Pak Busyro; Jika Dosen gak Ngajarin Demo, Dia Cuman tukang

foto:m.tempo.co

Hai gaes, pernah gak nemu dosen yang dengan gagah ngajarin kita demonstrasi? Kao gak pernah, saya kenalin sama sosok dosen satu ini. Beliau pernah njabat jadi dekan FH UII jadi penggagas Komisi Yudisial (KY), Pernah jadi Plt ketua KPK semasa “cicak vs buaya”, dan yang pasti beliau adalah seorang advokat yang paling vokal menyerukan anti korupsi. Beliau adalah Busyro Muqoddas.

Tadi pagi saya dateng kesebuah forum yang diadain KY yang bertajuk “pelatihan berjejaring untuk peradilan bersih dan anti korupsi”. Di materi pertama yang mengisi pak Busyro itu dengan topik peradilan bersih. Beliau menyampaikan banyak hal, mayoritas berkaitan dengan pengalaman beliau dalam beracara di pengadilan.

Sayangnya tadi pagi saya telat dateng kesana, saya cuman nyimak sedikit ceramahnya. Di akhir ceramahnya yang sekaligus menjawab pertanyaan-pertanyaan dari audiens dia menjelaskan bahwa sistem hukum di negaa ini sudah berubah, tapi paradigma hukumnya belum berubah, masih terpengaruh paradigma Orde Baru.

Menurutnya, yang menjadi masalah nagara ini bukan di masalah hukumnya, tapi bagaimana kita membebaskan diri kita dari “kecelakaan” paradigmatis yang terjebak sama cara pandang Orde Baru yang anti kritik dan “malu” untuk jujur di depan publik.

Kita terlanjur mengikuti arus orde baru yang serba membatasi pikiran kritis. Seperti yang kita tahu, dalam ranah pendidikan, Orde Baru hanya memberikan kurikulum yang kaku dan nomatif kepada para peserta didik termasuk mahasiswa. Peserta didik dibatasi kreatifitasnya, pola pengajarannyapun cenderung satu arah dengan pola mendril mata pelajaran dengan metode ceramah. Jadi guru menerangkan dan murid hanya mendengarkan, murid hanya diberi sedikit waktu untuk bertanya. Terkadang saking lelahnya murid mendengarkan gurunya ceramah, mereka jadi malas bertanya. Dengan situasi yang sedemikian rupa, daya kritis peserta didik kita mandul dan akhirnya melahirkan generasi yang malu bertanya, dan setelah itu sesat di jalan. Hal itu sudah terbukti sekarang.

Hal yang demikian sekarang masih terjadi. Walaupun kurikulum sudah dibuat sedemikian rupa untuk memberikan seluas-luasnya ruang bertanya bagi murid, kenyataannya susah juga membuat murid kreatif dan kritis. Hal ini menjadi tugas para guru dan dosen. Ini adalah PR besar bagi bangsa ini untuk melahirkan generasi yang kritis-kreatif.


Bagi Pak Busyro, seorang dosen seharusnya mengajarkan nilai-nilai perubahan dengan semangat pergerakan. Jika dosen hanya menjelaskan perkuliahan dengan cara-cara normatif, maka dia bukan dosen tapi tukang.

Comments

Popular posts from this blog

Sarasehan Jurnalistik, Gerakan Santri Menulis Lawan Paham Radikalis

Bangun SDM dan Tekankan Peran Keluarga dalam Pendidikan

PB PMII Dukung POLRI Berantas Terorisme Sampai Ke Akar-Akarnya

Tebarkan Kasih di Gersangnya Hati

Lawan Terorisme, FKPT Jateng Kenalkan Konsep Gemeter