Ngiri Liat Temen Mudik

foto:www.ambiguistis.net


Ini cerita udah lama banget, tapi baru kali ini ane kepikiran nulis. Kemaren pas ane lagi duduk-duduk bareng temen di kampung ada yang nyeletuk babakan temen-temen kuliahnya yang sibuk mudik, jadinya ane langsung keinget sama seseorang yang ikut-ikutan sibuk mudik padahal dia warga lokal yang gak perlu mudik.

Temen saya sekampung tadi doi kuliahnya di Purwokerto aja, dia kuliah di salah satu kampus terkemuka di Indonesia. Layaknya kampus besar pasti mahasiswanya bukan cuma warga lokal Purwokerto dan sekitarnya saja. Ada pula yang dateng dari luar daerah dan luar pulau.

Nah pas memasuki masa-masa mudik, mahasiswa yang rumahnya jauh pada persiapan untuk melakukan mudik. Ada yang cari oleh-oleh, ada juga yang mudik bareng sesama daerah asal. Temen saya sekampung ini, sebut saja YN, ngiri. Dia pengen banget ngerasain sensasi mudik, gak cuma sekedar bolak-balik kuliah-pulang karena rumahnya deket. “ih, pengen banget aku pindah rumah yang jauh biar bisa ngerasain mudik” gitu katanya.

Nah di Semarang, beberapa tahun yang lalu. Ada seseorang, sebut saja JND, yang punya perasaan yang sama kayak YN. Doi ngiri liat temen-temennya yang sibuk mudik, kebetulan pas waktu itu dia lagi ngejabat sebagai pimpinan di organisasi pergerakan mahasiswa terbesar di negeri ini (tanpa survei).

Yang namanya kota besar kayak Semarang, mayoritas mahasiswa di sana itu pendatang, bahkan banyak yang dari luar negeri. Dan di antara temen-temennya yang lain cuman JND yang asli warga lokal Semarang. Bahkan, dalam sejarah pimpinan-pimpinan organisasi itu, mungkin cuma doi doang pimpinan asli Semarang.

Nah, untuk menunaikan kengirian menjalankan ritual mudik itu, pas H-1 lebaran dia nyari tas besar dan masukin barang-barang besar ketas itu dan nyari kardus untuk bawa oleh-oleh buat keluarga di rumah. Doi dandan layaknya orang-orang yang pengin mudik.

Dengan motor kesayangannya dia langsung nggeber muter-muter ke kota-kota di sekitar Semarang. Dia muter ke salatiga, magelang, temanggung, wonosobo, Batang, kendal, dan balik lagi ke Semarang. Setelah di semarang dia ngerasa puas, karena seumur hidupnya baru dia ngerasain sensasi mudik.

Dan dia sengaja ngambil rute-rute yang penuh dengan kemacetan untuk menyempurnakan sensasi mudik yang pengin dia rasain.

Sekarang JND udah domisili di Jakarta, dia udah berkali-kali melakukan mudik, bahkan naik pesawat. Sensasi mudik yang dulu pernah menjadi cita-cita tertingginya sebagai mahasiswa pergerakan, sekarang udah kerasa ngebosenin...

Ywdah, selamat mudik aja....

Comments

Popular posts from this blog

Sarasehan Jurnalistik, Gerakan Santri Menulis Lawan Paham Radikalis

Bangun SDM dan Tekankan Peran Keluarga dalam Pendidikan

PB PMII Dukung POLRI Berantas Terorisme Sampai Ke Akar-Akarnya

Tebarkan Kasih di Gersangnya Hati

Lawan Terorisme, FKPT Jateng Kenalkan Konsep Gemeter