Demo itu Teriakan Hati, Gak Bisa Cuman Didenger Pake Kuping

foto:www.reverbnation.com

Beberapa waktu lalu saya dan sahabat-sahabat menginisiasi sebuah demo besar-besaran di kampus. Demo ini sebetulnya udah lama direncanakan tapi tarik ulur gara-gara gak ada kesiapan. Sekalinya demo ini disepakati eh malah ternyata gagal total. Sebabnya gagal karena ada “penggembosan” yang dilakukan pihak birokrasi kampus. Setting aksi yang kita lakukan udah diinteli ternyata. Dan beberapa tokoh sentral yang dipercaya mengomandoi aksi dikasih ancaman DO, mending kalo DO, mereka diancam dimasukin kepenjara. Kebetulan aksi itu bertepatan dengan masa orientasi mahasiswa baru. Kalo acara itu bubar gara-gara demo, para tokoh sentral ini bakal digelandang masuk bui.

Sontak, setelah kegagalan besar demo ini, birokrasi kampus semakin tega menekan mahasiswa yang bawa poster berisi kalimat “provokatif”, padahal belum tentu kalimat “provokatif” itu ada kaitannya dengan demo, bahkan mahasiswa yang bawa poster itu gak mesti tau juga. Kalo ada panitia orientasi mahasiswa baru yang teriaknya kenceng-kenceng langsung diwaspadain sama dosen pendamping kegiatan, seolah-olah ni mahasiswa senior bakalan nyebarin aliran “sesat”. Para aktivis kampus yang terkenal “kurang ajar” sama dosen dan birokrasi segera diidentifikasi dan diwaspadai, sebisa mungkin interaksi mereka dengan mahasiswa baru dijauhkan. Jangan sampai ada komunikasi terlalu intens.

Bahkan, para pejabat tinggi kampus sekelas rektor dan wakil-wakilnya turun langsung ke lokasi kegiatan demi memastikan sterilisasi dari para provokator. Mahasiswa-mahasiswa yang pernah kuliah tapi putus di tengah jalan alias DO atau OD (Out Dewe) dihubungi semua, mereka diwanti-wanti agar jangan ikut campur urusan dapuran kampus, toh mereka udah bukan mahasiswa kampus itu lagi, dianggep alumni aja enggak.

Singkat kata, suasana kampus mencekam.

Di luar kampus, para alumni dan senior sedang bergejolak atas kejadian yang maha-memalukan itu. Ada alumni yang menyayangkan sikap birokrasi kampus yang kelewat kejam, ada juga yang memaklumi bahkan mendukung agar sekali-kali mahasiswa jangan kurang ajar sama dosennya, mereka harus takdzim, karena udah lama mahasiswa kampus ini dibiarin berdemo ria tanpa kendali sampe-sampe sikapnya udah kurang ajar sama dosen yang ngajarin mereka tiap hari.

Bagi alumni yang kontra dengan sikap birokrasi, mereka berdalih, semasa mereka kuliah juga sering demo, gak ada tuh tindakan yang kelewat kejam kayak gini, padahal pada waktu jaman dulu birokrasinya itu ‘aduwummubin alias musush yang nyata. Lah sekarang, birokrasinya bolo dewe, kok sama junior ideologisnya kejem banget, ni gimana ceritanya. Bagi alumni ini mereka berpendapat, seandainya mereka yang memegang kekuasaan di kampus, gak bakalan deh mereka ngelarang-larang aksi demo. Demo itu ekspresi, semua orang boleh berpendapat.

Bagi alumni yang pro birokrasi, ooo gak bia gitu dong. Jangan semuanya diselesaikan dengan demo. Lebih baik musyawarah, semua kebijakan birokrasi kampus ada mekanismenya. Gak sembarangan. Lagian sekarang birokrasi kampus bolo dewe , ayolah berkomunikasi yang baik. Jangan terus-terusan nunjukin sifat bengal kayak gitu. Gak sopan namanya.

Jujur saja, saya dan sahabat-sahabat yang lain malah bingung sama perdebatan para alumni ini. Kami pikir cara berpikir mereka tidak berimbang. Yang satu menganggap demo hanya sekedar ekspresi dan yang satunya menganggap demo sebagai bentuk kekurangajaran. Seolah-olah mereka menganggap demo hanya perilaku anak muda yang hampa. Mereka samakan aksi demo dengan perilaku nongkrong.

Mereka bahkan gak mikir kalo para pelaku demo punya rasa sensitif terhadap sebuah fenomena. Para pelaku demo gak sembarangan memutuskan buat turun jalan. Bahkan, sebelum mengkaji persoalan yang mau diangkat sebagai grand issue, para pelaku demo terlebih dulu harus masuk kedalam masalah itu, agar pesan yang ingin disampaikan saat orasi betul-betul dihayati.

Cobalah kita mikir bersama, bahwa banyak fenomena yang janggal yang perlu kita pikirkan. Sama seperti orang yang jungkat-jungkit sholat, yang dilihat bukang jungkat-jungkitnya, tapi sesuatu yang transenden di baliknya. Kalo kita liat orang sholat cuman jungkat-jungkit, udah pasti kita bakal ngenggep itu sesuatu yang gak penting. Yang bikin sholat bisa punya makna yang dalem karena esensinya kita menghadap yang maha kuasa.


Sama kayak demo, yang dilihat jangan sikap anarkis dan triak-triaknya aja. Liat sesuatu yang menjadi kegelisahan para pelaku demo, pesan moral-sosial apa yang mereka bawa. Denganrkan teriakkan mereka dengan hati. Ini bukan cuman sekedar ekspresi yang dengan gampang kalian jadikan bahan perdebatan pro-kontra. Karena demo itu suara hati.

Comments

Popular posts from this blog

Sarasehan Jurnalistik, Gerakan Santri Menulis Lawan Paham Radikalis

Bangun SDM dan Tekankan Peran Keluarga dalam Pendidikan

PB PMII Dukung POLRI Berantas Terorisme Sampai Ke Akar-Akarnya

Tebarkan Kasih di Gersangnya Hati

Lawan Terorisme, FKPT Jateng Kenalkan Konsep Gemeter