Mestinya Santoso gak Mati




Berita soal matinya Santoso oleh terkaman peluru densus 88 sedikitnya bisa bikin kita yang takut sama gerakan teroris bisa memperpanjang nafas beberapa senti. Tapi mestinya Santoso waktu penggerebegan itu jangan mati dulu, lho kenapa? Cz saya baca salah satu berita di portal on line, Santoso ketembak gara-gara lengah pas mainin Pokemon go. Wagu banget kan…??

Jan harusnya pasukan densus 88 gak mbanggain diri kayak gitu. Kalo cara nggrebeg Santoso kayak di film The Raid: baru deh kita kasih jempol sembilan (lima punya saya yang empat punya pacar saya…hehe). Di film itu penonton disuguhin sama aksi heroik 12 anggota brimob yang nggrebeg markas sekaligus pabrik narkoba. Markas itu dikawal sama ratusan preman terlatih lengkap dengan senjata mesin yang mematikan. Pastinya penonton ikut tegang seolah-olah sedang berada di lokasi pertempuran.

Sebelum berita wagu ini turun, saya pikir kejadiannya sama kayak di film The raid itu. Eh lah dalah, malah santoso ketembak gara-gara gagal fokus ngeliatin monster pokemon. Ini mah sama aja dengan kisah densus yang salah tembak di solo.

Untung berita wagu ini gak jadi trending topik, coba kalo jadi trending topik, bukannya dikasih ucapan terimakasih yang ada densus malah dicibir netizen sejagad raya. Tapi saya doain semoga berita ini gak nyebar kemana-mana. Segera gerakan intelejen untuk nyari berita ini dan minta Kominfo buat mblokir brita ini dengan internet positif.

Jujur aja ni ya, saya lebih mengharap Santoso waktu itu bisa bertahan dari gempuran densus. Bukan karena biar keren dengan aksi tembak-tembakannya, tapi karena kita emang butuh sosok seperti santoso. Santoso, jelek-jelek gitu, doi orangnya supel dan mudah bergaul, dia orangnya gak jaim dan sangat sederhana.

Coba ngana bayangin, doi itu teroris yang paling ditakuti tapi doi mampu ngerekrut banyak anggota, bahkan anggotanya ikut dengan cara sukarela tanpa ada syarat apapun. Kurang supel apa coba dia, cuman orang dengan kemampuan komunikasi kelas wahid bisa dengan mudah ngajakin orang hidup dihutan belantara kayak gitu.

Kedua, kabarnya santoso itu orang kaya-raya, tapi doi rela hidup bertahun-tahun di hutan untuk menghindari hiruk-pikuk kemaksiatan duniawi. Baginya buat apa kekayaan dunia, mending kita tinggalin dan mengkhidmadkan diri untuk berjuang di jalan ilahi. Ini bisa jadi role model buat muslimin wal muslimat di seluruh alam raya, yang sekarang ini udah mulai terbius dengan aroma wangi kapitalisme.

Berkaitan dengan itu, saya kira sebuah penghinaan besar kalo pak menteri Luhut menawarkan kompensasi buat anggota Santoso yang mau menyerahkan diri. Buat apa kompensasi, wong kekayaan mereka aja ditinggal buat berjuang.

Bagi saya, kematian Santoso amat sangat disayangkan. Kalo yang dibunuh teroris yang lain gak apa-apalah wong mereka nama-namanya itu kemarab, bahkan yang gak arab di arab-arabin contohnya kayak kang gatot namanya di sliwurin jadi Al-khoththoth, padahal dalam kosakata arab gak ada Al-khothtohtohtthh….ah kelimpet-limpet lidah saya jadinya. Tapi kalo Santoso itu nJawani, mungkin doi satu-satunya teroris “islam” yang emang udah mengamalkan nilai-nilai “Islam Nusantara”…hehe

Comments

Popular posts from this blog

Lantik Ranting NU se Kecamatan Gunungpati, Kiai Hanif Tunjukkan Peran NU Hadapi Tantangan

Lawan Terorisme, FKPT Jateng Kenalkan Konsep Gemeter

Ragam Aksi Teror, Ika Unnes Sampaikan Pernyataan Sikap

Wow, Seminar Hasil Penelitian Balai Litbang Agama Semarang Ungkap 42 Persen Mahasiswa LDK Setuju Khilafah

FKPT Jateng Ajak Tingkatkan Kewaspadaan Dini Hadapi Terorisme