Setelah Tidak Lagi Fokus Nganggur

foto:www.sayamausehat.com

Terkadang, nganggur adalah sebuah impian yang buat sebagian orang susah dicapai. Kalaulah boleh, saya bisa mengumpamakan ini dengan pribahasa “bagaikan pungguk merindukan bulan”, sama seperti impian-impian yang lain.

Bicara soal nganggur, bukan berarti ini perkara yang selalu ingin dijauhi. Salah besar kalau kalian berpendapat demikian. Faktanya, ketika orang sedang bekerja keras, mereka akan bergumam. Kapan pekerjaan ini akan selesai?

Sungguh ironis, miris, dan tragis. Ketika aktifitas seagung dan semulia nganggur harus ditiadakan hanya karena mengejar sesuap nasi. Manusia yang sudah kehilangan waktu nganggurnya, sama saja dia sudah tidak merdeka. Memang Karl Henrich Marx pernah membuat suatu teori kelas, yang dalam teorinya itu dia mengatakan, manusia akan memanusia ketika dia bekerja. Tapi bukan sembarang pekerjaan yang dia maksudkan. Maksudnya adalah, pekerjaan yang kita punyai sendiri, yang kita atur sendiri, untuk kepentingan diri-sendiri. Bukan bekerja yang diatur orang lain dan hasilnya untuk orang lain pula (walaupun kita dapat gaji), itu namanya penghisapan.

Sebetulnya, saat manusia bekerja, yang ingin dia hilangkan dari kehidupannya bukanlah nganggurnya.  Manusia bekerja hanya karena mereka ingin melipat-gandakan materi. Kalau toh materi ini bisa dilipat-gandakan tanpa bekerja, ngapain kita semua harus kerja? Tapi mau bagaimana lagi, wong kerja adalah satu-satunya jalan agar materi yang kita punya masih tetap ada dan berlipat ganda.

Setali tiga uang, stresnya manusia juga bukan karena pekerjaan yang menumpuk. Tapi kerinduan yang tak terperi terhadap nganggur yang tidak kunjung sampai. Coba saja seandainya seluruh manusia di muka bumi adalah tipikal worka-holic, jangankan kerja 24 jam, kerja selama 7 hari full, 31 hari full, atau bahkan 365 hari full gak akan stress kita.

Tapi, sekali lagi, mayoritas umat manusia tidak bisa berkilah, bahwa nganggur adalah aktifitas yang paling didambakan, sekalipun sebuah pekerjaan adalah milik kita bukan milik orang lain. Bahkan kalau bisa, biarkan pekerjaan itu jalan sendiri sambil kita tiduran asalkan untungnya buat kita.

Hal inilah yang sedang saya rasakan bersama dengan teman saya, setelah kehilangan waktu untuk fokus nganggur, kita benar-benar menjadi manusia yang bergerak dalam sebuah kendali remot kontrol yaitu tugas dan pekerjaan.

Semenjak diterima di suatu tempat bekerja, saya serasa berubah seratus delapan puluh derajat. Tidak tahu kenapa, seolah-olah saya tidak mengenal diri saya sendiri. Saya yang biasanya lupa dengan jam, lupa dengan hari, bahkan abai terhadap siang dan malam. Sekarang harus beraktifitas dengan menggunakan waktu se-efisien mungkin, biar tidak kehabisan tenaga saat bekerja.

Badan yang saya naungi ini, seakan-akan bergerak sendiri tanpa bisa saya kendalikan. Tiba-tiba jam setengah enam pagi bangun sendiri, jam sembilan malam tertidur sendiri, yang biasanya cuek ini jadi fokus memperhatikan perintah boss, yang biasanya melawan jadi penurut. Ah, betul-betul lepas kendali ni badan.


Hari-hari benar-benar menjadi sangat singkat, banyak hasrat yang tertahan. Hingga sering saya berangan-angan, seandainya saja bukan karena tuntutan zaman, rasanya saya ingin fokus nganggur lagi.

Comments

Popular posts from this blog

Lawan Terorisme, FKPT Jateng Kenalkan Konsep Gemeter

Sarasehan Jurnalistik, Gerakan Santri Menulis Lawan Paham Radikalis

Lantik Ranting NU se Kecamatan Gunungpati, Kiai Hanif Tunjukkan Peran NU Hadapi Tantangan

Bangun SDM dan Tekankan Peran Keluarga dalam Pendidikan

PB PMII Dukung POLRI Berantas Terorisme Sampai Ke Akar-Akarnya