Bangunkan Aku Dari Mimpi




“Biarkan lah taburan bunga tidur ini menjadi penghantar masa depanku, dengan sejuta birahi yang selalu menghampiri dikala ku sendiri.” 

Matahari senja baru saja terbit di ufuk timur, menghapus embun-embun yang basah, cahaya yang lembut menyentuh kalbu. Disebuah rumah kayu reot yang seperti orang bungkuk, kala di injak akan berbunyi “reketek”, berdiri di pertengahan sawah dan ladang, lahirlah seorang bayi mungil tak berdosa bermata sipit namun dari keluarga sengsara, hidup dalam rumah kandang yang sudah lusuh dan kumuh dimakan usia, berlubang terserang kumbang hitam yang bila hujan mendera, lubang itu akan meneteskan air, akan selalu mengusik tidurku. Ditambah lagi bilik-bilik bambu yang termakan rayap, keropos bila tersentuh badai lebat akan roboh juga. “ biarpun kau lahir dalam rumah yang hampir roboh ini, tetapi engkau tetap anak tunggal sinom kartarejo” ujar ayah. Lelaki tua setengah baya yang sudah lama menunggu anak pertama dan terakhirnya, Ku hanya trsenyum bahagia, menatap mata keropos yang sudah keriput itu. 

Pagi yang indah, matahari baru sepenggal dada dan memberikan sinarnya pada hamparan ilalang belakang rumahku, embun-embun yang tersisa lari terbirit-birit perlahan menyingkir, tak mau bersaing dengan pancaran sinarnya. Ku biarkan pandanganku munuju halaman luas, melalui jendela usang yang tak bertirai, yang rapuh tergerus kawanan pasukan rayap, tampak silau kala matahari sudah satu tombak. Terngiang jelas bayangan itu di pelupuk mataku, semakin mendekatiku dan hilang disaat mataku terpejam. Sembari menatap  wajah cantik dalam selembar photo usang, lusuh dan buram. Raisa gadis keturunan setengah china, bermata sipit, berabut pirang menjulang, terurai, dan sekaligus  anak kepala desaku, yang selalu mnghantui hari- hari indah dalam kesendirian. Tak pernah terpikirkan olehku gadis semanja dirimu larut dalam buaian racun asmaraku. 

Dalam bayang-bayang kegelisahan, teringat jelas cacian dan hinaan mendarat jelas di telingaku dari keluarga ningratmu, taman, serta antek-antek ayahmu. Butiran air mata membasahi pelupuk mata, ketika ayahmu mengusir ayahku dari kantor kelurahan, hanya untuk meminta surat tidak mampu. Dendam kusumatku mulai membara, namun ibuku hanya mengelus dadaku agar bersabar dengan dorongan dan percaya diri, aku hanya anak petani didesa pematang terpencil. Yang jauh dari peradaban, jauh dari hirup-pikuk bising lalu lintas kota, yang ada hanya hamparan luas padang sabana yang selalu menyelimutiku. Ku langkahkan kaki ini untuk menggapai impianku sebagai sastrawan. Kugantungkan impianku di dahan mangga tua samping rumahku. Namun itu hanya harapan semu belaka yang pernah singgah dalam hidupku, begitupun kau yang hanya singgah di relung hatiku. 

Beban batin yang bergejolak dalam hatiku pun bertambah, kala ku ingin utarakan keinginanku untuk menjadi sastrawan, namun ku urungkan niatku, “mau jadi apa kamu ini” kata ayah padaku. Mendarat mulus dalam sanubariku. Maklum saja, rumah kandang itu hanya diterangi  temaram bila malam tiba. Namun,dengan bantuan teman lama ayah, aku bisa mendaftar di akademi kepolisian, kukirimkan semua persyaratan itu mulai dari data diri,sktm, cv, dan photoku.

Lamunanku buyar, kala pintu dari anyaman bambu itu diketuk ayah, secarik kertas berwarna putih yang terbungkus rapi dalam stopmap coklat, disodorkan padaku, karena ayahku buta huruf, dia menyuruhku membaca secara lantang. Air matapun meleleh ketika aku diterima masuk akademi kepolisian. Setelah datang surat itu aku harus menyiapkan barang-barang keperluan untuk berangkat besok pagi-pagi buta ke kota. Desa pematang terletak 20 km dari kecamatan.” Ku harus cepat sampai ke kecamatan” gumanku. Setelaha lama menjalani latihan militer, aku kembali ke desa untuk menjenguk orang tuaku, pematang desa terpencil yang melahirkanku dan tentu Raisa gadis keturunan setengah china, bermata sipit, berabut pirang menjulang, terurai, dan sekaligus  anak kepala desaku, yang selalu mnghantui hari- hari indah dalam kesendirian..
 
Terdengar gunjingan dan pujian orang “hebat juga anak sinom bisa menjadi polisi”. Kusandarkan tubuh ini dalam ranjang bambu,  Dalam lelah ku rebahkan tubuh ini ke ranjang bambu sampai terpejam.

***

Rangkaian malam penuh gelisah, yang ada hanya suara katak dan jangkrik yang berkerik lantang menggelitik angkasa, kadang angin berkabut mistis dan lirih, melihat desa pematang yang gelap gulita, membuat berdiri bulu roma. Angin malam ditanah kelahiranku tidak berubah , selalu datang di malam hari bersama senyap dalam desirnya selalu membuat sarafku terpesona dalam seribu bayanganku bersamamu Raisa gadis keturunan setengah china, bermata sipit, berabut pirang menjulang, terurai, dan sekaligus  anak kepala desaku, yang selalu mnghantui hari- hari indah dalam kesendirian. 

Ketika cahaya fajar baru menyingsing di ufuk timur, mentari memancarkan cahayanya dan mengirim hangatnya, sampai seantero persada. Ketika itulah aku bangun dari tidurku, duduk di teras rumah, kenangan itu menghampiriku, wajah manismu takkan bisa di hapus dalam kalbuku. Senyumanmu selalu menghiasi malamku, bayangan indah kita takkan terbakar dalam memori kepalaku, walaupun ku takkan bisa memilikimu, menikmatimu, dan menciumimu dalam ranjang pembaringan di kamarku, tapi namamu akan selalu  ada dalam sejarah hidupku, namun semua itu akan hilang beserta dengan sejuta kenangan akan lapuk dimakan usia Raisa,  gadis keturunan setengah china, bermata sipit, berabut pirang menjulang, terurai, dan sekaligus  anak kepala desaku, yang selalu mnghantui hari- hari indah dalam kesendirian.


Ku berdiri dari lamunanku, kulangkahkan kaki ini menuju tempat pembaringan. Kudapati  surat berwarna jingga yang ku cari-cari, yang pernah kau kirim padaku, Raisa gadis keturunan setengah china, bermata sipit, berabut pirang menjulang, terurai, dan sekaligus  anak kepala desaku, yang selalu mnghantui hari- hari indah dalam kesendirian.  yang tersimpan rapi terjaga dalam kamarku. Walaupun sudah agk lusuh karena sering ku baca.
Untuk : Lukman
Cintamu akan selalu  abadi didalam hatiku, selamanya.. sampai ajal tiba. Namun, setelah kau baca surat ini, aku sudah menjadi milik orang, karena 1 ikatan pernikahan dengan seorang anak dari pertikaran. Reihan namanya.
[Raisa]
Setiap membaca surat itu, aku bagai tersambar petir, terguyur hujan di siang bolong, pikiranku terbang jauh di pembaringan, dalam kesendirian. Ku tak tau entah sampai kapan ini akan berakhir dan berapa lembar lagi catatan di dibuat hidup dalam dunia penokohan dan lelucon. Kini terpancar jelas dalam rona wajahmu, pelangi yang memancarkan keagungan, yang dulu hanya tersenyum di atas senyuman Raisa gadis keturunan setengah china, bermata sipit, berabut pirang menjulang, terurai, dan sekaligus  anak kepala desaku, yang selalu mnghantui hari- hari indah dalam kesendirian.

***

Udara sejuk pegunungan menyapu perbukitan dan turun hingga pedesaan, rerimbunan  pohon  bergotong royong, memantulkan pemandangan serba hijau perkebunan. Yang nampak lenggang pematang pegunungan. Berita kedatanganmu mengusik warga desa, membuat mereka gempar dan bahagia. Apalagi konon suamimu orang kaya, terlebih tersebar kabar dia politisi muda yanga tenar, baik, sopan, dan jujur yang membuat kagum semuanya, ditambah kebaikan hatimu Raisa. 

Tanpa di pungkiri hati ini merasa senang karena melihatmu,namun ku tak berani mendekat, terbesit kata yang berjejer dalam benakku ” andaikan aku bisa seperti suamimu, mungkin kau jadi istriku”namun, semua itu segera ku tepis ”mengapa kau cari Raisa gadis keturunan setengah china, bermata sipit, berabut pirang menjulang, terurai, dan sekaligus  anak kepala desaku, yang selalu mnghantui hari- hari indah dalam kesendirian.?” kata ini selalu menghardik mimpiku. Beberapa bulan dari kejadan itu, saat bajuku basah kuyub terkena percikan air kubangan, mobilmu Raisa. Serta tatapan pahit yang ku terima membuat kebencian makin membara dalam hatiku yang sedang berkecamuk, kejadian itu mambuatku lapuk termakan usia. 

Hari ini panas sekali, ku duduk melamun dalam tugasku, lalu datang penjual koran langgananku, kubuka halaman depan itu terlihat jelas gambar politisi muda terseret kasus korupsi, jantungku berdegup kencang, tanganku bergetar, bibirku basah namun tak bersuara saat ku lihat dengan jelas wajahmu Raisa gadis keturunan setengah china, bermata sipit, berabut pirang menjulang, terurai, dan sekaligus  anak kepala desaku, yang selalu mnghantui hari- hari indah dalam kesendirian. dan suamimu reihan. 

Kuterbangun dari tidur panjangku, tubuhku basah kuyub keringat, “biarlah taburan bunga tidur ini menjadi penghantar masa depanku, dengan sejuta birahi yang selalu menghampiri dikala ku sendiri“ namun, kuterkejut saat melihatmu dalam koran “istri kedua dari sang koruptor”.

*Arief_Soe (repost)

Comments

Popular posts from this blog

Lantik Ranting NU se Kecamatan Gunungpati, Kiai Hanif Tunjukkan Peran NU Hadapi Tantangan

Lawan Terorisme, FKPT Jateng Kenalkan Konsep Gemeter

Ragam Aksi Teror, Ika Unnes Sampaikan Pernyataan Sikap

Wow, Seminar Hasil Penelitian Balai Litbang Agama Semarang Ungkap 42 Persen Mahasiswa LDK Setuju Khilafah

FKPT Jateng Ajak Tingkatkan Kewaspadaan Dini Hadapi Terorisme