Negeri Ngeri, Semua Demi Pembangunan


foto:www.cnnindonesia.com


Indonesia adalah negara kepulauan yang terdiri dari 13.000 pulau, negara kita juga punya garis pantai terpanjang di dunia, wilayah negara kita juga membentang dari sabang sampai merauke, kekayaan alam kita juga melimpah, semua kekayaan yang ada di dunia mulai dari minyak, kayu, besi, baja, kapas, padi gandum, apapun yang dunia butuhkan kita punya. Dan karena bangsa kita adalah bangsa yang “baik” maka wajar jka semua kekayaan itu tidak kita nikmati sendiri, tapi kita “sedekahkan” kepada bangsa asing yang pasti kekurangan sumber daya alam.

Beragam suku bangsa, bahasa, agama dan budaya kita miliki, sedikit saja gesekan yang terjadi maka pecahlah tawuran antar suku, antar desa, bahkan antar RT. Kegemaran dan hobi yang dimiliki oleh segenap tumpah darah bangsa kita juga unik, dari yang anti-porno sampai yang suka porno, dari yang suka chongyang sampe suka kopi, dari yang suka ngisep ganja sampe ngisep rokok. Kurang berragam apa kita? Tapi ya itu tadi, rentan gesekan, rebutan kopi, rokok, sama VCD prono #eh…

Untuk itu sangat diperlukan rasa kebangsaan dan rasa bangga sebagai sebuah bangsa. Pertanyaannya, gimana caranya? Jawabannya, “terserah loe. Kan kita udah punya semboyan Bhineka Tunggal Ika, masa masih gak ngerti sih… tugas kita kan cuma mengelola dan mengeksploitasi sumber daya alam”, begitu kata seorang pejabat yang nongol di dalam mimpiku semalem…

Para jama’ah ngeProf yang budiman, sudah sering kita dengar bahwa frasa Kebangkitan Nasional bisa menjadi slogan penyemangat untuk mempertahankan keutuhan bangsa dari sergapan bangsa asing, dan agar bangsa kita bisa bangkit dari keterpurukan. Masalahanya sob, yang nyergap bangsa kita bukan bangsa asing, tapi saudara sebangsa kita sendiri yang merasa lebih tinggi kedudukan dan kekayaannya dari saudaranya yang lain. Dan keterpurukan yang kita alami sekarang ini diciptakan oleh pendengung slogan Kebangitan Nasional itu sendiri. Ironis banget kan… gak percaya? coba lihat simposium 65…

Saya jadi curiga, jangan-jangan narasi Bangsa Asing sengaja diciptakan untuk mengaburkan eksploitasi yang dilakukan oleh bangsa sendiri ini. Ah, tapi itu toh cuma kecurigaan saya saja, Astaghfirullahal’adziim… semoga Allah memberi pencerahan kepada hatiku yang pencuriga ini…Amin
Dalam sejarah kebangkitan nasional awal-awal tahun 1900-an yang dimulai oleh para sarjana “peserta didik” politik eits yang diinisisasi Multatuli (Max Havelaar), bangsa kita mulai sadar akan pentingnya persatuan dan kesatuan serta kemandirian. Dalam hal kemandirian pada tahun 1905 lahirlah Sarekat Dagang Islam (SDI) yang mencoba mengorganisir dan mengagitasi pedagang pribumi agar mampu bersaing dengan pedagang China dan Eropa. Ngomong-ngomong soal mengorganisir dan agitasi pikiran saya tertuju pada gerakan kiri ala-ala komunisme…hehe

Kelompok NU juga punya kelompok pedagang dari kalangan islam pesantren yang namanya Nahdlatu tujjar, juga ada beberapa kelompok buruh dan pekerja. Saya agak sedikit berasumsi mungkin saja spirit Kebangkitan Nasional selain ada tokoh-tokoh intelektual lulusan politik etis juga karena kebangkitan arus modal di kalangan pribumi. Walaupun SDI melebarkan sayapnya keranah politik dengan berganti nama menjadi SI, dan Nahdlatuttujar berfusi menjadi NU dengan Nahdhatul wathan serta Tashwirul Afkar. Tetap saja dominasi arus modal menjadi kekuatan penting dalam menggalakan Kebangkitan.

Perlu jama’ah ngeProf ketahui, Modal atau kapital sebetulnya adalah kekuatan penting dalam menjalankan kehidupan. Asalkan kekuatan modal itu tidak disalahgunakan sebagai alat penghisap. Angels udah njelaskan bahwa modal yang berupa alat produksi harus bisa membuat manusia menemukan kesadaran dirinya sendiri (potensi diri), bukan mengasingkan manusia dari kesadarannya.

Nah, jama’ah ngeProf, sementara saya menyimpulkan. Gerakan-gerakan awal pada masa Kebangkitan Nasional adalah upaya bagaimana mengelola kekuatan modal untuk membebaskan rakyat tertindas bukan mengakumulasi modal untuk penghisapan.

Tapi pemirsa, banyak rakyat yang seharusnya merayakan kebangsaannya bersama kibaran merah putih justru sekarang mereka “mati” dengan dikafani merah putih. Mereka terkapar terpukul oleh keangkuhan negara yang sangat mereka cintai. Ibarat seorang pria yang memuja dan mencintai seorang perempuan dan rela mengorbankan apapun demi cintanya, eh malah diPHP dan dicampakkan begitu saja seolah tak punya harga diri.

Hari ini, Kebangkitan Nasional yang seharusnya mengibarkan bendera sampai kepucuk tiang tapi kita hanya sanggup mengibarkannya hanya setengah tiang.

Eksploitasi dimana-mana, atas nama pembangunan. Warga yang berusaha mempertahankan haknya distigma sebagai kelompok penghambat pembangunan negara.


Comments

Popular posts from this blog

Lantik Ranting NU se Kecamatan Gunungpati, Kiai Hanif Tunjukkan Peran NU Hadapi Tantangan

Lawan Terorisme, FKPT Jateng Kenalkan Konsep Gemeter

Sarasehan Jurnalistik, Gerakan Santri Menulis Lawan Paham Radikalis

Ragam Aksi Teror, Ika Unnes Sampaikan Pernyataan Sikap

PB PMII Dukung POLRI Berantas Terorisme Sampai Ke Akar-Akarnya