Testimoni Sang Pemberontak

foto:www.laskarpujangga.co.vu

Alam semesta tercipta karena ada sebuah benturan. Ada yang menyebut sebagai big bang, ada yang juga yang berpendapat partikel atomik (kabut asap). Setelah itu terciptalah bintang-gemintang, planet-planet, dan asteroid-asteroid yang masing-masing memiliki gravitasi yang saling tarik-menarik.

Jauh sebelum manusia lahir, benturan antar spesies sudah tercipta. Dimanapun ada makhluk hidup di situ pasti ada pertengkaran. Mulai dari berebut makanan, tanah, sumber daya, hingga kekuasaan entah itu komunal ataupun kolegial. Dalam sudut pandang ini, persahabatan dan persaudaraan hanyalah lapisan suprastruktur yang teramat tipis sehingga mudah di tembus oleh nafsu persaingan.

Hingga pada akhirnya manusia lahir, makhluk yang konon diciptakan lebih sempurna daripada makhluk lain. Makhluk ini di lengkapi dengan nurani dan akal budi, tapi sayangnya (dan nampaknya tuhan lupa) ternyata nafsu untuk bersaing masih tersimpan dalam sanubari setiap individu. individu-individu berakal budi ini tidak hanya lapar dan haus, mereka memiliki ambisi untuk berkuasa. ingin memiliki pengaruh, minta di akui dan butuh eksistensi. Maka muncullah sejarah peperangan dan pembantaian.

Jika makhluk purba membunuh pesaingnya dengan tangannya sendiri. Manusia membunuh manusia lainnya dengan senjata, bahkan dengan akal budi yang ia miliki, manusia mampu memanipulasi pembantaian atas nama perdamaian, perlindungan terhadap ideologi, dan tetek bengek legitimasi untuk saling berperang.

Ya, manusia memiliki dua jenis benturan hebat. Yang pertama di sebut peperangan yang di legalkan atas nama hukum dan kemanusiaan. Yang kedua sering di sebut dengan pembrontakan. Bahkan ada jenis lain yang skalanya lebih kecil yaitu mafia, premanisme, atau yang lebih kecil lagi di sebut tawuran. Apapun namanya itulah benturan antar manusia, yang dalam teori sosiobilogis edward wilson di anggap sebagai persaingan abadi. Atau dalam teori evolusi herbert spencer di sebut sebagai survival of the fittest...

Terlepas dari teori besar itu, lihatlah sekeliling kalian. Banyak orang-orang yang dengan pongahnya, dengan kekayaannya, dan dengan bentuk kekuasaannya lang lain, mereka dengan arogan meminta diakui, mereka meminta untuk ditinggikan. Mereka yang sudah memiliki kuasa, telah putus urat malu mereka untuk menggunakan segala cara demi eksistensi kekuasaan mereka.

Mereka bahkan dengan sombong melupakan masalalu mereka, lahiriah mereka yang bukan siapa-siapa. Mereka hanya manusia-manusia kerdil yang bahkan panjang urat otaknya tak sampai satu kilan.

Manusia-manusia semacam inilah yang kita sebut siluman. Siluman yang punya jasad manusia tapi jiwa binatang buas. Hanya siluman yang tega memakan sesamanya sendiri. Hanya siluman yang merasa mulia padahal dia ditakuti dan dibenci. Hanya siluman yang tak pernah mau tahu situasi. Dan hanya siluman yang hanya mau menangnya sendiri.

Bagi kalian para siluman. Kalian adalah sebentuk makhluk yang tak pernah dikehendaki zaman. Dalam sejarah peradaban. Makhluk-makhluk seperti kalian selalu berakhir di dalam jurang kenistaan.

Dengan perlawanan yang akan kami lakukan. Bersiaplah. Tak ada ampun buat kalian


dan kita harus menerima kenyataan bahwa alam semesta di takdirkan untuk saling berbenturan, antara kami dan kalian para siluman...

Comments

Popular posts from this blog

Lantik Ranting NU se Kecamatan Gunungpati, Kiai Hanif Tunjukkan Peran NU Hadapi Tantangan

Lawan Terorisme, FKPT Jateng Kenalkan Konsep Gemeter

Sarasehan Jurnalistik, Gerakan Santri Menulis Lawan Paham Radikalis

Ragam Aksi Teror, Ika Unnes Sampaikan Pernyataan Sikap

PB PMII Dukung POLRI Berantas Terorisme Sampai Ke Akar-Akarnya