Seandainya Gus Dur Tak Pernah Ada

foto:serbaserbigusdur

Apa dan bagaimana nikmatnya rokok dan kopi, sulit dijelaskan. Banyak orang menasehati bahwa rokok dan kopi mengandung zat yang tidak baik buat kesehatan, tapi toh saya tetap bisa menikmatinya dan masih merasakan kesehatan yang dianugrahkan dari tuhan kepada saya.

Begitupun dengan seorang Gus Dur, menikmati sosoknya tak pernah bisa terjelaskan dengan gamblang. Banyak orang menyarankan jangan pernah memikirkan Gus Dur dengan akal-rasio semata karena Gus Dur lebih dari itu semua. Tapi toh, otak ini tak pernah berhenti berfikir, kenapa sosok seperti Gus Dur musti ada. Bahkan keberadaannya menambah warna kehidupan bagi orang yang mengikuti sepak terjangnya. Bayangkan jika sosok gus Dur tak pernah ada? Warna apa yang bisa kita dapat?

Kebanyakan orang mendefinisikan Gus Dur hanya dengan kata nyeleneh, tak banyak orang yang bisa menjelaskan secara jelas kepribadiannya. Kata nyeleneh itu sendiripun mengandung banyak pertanyaan dan spekulasi. Semakin tak terjelaskan justru semakin mengundang penasaran. Dari spekulasi-spekulasi itulah banyak tafsir soal Gus Dur bermunculan, mulai dari tukang becak sampai intelektual hebat, dari catatan-catatan ilmiyah hingga sekedar niru-niru ucapannya Gus Dur. Semua tergantung siapa yang melihat dan memahami, tak ada definisi yang definitf tentang Gus Dur. Tapi mayoritas, kembali kepada kesimpulan nyeleneh.

Gaya hidup dan kepribadian Gus Dur memang terlampau sulit dipahami jika hanya dipandang dari satu sudut atributnya saja, semisal ulama, karena Gus Dur sendiri tidak pernah menggunakan dalil-dalil keagamaan untuk berdakwah kepada umat Islam. Begitupun saat dia menjalankan misi politiknya, dia terlalu terbuka, terlalu kritis, yang jika diukur dengan logika politik terlalu berbahaya bagi kepentingan politiknya. Sebagai seorang budayawanpun dia tidak mendayu-dayu, bahkan dia tidak pernah memasang atribut dan penampilan yang menunjukkan sisi budayanya, setidaknya secara fisik. Sebagai seorang intelektual, beliau ngomongnya terlampau ceplas-ceplos, terkesan terlalu gamblang dalam berbicara dan spekulatif dalam menulis, bahkan dia tidak pernah menuliskan suatu buku sebagai hasil pemikiran yang runtut dan rigid, semua tulisannya berupa artikel, esai, dan aforisme semata sebagai bentuk respon langsung terhadap suatu fenomena. Tapi, walaupun begitu dia tetap dianggap seseorang yang kompleks, luas, dan dalam.

Kesederhanaan-kesederhanaan itulah yang justru selalu memancing perhatian semua kalangan. Bahkan, tulisan-tulisan ilmiyah tentang Gus Dur yang ditulis orang lain jauh lebih banyak daripada tulisan Gus Dur sendiri. Pemikiran-pemikiran orang lain tentang Gus Dur juga sudah teramat banyak ketimbang pemikiran Gus Dur itu sendiri. Bagaimana tidak penasaran, orang sesederhana Gus Dur kok bisa bikin kita semua jadi mumet dan ruwet. Ini kita yang mungkin tidak pernah bertemu langsung dengan gus Dur. Lantas bagaimana mumet dan ruwetnya lawan-lawan politik Gus Dur, teman-temannya, saudaranya, keluarganya, dan orang-orang terdekatnya. Mungkin mereka berfikir, kenapa orang seperti Gus Dur bisa ada di dunia ini.

Orang tua, kakek, leluhur dan sesepuh Gus Dur mungkin tidak akan menduga jika diantara keluarga mereka akan lahir sosok seperti Gus Dur. Seorang penerus trah keluarga yang kemudian agak kekiri-kirian dan tidak bisa diikat oleh tradisi keluarga. Tapi biar bagaimanapun kehadiran Gus Dur pasti membuat bangga keluarga besarnya.

Dan kita, sebagai pecinta Gus Dur akan berfikir, apa kata dunia jika Gus Dur tidak pernah ada? Akan jadi seperti apa Indonesia jika gus Dur tidak pernah ada? Akan seperti apa nasib NU jika Gus Dur tidak pernah ada? Siapakah panutan PMII jika Gus Dur tidak pernah ada? Dan pasti tidak akan pernah ada PMII Rayon Abdurrahman Wahid.

Tapi, karena Gus Dur seorang manusia biasa, kita juga harus mengukur dan melihatnya juga sebagai manusia biasa.

Dalam kekuasaan sebetulnya Gusdur adalah orang yang sangat ambisius. Ambisinya selalu terlontar dalam bentuk kritik kepada lembaga-lembaga negara yang selama ini ingin sekali direformasi oleh gusdur. Ia seringkali melontarkan keputusan yang mendadak dan sulit untuk dipahami orang lain. Contoh yang paling menggemparkan dia tiba-tiba menjatuhkan dekrit untuk membubarkan MPR-DPR, membubarkan kementrian penerangan, ingin membubarkan MUI, dan bahkan ingin memotong hak dan wewenang ABRI, melakukan permintaan maaf kepada korban G30S, mencabut TAP/MPR/XXV/1966, dan mempersilahkan kajian-kajian kiri berkembang. Tapi sikap kontroversial ini justru menjadi kemudi arus perjalan sosio-politik bangsa ini, bahkan hingga dia turun dari kekuasaan malahan sekalipun dirinya telah tiada.

Setelah dia lengser dari tampuk kekuasaan, praktis Gusdur tak punya jabatan struktural apapun. Namun, yang terjadi justru setelah dia turun dan sejajar dengan rakyat jelata, kiprahnya semakin besar dan tak terbendung kekuasaan manapun. Setelah dia lengser justru semakain banyak hal yang dia selesaikan, contoh kasus goyang ngebor inul, kasus ahmadiah, kasus syi’ah, kasus ulil Absor Abdalla, konflik HKBP dan FPI, penyelidikan kasus G30S,dll. Gusdur adalah jaminan mutu semua kasus-kasus sosial keagaman. Gusdur juga berhasil menjadikan Indonesia sebagai percontohan dunia untuk keragaman dalam negara mayoritas muslim yang sulit sekali terbangun di negara-negara timur tengah. Gusdur juga berhasil melakukan regenerasi pluralisme dan toleransi kepada generasi muda, maka wajar jika Gusdur dijuluki sebagai bapak pluralisme karena dia telah melahirkan generas-generasi pluralis yang lebih banyak. Dia juga layak menyandang gelar guru bangsa karena telah berhasil mengendalikan kekuasaan untuk melakukan perubahan, bukan untuk melanggengkan kepentingan kekuasaan itu sendiri.

Sebetulnya, Gus Dur memang ingin menggunakan kekuasaan sebagai media kritik. Dia memang sesosok orang yang keranjingan dengan sikap kritis. Sikap-sikap seperti ini memang sudah lama dia pendam semenjak zaman Soekarno, terutama saat Soekarno menyatakan anti asing dan ganyang malaysia. Dia juga memendam kritik yang sangat dalam kepada kelompok islam yang diketuai oleh kakek dan ayahnya sendiri yang menginginkan sila pertama berbunyi “Allah yang maha esa dan wajib menjalankan Syari’at Islam bagi pemeluknya”. Bahkan, kejayaan pan-islamismepun ingin sekali dia kritik karena sikap politiknya yang over-protektif terhadap kekuasaan seperti yang dilakukan oleh Saddam husain serta Sayyid Quthb. Lebih jauh lagi, sikap kritis ini sebetulnya sudah tercermin semenjak dia kecil. Saat dia mendaftar sekolah dan ditanyai kapan dia lahir, siapa orang tuamu, dan berapa umurmu. Bagi Gus Dur pertanyaan-pertanyaan seperti ini rawan diskriminasi. Termasuk tanggal kelahiran Gus Dur yang jadi perdebatan banyak ahli, apakah 4 agustus atau 4 sya’ban, karena Gus Dur hanya menyebut tanggal 4 bulan 8. Bahkan bagi Gus Dur, tanggal lahir sama sekali tidak penting dipertanyakan. Saat dia sekolah di SMEP juga memendam banyak sekali kritik kepada masyarakat yang menstigmatisasi Katolik sebagai agama penjajah, toh para pemeluk agama ini juga masih rakyat Indonesia yang miskin dan terjajah yang harus dibela. Apa karena Greja Ktolik Roma mendapat sokongan dana dari vatikan dan yang menggelorakan God-Glory-Gospel adalah bangsa belanda kemudian mengatakan katolik adalah agama penjajah. Bagi Gus Dur ini menimbulkan pertanyaan yang tiada habis-habisnya.

Fenomena seorang Gusdur adalah sebuah mukjizat tersendiri ditengah-tengah masyarakat yang “semi-semi” paganis seperti di Nusantara ini. Di tengah-tengah masyarakat yang mudah kaget dan tidak siap dengan perubahan zaman, Gus Dur adalah panutan sekaligus tembok agar kita tak mudah tergelincir. Saya membayangkan seandainya saja sosok Gus Dur jatuh di timur tengah, mungkin timur tengah tidak akan menghadapi konflik perang saudara yang separah ini. Kenapa saya membayangkan demikian? Semenjak reformasi, Indonesia telah dibayang-bayangi oleh ancaman disintegerasi dengan munculnya kelompok-kelompok sparatis yang ingin berpisah dari Indonesia, tapi Gusdur berhasil meredam mereka dengan pendekatan dialogis. Coba bayangkan jika presidennya bukan Gus Dur, mungkin perang yang akan terjadi.

Gus Dur memang dilahirkan sebagai penyeimbang. Ketika kebanyakan orang berpaham kekanan mentok, Gus Dur menghidupkan kembali paradigma kiri untuk mengimbanginya. Hal itu tergambar saat dia membentuk Forum Demokrasi untuk mengimbangi ICMI yang dibentuk sebagai alat legitimator kekuasaan. Saat MUI dibentuk, Gus Dur justru menjamin kaum minoritas untuk berekspressi dan menjamin setiap bentuk keyakinan yang ada di Indonesia tetap bertahan. Bahkan, hingga akhir hayatnya, keinginan Gus Dur untuk mendelegitimasi lembaga itu masih ada.

Coba bayangkan seandainya yang dilahirkan oleh bunda nyai Solehah bukan Abdurrahman Ad-Dakhil, mungkin dia tidak akan menjadi sosok yang membekas seperti sekarang ini.

Sayapun membayangkan, seandainya Soekarno bertemu dengan sosok Gus Dur dewasa, mungkin dia tidak akan semena-mena mempermainkan perasaan perempuan.

Seandainya saja jika Gus Dur tidak pernah menjadi ketua PBNU, apa mungkin generasi-generasi NU yang sekarang bisa seprogressif ini? Apa mungkin NU bisa menjadi Garda pelindung pancasila. Bisa jadi NU akan menjelma sebagai salah satu Ormas yang berhaluan garis keras. Bahkan, mungkin saja, organisasi pergerakan semacam PMII pasti akan tenggelam tanpa kehadiran Gus Dur.

Seandainya saja ketika bulan maret 1998 Gus Dur tidak memberikan saran-saran yang moderat untuk menjaga amarah para demonstran dan menyarankan Soeharto mundur dengan legowo, mungkin penghilangan paksa aktifis 1998 akan semakin banyak. Tidak hanya itu, aparat keamanan pasti semakin represif dan berani masuk kedalam kampus untuk menweeping aktifis

Ketika kita sudah dihadapkan dengan sistem keterbukaan seperti sekarang, yang terjadi justru ketidak-seimbangan dalam memandang kehidupan. Lihat saja aksi bela Islam yang dilakukan 4 November kemaren oleh sebagian kelompok yang mengatasnamakan Islam. Betapa mereka sudah sangat berlebihan dalam memandang pernyataan Ahok yang kemudian dituduh sebagai tindakan penistaan Al-Qur’an.

Seandainya saja saat ini Gus Dur masih ada, mungkin kelmpok-kelompok semcama itu bisa diredam tanpa pelibatan densus 88, BNPT, ataupun BIN. Mungkin saja Gus Dur bisa menyelsaikan permasalahan Ahok dengan nada humor dan canda, tanpa perlu tindakan-tindakan represif aparat.

Tapi saya tak pernah bisa membayangkan seandainya Gus Dur tidak pernah ada. Hal ini akan sama dengan membayangkan jika Muhammad tidak pernah lahir, jika yesus yidak pernah lahir,jika musa tidak pernah lahir. Akan jadi apa peradaban manusia ini?

Jika Gusdur tak pernah ada, sudah pecah jadi berapa negara Indonesia ini, bahkan pulau jawapun akan terpecah-pecah menjadi beberapa negara.

Jika Gusdur tak pernah ada, apakah mungkin reformasi akan terjadi? Apakah mungkin G30S menemukan gairah untuk diusut? Apakah mungkin kaum-kaum minoritas bisa sejajardengan mayoritas? Apakah mungkin daging babi bisa difestivalkan?

Kira-kira, apa jadinya jika Gusdur tak pernah ada…??



Comments

Popular posts from this blog

Lantik Ranting NU se Kecamatan Gunungpati, Kiai Hanif Tunjukkan Peran NU Hadapi Tantangan

Lawan Terorisme, FKPT Jateng Kenalkan Konsep Gemeter

Sarasehan Jurnalistik, Gerakan Santri Menulis Lawan Paham Radikalis

Ragam Aksi Teror, Ika Unnes Sampaikan Pernyataan Sikap

FKPT Jateng Ajak Tingkatkan Kewaspadaan Dini Hadapi Terorisme