Hijrah.



Hijrah, bermakna harfiah berpindah. Layaknya perpindahan, hal itu pasti dikarenakan suatu sebab. Tak mungkin seseorang pindah karena tak ada suatu sebab. Karena perpindahan adalah aktifitas paling merepotkan, dan setelah perpindahan terjadi, butuh penyesuaian atau adaptasi terhadap hal-hal baru yang dijumpai.

Sejujurnya, tak ada satu orangpun yang menginginkan perpindahan terjadi. Setiap orang pasti maunya mantap dan nyaman dengan satu posisi. Hanya orang-orang yang merasa berposisi buruk saja yang ingin berpindah, tentu berpindah keposisi yang lebih nyaman. Maka, setiap perpindahan sebetulnya adalah sebuah pilihan seseorang untuk mencari posisi yang lebih nyaman, segaligus aman mungkin.

Tapi, kita bisa memaknai hijrah dengan makna lain. Pencarian mungkin, atau proses, atau makna apa yang kaitannya dengan termidologi sesuatu yang belum berakhir. Tak jauh dengan makna harfiahnya, apabila hijrah kita padankan dengan pencarian maka asumsi yang muncul adalah adanya sesuatu yang belum kita temukan. Masih ada yang kita butuhkan untuk mengisi lubang yang kosong dalam diri kita. Dan di dalam pencarian inilah manusia berproses.

Tak dapat dipungkiri, manusia lahir dengan membawa kekosongan, tak ada satupun manusia yang lahir dapat berbicara dan mengetahui sesuatu. Semua manusia lahir hanya dengan membawa badannya saja. Setelah manusia dewasa dan setelah mendapat bekal dari lingkungan keluarga dan orang tuanya, kewajiban manusai adalah mencari, mencari apapun kebutuhannya. Mulai dari kebutuhan fisiologis seperti makan, minum, dan seksual, kebutuhan material semacam harta dan kekuasaan, kebutuhan prestis seperti gengsi dan kharisma, kebutuhan keamanan seperti kedamaian dan kenyamanan, kebutuhan mahabbah untuk menyayangi dan disayangi, dan yang paling tinggi adalah kebutuhan pengetahuan.

Semua itu tak mungkin didapat oleh manusia tanpa ada pencarian, sekalipun terkadang manusia hanya mampu melakukan pencarian untuk satu hal saja. Manusia seringkali hanya terforsir untuk pencarian dalam hal-hal materi dan fisiologis semata. Ya, memang kedua hal itu kebutuhan dasar manusia, tapi jika manusia mampu melakukan pencarian ke level yang lebih tinggi, itu akan lebih baik.

Dalam hal pencarian, manusia pasti menjalani proses. Tak ada pencarian yang langsung menemui sasarannya. Ketika orang mulai mencari, pasti diawali dengan ketidaktahuan, harus ada yang mengajarkan sesuatu untuk proses pencarian itu, harus ada yang memberitahukan jalan agar si pencari menemukan petunjuk, harus ada yang membantu agar setiap petunjuk bisa dicernadan diterjemahkan, dan setelah dicerna dan diterjemahkan si pencari akan paham.

Proses adalah satu hal yang pasti akan dijalani oleh manusia, maka dari itulah diciptakan usia untuk manusia, agar manusia tahu kehidupan terus berjalan di atas proses, dengan proses itulah manusia melakukan pencarian.


Maka, esensi Hijrah adalah pencarian dalam proses. Selama manusia hidup, selama itulah tak ada akhir untuk berproses, selama itu juga pencarian harus terus dilakukan. Dalam pencarian, tak ada kemenangan dan kekalahan. Adapaun kemenangan dan kekalahan hanyalah warna dalam proses itu.

Comments

Popular posts from this blog

Lantik Ranting NU se Kecamatan Gunungpati, Kiai Hanif Tunjukkan Peran NU Hadapi Tantangan

Lawan Terorisme, FKPT Jateng Kenalkan Konsep Gemeter

Ragam Aksi Teror, Ika Unnes Sampaikan Pernyataan Sikap

Wow, Seminar Hasil Penelitian Balai Litbang Agama Semarang Ungkap 42 Persen Mahasiswa LDK Setuju Khilafah

FKPT Jateng Ajak Tingkatkan Kewaspadaan Dini Hadapi Terorisme