Puisi untuk Bacchus, Dewa Anggur Pujaan Para Pemberontak

foto:amazine.co

Bacchus, salah satu dewa dalam kisah yunani kuno, seorang dewa yang melindungi ketidak-mapanan dan anti terhadap keteraturan. Dia melindungi manusia tertindas yang mendamba kebahagiaan. Karena keteraturan membuat jiwa manusia menjadi kering, dari sinilah kemudian dewa Bacchus mewujud untuk melawan keteraturan itu. Di sisi lain, para pemuja dewa Bacchus beranggapan bahwa kemapanan dan keteraturan adalah kedok para plutokrat(orang-orang kaya yang sengaja menjauhkan diri dari kaum miskin) untuk selalu mendapatkan untung dan melegitimasi kekikiran mereka terhadap kaum miskin.

Di tengah-tengah peradaban Yunani kuno yang memang belum mengenal konstitusi, para plutokrat membuat “konstitusi” sendiri untuk sengaja membuat kelas-kelas masyarakat (dari sini Karl Marx memunculkan terminologi Kelas). Para plutokrat membuat sebuah pedoman yang disebut dengan Prudensi, suatu tatanan masyarakat yang dipenuhi dengan aturan-aturan agar kehidupan masyarakat terencana. Namun sebetulnya, Prudensi ini adalah kedok agar kekayaan yang dimiliki oleh plutokrat tidak mudah diminta oleh kaum miskin. Bahkan membatasi akses kaum miskin untuk mencari matapencaharian mereka.

Bacchus diceritakan adalah seorang dewa yang dilahirkan dua kali, yang pertama dia lahir sebagai manusia biasa dari rahim Semele. Ketika masih kanak-kanak dia dibantai dan dimakan oleh para titan, namun jantungnya tidak dimakan dan diberikan kepada Zeus. Setelah Zeus memakan jantung Bacchus, dari paha Zeus kemudian Bacchus muncul dan akhirnya dia dianggap sebagai titisan Zeus.

Kelahiran Bacchus dianggap telah memotong sekat yang selama ini membatasi kehidupan manusia biasa dan para dewa. Bahkan dalam satu kisah, Bacchus mempersilahkan para manusia masuk ke istana para dewa. Bacchus bahkan lebih suka tinggal di hutan ketimbang di istana para dewa, dia tidak suka dengan perilaku para dewa yang terlalu nikmat kehidupannya. Ketika Bacchus diperintahkan kembali ke istana, dia malah meberontak.

Sebetulnya, kisah serupa ini banyak sekali jumlahnya, contoh saja yang paling populer di dunia perfilman tiongkok, yaitu kisah Sun Go Khong yang mengobrak-abrik kahyangan. Atau kita bisa melihat kisah dewa-dewa yunani yang memberontak dalam film Clash of The Titan (dan titan inilah yang menjadi musuh bebuyutan Bacchus). Bahkan kita bisa menemukan kisah serupa dalam perjalanan sunan Kalijaga. Kisah-kisah ini seolah ingin memberitahukan bahwa dalam keteraturan selalu ada pembangkangan. Karena keteraturan biasanya digunakan oleh para plutokrat atau borjuis untuk melindungi kekayaan dan kekuasaan mereka sehingga memiskinkan orang lain. Dan hal seperti inilah yang terjadi di negara kita, kita butuh seorang Bacchus, Sun Go Khong atau Kalijaga.

Ada satu ungkapan yang menarik dari Euripides , dia menyampaikan puisi dari seorang pendeta Orphis :

Sesembahan bangsa Tyre Eropa
Yang dilahirkan Zeus,
dan di kakimu tegak beratus benteng kreta
Aku mencarimu dari temaramnya pura
Beratapkan balok menawan berhiaskan ukiran
Dengan baja Chalyb dan darah lembu liar
Serta kayu-kayu cemara tersusun sempurna
Dirangkai begitu kuat, kali bening pun mengalir di sana
Seiring hari-hariku berlalu,
Akulah hamba yang mengabdi kepada Jove Idae sang dewa
Jika tengah malam Zagreus (nama lain Bacchus) mengembara, ikut mengembaralah hamba
Telah ku tahankan raungnya yang membahana
Kuhidangkan pesta-pestanya yang merah dan berdarah
Kukobarkan api gunung bunda nan agung
Terbebaslah diriku dan disebutlah aku
Seorang Bacchis (pengikut Bacchus) di antara kaum pendeta yang terutus.
Berbalut jubah suci putih aku terlahir bersih
Dari kodrat manusia yang nista dan lumpur liang kubur
Terjauhkan dari bibirku senantiasa sentuhan daging aneka rupa di mana hidup pernah bertahta


Dalam buku The History of Western Phylosophy karya Bertrand Russell, ada sebuah puisi untuk Bacchus yang memberikan petunjuk kepada jiwa orang mati bagaimana menemukan jalan di alam arwah (mungkin akherat) dan apa yang harus dikatakan untuk menunjukkan bahwa jiwa itu patut mendapat pembebasan.

Di sebelah kiri rumah Hedes akan kau temukan mata air
Dan di dekatnya tegaklah pohon cemara putih
Jangan kau dekati mata air ini
Namun harus kau temukan mata air lain di dekat danau ingatan
Air sejuk memancar senantiasa dan ada para pengawal di mukanya
Katakanlah “aku putra bumi dan langit penuh bintang,
Namun aku sekarang berdiri sebagai bangsa bumi
Dan kau tahu siapa dirimu
Dan lihatlah, aku sengsara karena haus dan akan binasa
Cepatlah beri aku air dari tepi danau ingatan.”
Dan dengan sukarela mereka akan mengizinkanmu minum dari mata air suci
Dan sesudahnya kau akan berjaya di antara para pahlawan lainnya


Dan ada versi lain yang mengungkapkan:

Berjayalah engkau yang telah menanggung derita
Dari manusia biasa engkau telah menjadi dewata
Engkau bahagia dan diberkati
Engkau sudah menjadi dewa dan tak akan pernah binasa


Di Eleusis, sebuah daerah paling terbelakang di Athena dan mereka menganut kepercayaan Eleusinian. Dimana dari daerah terbelakang ini sistem negara-bangsa (Nation-state) menjadi sangat populer lalu melahirkan sistem demokrasi pertama kali dalam sejarah peradaban manusia. Dari Eleusis ini pulalah Athena menjadi “pilot Project” demokrasi yang diperkenalkan oleh Plato. Ada sebuah mitos yang mengatakan, jauh sebelum demokrasi dipopulerkan oleh Plato, orang-orang Eleusis kerap menyanyikan himne untuk Bacchus. Hal ini lagi-lagi diungkapkan oleh Euripides dalam karyanya Bacchae, juga ada koor kaum Maenad yang menampakkan keliaran. Kaum Maenad juga sambil menampilkan tarian mabuk-mabukkan yang dimaksudkan sebagai simbol pembebasan dari kecemasan dunia beradab menuju alam keindahan. Perilaku liar dalam memuja Bacchus ini adalah ungkapan perlawanan terhadap plutokrat yang selalu bersembunyi di balik kedok prudensi. Berikut syair kaum Maenad di Eleusis :

Dengan piala anggurmu terangkat keangkasa
Dengan pesta-poramu nan menggila
Ke lembah Eleusis semerbak bunga
Datanglah engkau wahai Bacchus Paean yang jaya
Wahai sukacita di atas pegunungan
Hingga lunglai dalam pertarungan yang dilangsungkan
Saat masih melekat kulit rusa suci
Sedang lainnya telah terbantai
Dalam riang memancar merah memabukkan
Darah domba gunung yang terkoyak-koyakkan
Kemenangan binatang buas mencakar menerkam
Di pucuk bukit tempat matahari tersangkutkan
Hingga pegunungan Lydia dan Phrygia
Bromios (nama lain Bacchus) memimpin jalan ke sana

Akankah dia datang padaku, selalu datang
Tari-tarian panjang, teramat panjang
Sejak gulita malam hingga bintang-bintang pucat menghilang?
Akankah terasa embun di tenggorokan dan desauan angin di rambutku?
Akankah kaki-kaki putih kita berkilauan di kolong langit, di keremangan?
Duhai kaki-kai rusa yang menyelinap ke hijau hutan
Lepaskanlah binatang buruan, lepaskanlah dia dari ketakutan
Terbebas dari perangkap dan ancaman mematikan
Namun masih ada suara nun jauh di sana
Gaung suara, rasa was-was, dan anjing pemburu tergesa-gesa
Wahai kerja yang mengasyikkan, tunggang-langgang berlarian
Menuju bengawan dan celah-celah pegunungan
Ini keriangan atau kecemasan, wahai kaki-kaki lincah beterjangan?
Ke padang-padang elok sunyi, jauh dari ancaman insan
Hingga tak terdengar suara di tengah rimbun hijau belantara
Makhluk-makhluk lemah hidup sembunyi di dalam rimba

Akan kuadukan pada Tuhan semua beban ini saat ku pulang nanti


Sebagian besar masyarakat yunani saat itu, sebelum lahirnya para filosof, adalah masyarakat yang penuh gejolak, tak bahagia, dan pemberontak. Karena hal inilah sejarah yunani adalah sejarah dialektika, tak pernah ada sistem masyarakat yang mapan sampai ditemukannya demokrasi. Tipikal masyarakat pemberontak dan tak pernah puas pulalah yang membuat masyarakat yunani dituntut berpikir realistis, rasional, dan penuh dengan argumen.


Namu yang terpenting dari kisah Bacchus ini adalah, perlawanan terhadap kemapanan semu, yang menutupi kebiadaban penguasa dan pemodal. Kisah Bacchus yang saya tampilkan memang tidak valid, terlebih kisah ini adalah mitos, tapi semangat perlawanan dalam kisah ini patut menjadi inspirasi bagi kaum pergerakan.


(Puisi diambil dari buku Sejarah Filsafat Barat karya Bertrand Russell)

COMMENTS

Name

artikel,254,berita,107,Cerpen,4,esai,26,Fotografi,19,hiburan,7,jualbeli,1,kolom,4,opini,2,Puisi,20,resensi,3,sastra,14,semartv,5,
ltr
item
SemarNews.com: Puisi untuk Bacchus, Dewa Anggur Pujaan Para Pemberontak
Puisi untuk Bacchus, Dewa Anggur Pujaan Para Pemberontak
https://3.bp.blogspot.com/-SeBh8CooQkg/WCX6TrEoHXI/AAAAAAAABaA/h5ojifVV7EUJUrzxnFCq6ljoAtihi8eswCLcB/s640/unduhan.jpg
https://3.bp.blogspot.com/-SeBh8CooQkg/WCX6TrEoHXI/AAAAAAAABaA/h5ojifVV7EUJUrzxnFCq6ljoAtihi8eswCLcB/s72-c/unduhan.jpg
SemarNews.com
https://www.semarnews.com/2016/11/puisi-untuk-bacchus-dewa-anggur-pujaan.html
https://www.semarnews.com/
https://www.semarnews.com/
https://www.semarnews.com/2016/11/puisi-untuk-bacchus-dewa-anggur-pujaan.html
true
6531980057997603091
UTF-8
Loaded All Posts Not found any posts VIEW ALL Readmore Reply Cancel reply Delete By Home PAGES POSTS View All RECOMMENDED FOR YOU LABEL ARCHIVE SEARCH ALL POSTS Not found any post match with your request Back Home Sunday Monday Tuesday Wednesday Thursday Friday Saturday Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat January February March April May June July August September October November December Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec just now 1 minute ago $$1$$ minutes ago 1 hour ago $$1$$ hours ago Yesterday $$1$$ days ago $$1$$ weeks ago more than 5 weeks ago Followers Follow THIS CONTENT IS PREMIUM Please share to unlock Copy All Code Select All Code All codes were copied to your clipboard Can not copy the codes / texts, please press [CTRL]+[C] (or CMD+C with Mac) to copy