Inferno, Overpopulasi, dan Perpanjang Masa Menjomblo

foto: Abdul Jalil

Tempat tergelap di neraka dicadangkan bagi mereka yang tetap bersikap netral di saat krisis moral.

Inferno, salah satu film Hollywood yang kini sedang tayang di bioskop Tanah Air. Sejak informasi mengenai film Inferno akan diputar pada akhir tahun 2016, aku selalu berharap kedatangan waktu itu. Maklum, dari tiga film yang diangkat dari novel karya Dan Brown, seperti The Da Vinci Code yang ditayangkan pada 2006 dan Angels and Demons yang ditayangkan pada 2009, baru kali ini bisa menikmati film “super keren” itu di layar bioskop (sayang ga ditemenin dek pacar*emot sedih). Tapi, berkat kebaikan teman yang membagikan dua file film itu, akhirnya aku bisa menonton film yang adegannya total banget, meski dari layar laptop.

Bukan tanpa alasan aku menunggu kehadiran penayangan film ini, tapi setelah khatam membaca novel Inferno, imajinasi mengenai tempat-tempat sejarah dan karya seni di Eropa membuatku ingin mengetahuinya secara nyata. Namun, karena ongkos ke Eropa sangat mahal (bagiku), apalagi bagi karyawan swasta, jadi cukuplah berharap novel itu difilmkan.

Seperti di novelnya, film ini mengawali perjalanan Profesor Robert Langdon yang terbangun di rumah sakit di Florence dengan kondisi luka di kepala dan amnesia. Saat terbangun, Langdon pun dikagetkan dengan serangan seorang perempuan berbaju serba hitam yang menembak dengan brutal perawat dan pintu kamar. Dalam kondisi panik, Langdon yang dibantu dokter yang merawatnya, Sienna Brooks, untuk melarikan diri menyelamatkan nyawa sang profesor.

Masih dalam masa kebingungan, professor simbologi itu pun mengetahui bahwa dirinya membawa sebuah benda berbentuk stempel kuno yang memberikan sebuah petunjuk dari perjalnannya. Stempel kuno itu berhubungan dengan salah satu mahakarya terhebat yang pernah diciptakan, yaitu puisi karya Dante Alighieri yang berjudul Inferno (neraka).

Robert Langdon yang masih diperankan oleh Tom Hanks masih belum tahu apa yang terjadi, hingga orang-orang pada mengejarnya. Tidak hanya dari organisasi paling rahasia di dunia saja yang mengincarnya, tetapi tim dari WHO juga mengejar Langdon.

Dalam petualangannya ini, Langdon yang ditemani Sienna menyusuri kota-kota tua seperti Florence, Venesia, dan Istanbul, Turki, dengan cara sembunyi-sembunyi. Saat di kota tua Florence, Langdon mengunjungi Institut Seni yang dulunya merupakan kediaman keluarga bangsawan Medici pada abad ke-15.

Di kota tua Florence, Langdon pun mulai menemukan secercah sinar untuk memecahkan teka-teki yang sedang dihadapi, yaitu dengan ditemukan kata Cerca Trova (cari dan temukan) yang berada di lukisan karya seniman Vasari yang dibuat pada tahun 1563 dan tergantung di Palazzo Vecchio, Florence. Hingga akhirnya, Langdon pun menemukan topeng kematian Dante, yang menjadi kunci utama dari teka-teki yang sedang dihadapi.

Singkat cerita, ternyata teka-teki yang menghubungkan dengan puisi Inferno karya Dante itu mengenai ambisi seorang ilmuan bernama Bertrand Zobrist yang menciptakan wabah yang siap menghancurkan manusia. Dengan berdasar pada teori milik Thomas Robert Malthus tentang populasi manusia yang terus meningkat yang berujung dengan kelangkaan sumber daya. Hal ini akan menyebabkan kepunahan manusia, jika manusia tidak dikendalikan. Dengan dasar itu, Zobrist menciptakan wabah mematikan yang terinspirasi dari wabah hitam (black pague) di abad ke-14.

Kepada pengikutnya, Zobrist selalu mengatakan ketika populasi manusia tidak dikendalikan, tentu akan menjadikan kanker yang siap menggrogoti sendi-sendi kehidupan. Zobrist berpendapat untuk mempertahankan dunia dari overpopulasi ini, maka separuh manusia di dunia harus dimusnahkan dengan cara menyebar wabah. Dan konsep yang ditawarkan Zobrist itu jelas langsung ditentang WHO. Zobrist pun menganggap konsep pengendalian manusia dari WHO seperti penggunaan kondom dan penerapan program keluarga berencana sangat tidak efektif.

Dalam film Inferno, Zobrist telah menyiapkan penyebaran wabah itu di Waduk Yarebatan Sarayi atau Waduk Istana yang Tenggelam dulunya berfungsi sebagai waduk utama Kota Istanbul, pada hari yang telah ditentukan. Namun, rencana tersebut digagalkan dengan wabah yang dimasukkan dalam kantong plastik itu dimasukkan dalam kotak pengaman. Pada saat pengamanan wabah ini, juga ada aksi bunuh membunuh antara pengikut Zobrist dengan penentangnya.

****

Dari film Inferno tersebut ada satu issu yang juga sangat relevan diperbincangkan di Tanah Air, yaitu overpopulasi. Pada tahun 2016 jumlah penduduk Indonesia sekitar 255 juta. Menurut proyeksi dari Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), Indonesia akan memiliki penduduk lebih dari 270 juta jiwa pada tahun 2025, lebih dari 285 juta jiwa pada tahun 2035 dan 290 juta jiwa pada tahun 2045.

Dengan jumlah proyeksi penduduk yang terus meningkat tentu harus ada solusi untuk mengendalikan jumlah penduduk di Tanah Air. Kalau tidak, bagaimana negara dalam memenuhi kebutuhan utama seperti pakan dan papan (tempat tinggal) bagi warganya, ketika tempat untuk menanam bahan pangan sudah habis untuk tempat tinggal. Dan setiap hari ada saja daratan yang tergerus oleh bencana alam dan itu akan mengurangi tempat yang bisa digunakan sebagai tempat tinggal. Ini belum bicara mengenai pekerjaan, yang pada tahun ini saja masih ada jutaan warga yang menganggur karena minimnya lapangan pekerjaan. Bagaimana ketika ada 290 juta jiwa yang hidup di Indonesia?

Selama ini, program KB masih menjadi andalan pemerintah untuk mengontrol populasi penduduk. Meski program ini berhasil, tetapi kurang efektif. Karena faktanya, peningkatan jumlah penduduk juga terus terjadi dan justru datang dari pasangan remaja. Kasus dispensasi nikah di setiap daerah juga meningkat.

Jangan sampai overpopulasi di Indonesia ini tercium oleh pengikut Zobrist. Ya kalau sampai tercium pengikut Zobrist, kita tidak akan tahu apa yang akan mengancam atau wabah apa yang akan dibuat untuk penduduk Indonesia, (semoga wabahnya bukan berupa segerombolan pasukan fentungan efpiai, ngeri gan). Untuk mendatangkan Robert Langdon juga butuh biaya mahal, belum kalau Langdon mengurus kasus serupa di negara lain.

Untuk itu, aku mengusulkan masa menjomblo ditingkatkan. Jadi, sebelum berusia 27 tahun, warga Indonesia tidak boleh menikah. Dengan begitu, overpopulasi bisa ditekan dan tempat yang saat ini digunakan untuk tempat tinggal bisa digunakan untuk generasi yang akan datang. Semoga Presiden Jokowi bisa mempertimbangkan usulan yang absurd ini, atau mungkin presiden lebih setuju dengan tawaran konsep pengendalian penduduk dari Zobrist?

*Abdul Jalil (Penulis lepas Ngeprof.com yang bercita-cita menikah di usia 27 tahun)

Comments

Popular posts from this blog

Sarasehan Jurnalistik, Gerakan Santri Menulis Lawan Paham Radikalis

Bangun SDM dan Tekankan Peran Keluarga dalam Pendidikan

PB PMII Dukung POLRI Berantas Terorisme Sampai Ke Akar-Akarnya

Tebarkan Kasih di Gersangnya Hati

Lawan Terorisme, FKPT Jateng Kenalkan Konsep Gemeter