Freddy Budiman, Waliyullah yang terlupakan



foto:nasional.republika.co.id
Dulu waktu di pondok saya sering dikasih petuah sama mbah yai buat selalu ngirim alfatehah buat wali-wali yang udah nyebarin agam yang rahmatan lil-alamin ini. Alasannya sederhana aja, para wali itu udah menghadirkan pencerahan di tengah-tengah umat.

Mbah yai yang lain bilang. Yang jadi keistimewaan wali itu bukan hal-hal yang berbau mistik, yang bikin para wali jadi istimewa itu mereka bisa ngasih kehidupan walaupun jasad mereka udah mati. Kehidupan berupa apa? Ada banyak sih. Tapi seengaknya, kata mbah yaiku tadi, ada dua garis besar, kehidupan rohani dan kehidupan jasmani atau material.

Kehidupan rohani pastinya soal keagamaan dan kemanusiaan. Inget di masa para wali nyebarin agama islam di nusantara, kondisi kerajaan-kerajaan di nusantara terutama di jawa dalam keadaan krisis politik dan krisis social, contoh aja majapahit. Para wali mencoba nyebarin ajaran-ajaran kemanusiaan dan kesetaraan di hadapan Allah SWT serta membangun pusat-pusat pendidikan biar masyarakat jawa pada masa krisis itu gak kehilangan kesempatan buat belajar untuk memenuhi kebutuhan rohaninya.

Nah, singkat cerita, dari kondisi ini, terciptalah system pendidikan pesantren. Cerita-cerita tentang para wali yang mengubah perkampungan kumuh penuh penyakit menjadi bersih dan sehat juga banyak. Bahkan banyak kisah yang nyeritain para wali yang ngubah kampong maksiat penuh dengan perjudian, perlontean, dan percongyangan bisa beribah drastic jadi kampong santri. Contoh mbah manab dengan pon-pes lirboyo, mbah Hasyim Asy’ari dengan ponpes tebu irengnya, dan masih banyak lagi.
Ini dari sisi, kerohaniannya, dari sisi materialnya.

Para wali disinyalir mampu membangun system ekonomi, coba lihat di sekitar makam-makam wali, banyak orang berjualan buat memenuhi kebutuhan para peziarah. Nah karena para peziarah yang dateng ke makam wali jumlahnya ribuan, datengnya kebanyakan dari jauh juga, pasti banyak kebutuhan yang harus dipenuhi terutama kebutuhan perut dan tenggorokan. Akhirnya muncullah para pedagang makanan. bukan cuman itu, para peziarah juga biasanya pengin bawa kenang-kenangan berupa souvenir khas daerah makam sang wali, maka muncullah pusat souvenir. Karena hal semacam itulah ekonomi di sekitar makam walipun berputar. Coba kita tengok, makam wali mana yang sepi dari aktifitas berjualan.


Lah terus apa urusannya dengan Freddy budiman si gembong narkoba itu?

Kalo menurut saya ni ya, ada kesamaan karakter antara Freddy Budiman dengan kisah menjelang mati para wali. Apa itu? Memunculkan kisah baru. Kalo para wali menjelang mati muncul kisah baru berupa karomah, kalo Freddy Budiman menjelang mati muncul kisah baru berupa kontroversi. Intinya sama-sama memunculkan kisah baru yang menarik buat diceritain untuk anak cucu kita kelak.
Coba bayangin, siapa yang nyangka kalo Freddy ternyata udah cerita banyak soal keterlibatan oknum BNN, POLRI, dan TNI dalam bisnis narkobanya ke Habib Haris Azhar, saya bilang habib karena wajahnya mirip Habib Rizieq…hehe

Sama dengan para wali yang bisa menghidupkan sistem perekonomian. Freddy Budiman juga bisa demikian, dengan ceritanya ke Habib Haris tadi, maka muncul juga jual-beli kasus. Dan nilai “kapitalisasi”-nya pasti melebihi dari sekedar jualan makanan dan souvenir di sekitar makam para wali.

Belum lagi, kalo sewaktu-waktu kisahnya Freddy ini jadi kisah “mistis” yang gak pernah jelas juntrungannya, persis banget kayak kisah mistis para wali yang diselubungi aroma kedigdayaan karomah tuhan.

Nanti, kisahnya Freddy ini bakal banyak versi yang menggelinding di masyarakat. Berubah jadi kisah rakyat yang melegenda tapi Anonimus (tanpa jelas siapa yang mengisahkan) karena gak ada yang mau tanggung jawab. Persis banget sama kisahnya para wali yang ngalir gitu aja dan berubah-ubdah sesuai penafsiran para pendoneng. Begitu juga kisahnya Freddy, bakalan ngalir dan berubah-ubdah sesuai kepentingan para pengisahnya, siapa lagi kalo bukan oknum yang katanya terlibat dalam kisah Freddy itu.

Tapi jama’ah, yang perlu kita yakini saat ini, Freddy itu emang bener-bener wali. Bisa jadi dia itu syech Siti Jenar jilid dua, yang matinya dengan hukuman matii…hehe


Comments

Popular posts from this blog

Lantik Ranting NU se Kecamatan Gunungpati, Kiai Hanif Tunjukkan Peran NU Hadapi Tantangan

Lawan Terorisme, FKPT Jateng Kenalkan Konsep Gemeter

Sarasehan Jurnalistik, Gerakan Santri Menulis Lawan Paham Radikalis

Ragam Aksi Teror, Ika Unnes Sampaikan Pernyataan Sikap

PB PMII Dukung POLRI Berantas Terorisme Sampai Ke Akar-Akarnya