Pergerakan Mandul, Perlukah Mitigasi Bencana?

foto:bemkmpolsri.blogspot.com

Pagi ini (kemaren), Rabu (7/9/2016), ada kegiatan simulasi bencana yang dilakukan ribuan warga Pacitan dalam menghadapi bencana alam. Simulasi penanganan bencana alam kali ini spesial karena Pacitan menjadi salah satu kabupaten yang ikut dalam program Indian Ocean Wave Exercise (IOWave) bersama tiga kabupaten/kota di Indonesia dan 20 negara dari benua Asia dan Afrika.

Simulasi bencana alam ini dilakukan karena Pacitan menjadi salah satu wilayah yang terdampak ketika ada pergerkan lempeng di Samudera Hindia yang jaraknya beribu-ribu kilometer dari daratan Pacitan. Meski dampaknya kecil, tetapi upaya mitigasi sangat penting dilakukan supaya masyarakat memiliki kesadaran dan tidak bingung saat bencana alam terjadi.

Mitigasi, bisa dikatakan upaya yang amat penting dilakukan di wilayah rawan bencana. Berlatih untuk menyelamatkan diri dari anacaman bencana tentu menjadi sesuatu yang sangat membantu saat bencana benar-benar terjadi. .

Saya ingin mem-bold upaya mitigasi, dan saya melihat ada sesuatu kemiripan dengan apa yang terjadi dalam kondisi terakhir di kampus (yang dulu) tercinta UIN (dulu IAIN) Walisongo. Dalam lawatan terakhirku di bumi permai Ngaliyan indah asri dan lestari, beberapa waktu lalu, ada banyak cerita mengenai nasib gerakan yang kalang kabut tidak jelas. Khususnya cerita dan keluh kesah dari ndan Muso yang terhormat.

Isu mengenai tumpulnya idiologi gerakan di kampus pergerakan ternyata tidak hanya isapan jempol belaka. Dalam beberapa waktu terakhir, saya mendapat informasi (curhatan) dari Facebook, mengenai keluhan mahasiswa baru terhadap besaran uang kuliah tunggal (UKT) yang konon melibihi batas dari kemampuan maba (mahasiswa baru).

Mengapa tumpul, dengan isu seseksi itu, justru tidak ada tanggapan yang benar-benar serius dari mahasiswa yang mengaku sebagai aktivis kampus.

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), bencana diartikan tidak hanya melulu soal alam dan lingkungan. Tetapi, bencana juga diartikan sesuatu yang menyebabkan kesusahan, kerugian, penderitaan, hingga bahaya.

Dalam kasus UKT di kampus UIN Walisongo, tentu mandulnya gerakan kritis menjadi salah satu jenis bencana yang patut ditakuti. Kenapa? Dengan mandulnya sikap kritis mahasiswa wabilkhusus aktivis, tentu akan berdampak pada susahnya mahasiswa dalam mencari keadilan, mencari perlindungan, dan mencari kebenaran. Kerugian, saat aktivis tidak memiliki sikap kritis lagi, tentu mahasiswa pada umumnya merugi, ya merugi, rugi karena telah percaya tentang bualan cerita-cerita senioritas yang membuat kuping panas. Selain bualan, juga sikap arogan yang dilipat gandakan.

Penderitaan, bagaimana tidak menderita kalau aktivis itu sudah bungkam atas realitas. Lantas ke mana lagi mahasiswa mengadu, saat kebijakan kampus sudah tidak memihak yang lemah dan UKT semakin tidak terjangkau.

Bahaya, aktivis yang diam atas realitas kehidupan hanya ada dua alasan, karena tidak tahu apa yang harus dikerjakan atau memilih diam karena sikap oportunis. Siapa yang tidak tertarik dengan iming-iming beasiswa dan liburan yang dibalut dalam pertukaran pelajar di luar negeri.

Dengan kondisi yang demikian, nampaknya perlu ada semacam mitigasi untuk mempersiapkan mahasiswa yang memiliki sikap kritis. Supaya mahasiswa bisa membela diri saat bencana itu datang lagi.

Upaya untuk mengurangi risiko bencana bisa dilakukan dengan mulai membangun diri mahasiswa dengan berlatih dan berlatih untuk terus melawan terhadap aksi penindasan dan kesewenangan. Terlalu teoritis? Iya memang
benar. Karena yang bisa menabrak teori adalah diri sendiri dengan upaya yang dilakukan. 

Kenapa saya mencontohkan upaya mitigasi bencana di Pacitan sebagai analogi dalam kasus ini. Bencana alam itu dampaknya meluas. Di dalam kasus simulasi bencana alam itu, pusat gempa terjadi di wilayah Afrika, tetapi dampaknya bisa mencapai Indonesia yang jaraknya beribu-ribu mil.

Begitu juga dalam kasus tumpulnya sikap kritis aktivis itu. Tarbiyah, dalam ingatan saya menjadi salah satu basis gerakan yang selalu peka terhadap kebijakan yang tidak berpihak pada orang kecil, seperti kasus UKT itu. Dan lihat dampaknya, bencana yang ada di satu fakultas merambah ke sejumlah fakultas lain. Saya bukan menganggap Tarbiyah sebagai fakultas yang superior dibandingkan fakultas lain dalam cerita keaktivisan. Tetapi yang jelas, ketika bencana ketumpulan hati itu terjadi di satu wilayah, akan menimbulkan dampak yang amat luas.

Dan saat upaya mitigasi sudah dilakukan dan ternyata bencana itu tetap terjadi dan tidak terbendung serta banyak korban. Wallahu a’lam, itu urusan sang pencipta.



Nb : Maaf prof, pembahasan terlalu serius dan tidak jelas arahnya. Karena kurang ngopi dan asupan asap, tetapi tidak kurang piknik. 


Comments

Popular posts from this blog

Lantik Ranting NU se Kecamatan Gunungpati, Kiai Hanif Tunjukkan Peran NU Hadapi Tantangan

Lawan Terorisme, FKPT Jateng Kenalkan Konsep Gemeter

Ragam Aksi Teror, Ika Unnes Sampaikan Pernyataan Sikap

Wow, Seminar Hasil Penelitian Balai Litbang Agama Semarang Ungkap 42 Persen Mahasiswa LDK Setuju Khilafah

FKPT Jateng Ajak Tingkatkan Kewaspadaan Dini Hadapi Terorisme