikan pertolongan, tapi malah yang didapet Cuma nyinyiran.

Sekarang begini deh, kira-kira kalo ada pertanyaan “bagaimana cara menolong orang dengan jarak jauh?” kira-kira kita bisa njawab apa. Masa iya kita harus diskusi dulu, telat kali nolongnya.

Emang bener, yang namanya penggalangan dana di jalan-jalan itu terkesan mengganggu lalu-lintas, sama kayak pengemis-pengemis yang lain. Tapi om-om dan tante-tante, penggalangan dana itu beda sama ngemis. Kalo ngemis itu “menggalang dana” untuk kebutuhan pribadi, bahkan udah jadi profesi bagi para pelakunya, tapi penggalangan dana untuk kemanusiaan itu beda. Penggalngan dana ini demi kemanusiaan dan bukan untuk kebutuhan orang yang menggalang dana. Dan memang menggalang dana itu sifatnya mendesak, apalagi ditambah jarak yang jauh kelokasi bencana.

Laguian ya kalo kita merujuk ke teori utilitas, jika kita melihat ada bencana, maka kita harus segera melakukan sesuatu untuk menolong korban bencana itu. Apapun harus kita lakukan demi kebaikan. Saya tambahkan lagi, menurut Jeremy Bentham, lakukanlah apapun yang berguna dan mengurangi penderitaan. Dan sekarang, ketika terjadi bencana longsor, apa yang bisa kita lakukan untuk mengurangi penderitaan para korban? Kalo ada yang lebih cepat dan efektif selain penggalngan dana, silakan sebutkan…!!

Masa iya kita Cuma nonton berita bencana tapi gak melakukan apa-apa sama sekali.

Comments

Popular posts from this blog

Lantik Ranting NU se Kecamatan Gunungpati, Kiai Hanif Tunjukkan Peran NU Hadapi Tantangan

Lawan Terorisme, FKPT Jateng Kenalkan Konsep Gemeter

Ragam Aksi Teror, Ika Unnes Sampaikan Pernyataan Sikap

Wow, Seminar Hasil Penelitian Balai Litbang Agama Semarang Ungkap 42 Persen Mahasiswa LDK Setuju Khilafah

FKPT Jateng Ajak Tingkatkan Kewaspadaan Dini Hadapi Terorisme