IPT 65 dan Kisah-Kisah tak Bersumber

foto:www.rappler.com

Harmony Champ, 25/7/2016-, Setelah direncanakan sejak beberapa hari yang lalu, akhirnya kesampaian juga ngeProf ngadain diskusi. Alhamdulillah pesertanya membludak sampai menuh-menuhin teras rumah. Sebelum diskusi kita terlebih dulu melaksanakan agenda rutinan malem senin yaitu dhiba’an sebagai ungkapan rasa cinta kita atas kelahiran baginda Nabi Agung Roslulullah Khotimul Anbiya’ wal mursalain huwa nabiyullah Muhammad Sholallahu ‘alaihi wassalam (sengaja saya tulis panjang lebar buat mamerin kalihaian saya pake bahasa arab, sekalian nyempurnain rasa cinta kepada baginda Nabi)
Setelah rampung dhiba’an tibalah saatnya kita diskusi, tapi ternyata narasumber yang kita tunggu belum hadir. Daripada kelamaan nunggu, kita santap aja dulu hidangan yang udah ada di depan mata. Perutpun kenyang, dan kita siap untuk berdiskusi.
Tepat setelah kita selesai makan, narasumber datang, tapi belum langsung diskusi. Karena banyak sisa-sisa makanan yang berserakan, sahabat-sahabat ngeprof bersih-bersih dulu biar lantai rumah kinclong dan bebas kuman kayak di iklan-iklan karbol pel itu.
Oh iya saya lupa belum ngenalin narasumbernya, narasumber yang kita undang namanya mas rusmadi, beliau bagi saya adalah sosok yang mampu memprofokasi nalar kita agar dalam suatu fenomena kita mencari alternatif pemikiran yang berbeda. Begitupun dengan diskusi tadi malem, peserta diskusi seperti disuguhi kejutan-kejutan yang belum pernah terpikirkan sebelumnya. Gaya bicaranya, kalo boleh saya umpamain nih, persis kayak Zakir Naik. Dia mampu mencari celah dari setiap informasi, bedanya kalo Zakir Naik adalah seorang islam fanatik yang cenderung ekstrem, sedangkan mas Rus, begitu dia akrab dipanggil, cenderung nasionalis kejawen dan sedikit-sedikit islam moderat.
Diskusi tadi malem sebenernya mau ngangkat topik soal kudeta gagal di turki yang menurut mas rus sebagai kideta “pura-pura”. Tapi karena ternyata ada topik yang lebih hangat, lebih dekat, dan  menyangkut jati diri sejarah bangsa, maka kita putuskan untuk mbahas soal IPT 65 dan segala tetek bengek yang mungkin terlewatkan dan tak terpikirkan.
Mas Rus mulai membahas IPT 65 dengan sebuah pertanyaan “apa yang tidak diputuskan dalam IPT?”, sebelum ada jawaban dari pertanyaan itu mas Rus sedikit bercerita tentang bagaimana cara kerja IPT atau pengadilan HAM, atau bahkan cara kerja pengadilan pada umumnya. Pengadilan pada umumnya hanya mengadili peristiwa dan kronologis terjadinya peristiwa itu, tanpa perlu tahu latar belakang dan motifnya.
Mendengar pernyataan itu dalam hati saya mbatin, “inikan IPT bukan pengadilan formal?”. Saya kira temen-temen yang ngikutin diskusi malam itu  juga mbatin dengan pertanyaan yang sama dengan saya. Mas rus menjelaskan lagi bahwa ada banyak hal seputar 65 yang sampai saat ini tak terjamah, mas rus sendiri menyatakan dia dalam posisi bimbang untuk IPT ini. Kenapa demikian? Menurut beliau, kalo kita bicara korban, apa korbannya hanya PKI saja, atau katakanlah ada banyak orang-orang yang tidak ada hubungannya dengan PKI tapi dituduh dan dijadikan korban. Tapi bung masalahnya, narasi besar yang dibawa dalam isu 65 itu PKI sentris, kita tidak bisa menghindar dari narasi itu.
Bagi mas Rus, korban adalah korban, beliau ingin menyampaikan kepada aktifis yang saat ini berjuang untuk korban eks 65 agar sedikit “menyembunyikan” PKI-sentris itu. Karena kalau kita bicara korban, maka NU juga ikut menjadi korban. NU yang menurut banyak pengamat sejarah sebagai ormas yang diprofokasi untuk memberantas PKI waktu itu juga menyumbangkan korban jiwa yang tidak sedikit. Layaknya perang, ketika masyarakat yang tertuduh PKI mempertahankan diri dengan membawa golok dan bedil, ketika itu juga orang-orang NU yang tergabung di Banser dan GP Ansor juga dihantam oleh orang-orang yang mempertahankan dirinya. Dan kita tahu, NU diprovokasi. Dan yang sebatas kita tahu, yang memprovokasi NU dan masyumi saat itu adalah soeharto.
Pertanyaan mas Rus lagi, benarkah Soeharto adalah satu-satunya dalang di balik peristiwa 65. Siapa Soeharto sebelum peristiwa 65? Dia hanya seorang anak petani yang beruntung menjadi panglima KOSTRAD saat itu. Tapi apakah sekelas panglima KOSTRAD bisa mensetting sekenario untuk memfitnah PKI sebagai partai yang ingin mengganti ideologi pancasila dengan komunisme? Apakah sekelas panglima Kostrad bisa dengan waktu yang sangat singkat mensetting kematian 7 dewan jendral?
Kalaupun Soeharto sangat pandai mengatur setting semacam itu, apa iya dia berfikir sendiri? Apa iya dia dapat melakukan oprasi intelejen sendiri? Apa iya dia bisa melakukan itu tanpa bantuan logistik?
Bagi mas Rus, pertanyaan-pertanyaan inilah yang harus dijawab IPT.
Mas Rus melanjutkan, jika peristiwa bunuh-bunuhan ini yang diadili, maka NU juga berhak melakukan sidang rakyat, entah melakukannya sendiri atau bareng-bareng dengan penyitas 65 itu. Itu baru NU, belum yang lainnya seperti Muhammadiyyah dls.
Tapi sayangnya sekali lagi, yang dinarasikan sebagai korban itu selalu PKI. Mas Rus bukannya anti PKI atau anti IPT. Kita saat ini terjebak dengan sumber-sumber yang sebagian besar menyudutkan “pemenang 65”. Pertanyaannya lagi, apakah NU atau kelompok islam yang lain adalah pemenang?
Pertanyaannya lagi, siapa dalang yang belum terungkap itu, CIA, Mossad, MI6, atau siapa? Kenapa dalang itu kok tega-teganya mengacaukan politik Indonesia waktu itu? Kepentingannya apa? Bisa gak IPT mengungkap itu?
Kalau IPT bukan sidang hukum tapi sebagai sidang politik, seharusnya IPT bisa menguak tabir konspirasi yang sama sekali belum tersentuh itu.
Banyak sekali yang Mas Rus ceritakan malam itu, dia pernah mendapat cerita soal kajadian sekitaran 65-66 dari mbahnya. Dia pernah berjumpa seorang ‘penjaga” salah satu gunung besar di jawa barat yang setia menunggu kedatangan Soekarno untuk membeberkan kejadian sebenarnya soal  65. Memang kisah-kisah ini terkesan mistis, dan kita tidak harus percaya. Tapi kisah-kisah yang “tak bersumber” seperti ini juga jangan diabaikan begitu saja.
Menurut Mas rus, kita sebagai aktifis sekaligus intelektual jangan hanya terjebak pad sumber-sumber baku. Baginya sumber-sumber baku itu mungkin saja ada kepentingan di baliknya, siapa tahu si penulis atau si editor buku sengaja memberikan informasi untuk mempengaruhi kita yang memang kurang produktif dalam menemukan sumber-sumber sejarah.
Sebagai tambahan informasi Mas Rus memberikan contoh, negara-negara timur tengah yang dianggap gagal karena tak mampu menegakkan demokrasi dan HAM, lalu kemudian satu-persatu negara-negara timur tengah dibombardir oleh perang saudara. Dari mana isu itu datang? Dari mana lagi kalau bukan dari barat. Karena barat sedang mengincar kekayaan minyak di timur tengah. Barat dengan sangat mudah membuat politik adu domba karena memang karakter masyarakat timur tengah yang mudah diadu domba. Ini hanya analisa dengan teori konspirasi.
Demikanpun dengan indonesia, memang iya Indonesia sekarang menjadi negara demokrasi terbesar di dunia, memang iya masyarakat indonesia tak mudah diadu domba. Tapi bukan berarti Indonesia akan selamat. Bisa jadi Barat sedang mengupayakan pengungkapan HAM untuk membuat negara dianggap gagal.
Sebagai aktifis, pelanggaran HAM dalam bentuk apapun wajib hukumnya diungkap. Apalagi yang menyangkut sejarah bangsa. Tapi kita juga perlu hati-hati.
Mas Rus sendiri agak ketakutan dengan pendapatnya yang cenderung  kontra dengan IPT. Tapi bagi Mas Rus, bukan IPTnya atau pengadilannya. Tapi pemetaan situasi dan sejarahnya, siapa dalang dibalik semua ini.
Kalau IPT hanya mengadili peristiwanya saja, okelah Mas Rus setuju itu karena di dalam negeri belum ada satupun pengadilan yang berani mengungkap peristiwa itu. Tapi seandainya kita bisa mengungkap cerita-cerita yang “tak-bersumber” itu tadi, kita patut berharap negara betul-betul mampu memegang kedaulatannya.
Lantas bagaimana kita bisa mengungkap cerita tak bersumber itu? Sedangkan banyak cerita tak bersumber lain yang hanya menjadi mitos.
Ya begitulah diskusi dengan Mas Rus, penuh kejutan dan selalu berakhir dengan pertanyaan.


COMMENTS

Name

artikel,256,berita,110,Cerpen,4,esai,26,Fotografi,19,hiburan,7,jualbeli,1,kolom,4,opini,2,Puisi,20,resensi,3,sastra,15,semartv,6,
ltr
item
SemarNews.com: IPT 65 dan Kisah-Kisah tak Bersumber
IPT 65 dan Kisah-Kisah tak Bersumber
https://4.bp.blogspot.com/-A3028j6wVqw/V5XQ3WRKBUI/AAAAAAAAA-c/oW2FXDEleoAPUZ9jvHLLu7jGvs-bbGbjwCLcB/s640/logo%2BIPT.jpg
https://4.bp.blogspot.com/-A3028j6wVqw/V5XQ3WRKBUI/AAAAAAAAA-c/oW2FXDEleoAPUZ9jvHLLu7jGvs-bbGbjwCLcB/s72-c/logo%2BIPT.jpg
SemarNews.com
https://www.semarnews.com/2016/07/ipt-65-dan-kisah-kisah-tak-bersumber.html
https://www.semarnews.com/
https://www.semarnews.com/
https://www.semarnews.com/2016/07/ipt-65-dan-kisah-kisah-tak-bersumber.html
true
6531980057997603091
UTF-8
Loaded All Posts Not found any posts VIEW ALL Readmore Reply Cancel reply Delete By Home PAGES POSTS View All RECOMMENDED FOR YOU LABEL ARCHIVE SEARCH ALL POSTS Not found any post match with your request Back Home Sunday Monday Tuesday Wednesday Thursday Friday Saturday Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat January February March April May June July August September October November December Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec just now 1 minute ago $$1$$ minutes ago 1 hour ago $$1$$ hours ago Yesterday $$1$$ days ago $$1$$ weeks ago more than 5 weeks ago Followers Follow THIS CONTENT IS PREMIUM Please share to unlock Copy All Code Select All Code All codes were copied to your clipboard Can not copy the codes / texts, please press [CTRL]+[C] (or CMD+C with Mac) to copy