Cak Lontong yang Menidurkan Logika

foto:www,pakdezaki.web.id

Jama’ah pasti udah kenal sama Cak lontong, seorang artis lawak yang identik dengan lawakan ngobrol muter-muter. Gak peduli yang dia bicarakan nyambung apa enggak sama topik yang sedang dibahas, yang penting kalo dia ngomong semua persoalan harus ada hubungannya.

Kalo cak Lontong udah ngangkat mulut, ati-ati aja, pemirsa bisa diajak mikir semikir-mikirnya sampe pusing. Dan di setiap akhir pembicaraannya, Cak Lontong selalu menegaskan para pendengar supaya ‘mikir’ sebelum mencerna omongannya. Bahkan, kalo para pendengar gak siap mental ngadepin omongan cak lontong bisa-bisa emosi sendiri, lah gimana gak emosi wong dia ngomongnya kemana-mana. Ibaratnya kita sedang ngobrol di satu titik, yang dibahas Cak Lontong seolah-olah muterin titik itu tapi gak nyampe-nyampe ketitiknya.  Absurd abis lah pokoknya...

Beberapa kali saya nonton karakter cak lontong di TV, utamanya di acara ILC (Indonesia Lawak Club) yang dulu pernah diprotes sama kru ILC versi asli gara-gara hak cipta, dan acara WIB (Waktu Indonesia Bercanda). Saya ketawa ngakak ngeliat aksi-aksi lawaknya.

Jauh sebelum tenar di dua acara itu, cak lontong kalo gak salah pernah main di lawakan parodi Republik BBM di RCTI, dia memparodikan SBY bareng sama temen-temennya JK (Jarwo Kwat), Gus Pur (Handoko), Mega Karti, Habudi, dan Soeharto (Butet Kertaredjasa). Di acara itu Cak lontong fasih memparodikan SBY tapi agak gak nyambung-gak nyambung gimana gitu...

Kebetulan selama mudik aktivitas saya hanya di dalem rumah aja, kalo pas istirahat pasti saya langsung ngadepin TV dan ndilalah waktu istirahatnya ngepasin sama acaranya Cak Lontong. Awalnya asyik-asyik biasa aja nontonin dia dan ketawa-ketawa lepas buat ngisi hatiku yang kosong oplang-oplong...hehe

Tapi yang namanya mahasiswa smester sekarat yang masih punya nalar kritis (cie...) saya langsung mikir, persis kayak yang dinasehatkan sama Cak Lontong. Saya mikir apa yang dilakukan sama Cak Lontong ini bisa jadi kritik terhadap Logika. Bukan Kritik ala dekontruksinya Derida yang super njelimet dan sama-sekali gak menarik minat kaum awam. Tapi kritik yang bisa dinikmati sambil ketawa.

Logika, yang selama ini jadi primadona intelektual sedang diobrak-abrik sama Cak Lontong, gak tau belio sadar apa enggak yang dilakukannya itu kritik. Keangkuhan intelektual yang menghendaki runtutan argumentasi, hepotesa yang kuat, dan keakuratan analisa dibabat sama Cak Lontong.

Gaya-gaya obrolan yang hanya bisa “dinikmati” kaum tercerahkan itu emang angkuh. Banyak sekali masyarakat awam yang gagal paham dengan intelektualitas tengil itu. Akhirnya masyarakat awam yang kesulitan mencecapnya hanya bisa melongo dan cuma bergumam “ooo...ya....ya...ya...”. dan mereka yang melongo itu semakin ketinggalan jauh, akhirnya lagi, mereka hanya bisa bergumam, gagal paham, dan bersikap apatis.

Kita bisa lihatlah apatisme masyarakat awam sama masalah-masalah bangsa. Jangankan masalah bangsa, ha wong penyebab naik-turunnya harga sembako aja mereka gak tahu-menahu walaupun udah berkali-kali dijelasin sama para pengamat ekonomi yang katanya nomer wahid sejagad raya. Lha gimana mau paham wong njelasinnya pake bahasa ilmiyah yang penuh dengan isme-isme apalah-apalah itu ah... pusing ngedengerinnya.

Pengamat, dosen, akademisi, dan intelektual tengil itu pas mereka ngomong itu cuma buat diri-sendiri aja. Mereka sama sekali gak mikir, apa pemirsa TV yang rumahnya gubug reot di tengah sawah bisa paham? Gak sama sekali, mereka cuma copas istilah-istilah dari kamus ilmiyah biar keliatan intelektualnya. Ini beneran... termasuk saya, pas ngomong jadi bingung sendiri....hehe

Dan saya bersyukur, akhirnya muncul juga sosok kayak cak lontong. Aksi-aksi lawaknya menurut saya pas buat dijadiin satire. Belio bisa menggambarkan tingkah polah para intelektual tengil yang seolah-olah pandai dalam menganalisa persoalan dan bisa bikin solusi, padahal yang di omongin gak menyentuh persoalan dan perasaan sama sekali.

Cak Lontong menggambarkan betapa para intelektual tengil itu cuma muter-muter aja omongannya. Persis kayak perumpamaan di atas, mereka hanya mengitari titik permasalahan tapi gak menyentuhnya sama sekali.

Jadi keinget sama Tan Malaka, baginya, intelektual sejati adalah mereka yang mau hadir bersama dengan mayarakat dan mampu mengorganisir gerakan bersama. Bukan cuma omong kosong doang... #MIKIR MAS BRO...!!!


*Ndan Musho

Comments

Popular posts from this blog

Sarasehan Jurnalistik, Gerakan Santri Menulis Lawan Paham Radikalis

Bangun SDM dan Tekankan Peran Keluarga dalam Pendidikan

PB PMII Dukung POLRI Berantas Terorisme Sampai Ke Akar-Akarnya

Tebarkan Kasih di Gersangnya Hati

Lawan Terorisme, FKPT Jateng Kenalkan Konsep Gemeter