SASTRA DAN IDEOLOGI; SENI UNTUK RAKYAT


Oleh : Putu Oka sukanta, Sastrawan, Pegiat HAM)


Keberadaan seseorang atau sebuah bangsa dapat diukur dengan seberapa cerdas dan jernih memahami dan memperbaiki masa lampaunya.

Periodesasi Sejarah Sastra Indonesia

“pembabakan sastra yang sering dibicarakan dalam pelajaran sastra adalah sastra pada tahun 1920-1933 (Balai Pustaka). 1933-1942 (Pujangga Baru), dan 1966. Dalam pembabakan tersebut tampak ada sejarah yang hilang, yaitu tahun 1950-1965.

Sebenarnya ada juga periode sastra yang sering dibicarakan secara terbuka yaitu periode angkatan zaman jepang (1942), angkatan 1945 dengan surat kepercayaaan Gelanggang-nya, angkatan terbaru yang digagas oleh Ajip Rosidi pada tahun limapuluhan, dan baru menyusul angkatan 1966.

Dalam menentukan periode sastra dan pengajaran sastra di sekolah tidak bisa dipungkiri bahwa peran pemerintah yang sedang berkuasa sangat kuat. Pemerintah Belanda dengan Balai Pustakanya telah memilih sastra-sastra yang tidak mengkritik dan bertentangan dengan politik Belanda diresmikan menjadi sastra yang disebut Angkatan Balai Pustaka. Ini sama sekali tidak berarti bahwa di luar sastra Balai Pustaka tidak ada sastrawan dengan hasil sastranya.

Alat ukur atau parameter/kriteria untuk menentukan mana yang Balai Pustaka dan mana yang bukan, yang kemudian tidak disebutkan keberadaannya dibuat oleh Balai Pustaka kepunyaan Belanda tersebut. Politik atau arah berpikir Belandalah yang menentukannya. Oleh karena itu karya sastrawan seperti Semaun dan Mas Maarco Kartodikromo yang menulis beberapa novel pada tahun 1914-24an tidak diperkenalkan. Karya sastra di luar Balai Pustaka dicurigai sebagai karya sastra yang dapat memicu perlawanan rakyat terhadap penjajah Belanda. Buku roman tulisan Semaun adalah Hikajat Kadiroen(1924), sedangkan karya Mas Marco Kartodikromo adalah Mata Gelap (1914), Student Hidjo (1919), Sjair Rempah-Rempah (1919), dan Rasa Merdeka (1924). Sastra yang lahir di luar Balai Pustaka disebut sastra liar, selain tidak searah dengan politik Belanda juga dianggap menggunakan bahasa Melayu kasar. Keterlibatan politik di dalam sastra memainkan peran penting bagaimana fitrahnya di dalam kehidupan manusia.

Politik dalam kaitan ini diartikan sebagai cara dan arah berpikir manusia, baik perseorangan maupun berkelompok. Politik sama sekali tidak berarti partai politik maupun pemimpin. Pertanyaan saya adalah, “apakah fakta sejarah sastra seperti ini belum juga diperkenalkan dalam pelajaran sastra?”

Bagaimana dengan Angkatan Lainnya?

Angkatan Poedjangga Baroe yang mengambil nama dari majalah sastra yang mereka pimpin, dengan jelas menyatakan pendirian bahwa seni harus berorientasi pada kepentingan masyarakat. Di samping itu kebudayaan yang dianut masyarakat adalah kebudayaan dinamis. Kebudayaan tersebut merupakan gabungan antara kebudayaan barat dan kebudayaan timur sehingga sifat kebudayaan Indonesia menjadi universal. Poedjangga Baroe ingin membebaskan diri dari tradisi, dan bersifat individualistis. Tokoh angkatan ini sudah mengalami berlangsungnya “Sumpah Pemuda” yang sangat jelas orientasi berpikirnya yaitu memperjuangkan terbentuknya Bangsa, Tanah Air dan Bahasa Indonesia.

Selain didorong oleh realitas yang berbeda dibandingkan dengan jaman Balai Pustaka, juga ekspresi seni yang digunakan oleh Poedjangga Baroe lebih bersifat individual, lebih mendalam. Di Eropa pada jamannya dikenal bentuk puisi yang disebut Soneta. Sedangkan pada jaman Balai Pustaka, sastrawannya terpengaruh oleh bentuk roman yang juga sedang berkembang di dunia barat. Genre atau bentuk-bentuk sastra ini lahir dari kebutuhan cita rasa dan pandangan hidup sastrawannya.

Adalah tugas Mahasiswa/akademisi untuk melakukan penelitian, seberapa jauh pengaruh gerakan rakyat melawan Belanda pada tahun duapuluhan, dan Sumpah Pemuda terhadap aliran Poedjangga Baroe.

Sastra Angkatan Jaman Jepang, Penjajah Jepang yang sangat kejam menyebabkan banyak sastrawan membuat tulisan di koran dan majalah di bawah tanah yang isinya melantunkan perjuangan melawan penjajah. Puisi maupun cerita yang ditulis oleh para aktivis kemerdekaan jarang mendapat perhatian pengamat sastra, dan sebagian berpendapat bahwa karya mereka tidak indah, tidak banyak dibaca orang, sehingga tidak dimasukkan kedalam buku Angkatan Jaman Jepang yang dirangkum oleh HB Jassin. Sastra yang dimasukkan kedalam buku Angkatan Jaman Jepang adalah sastra yang dimuat di majalah legal. Ciri sastra jaman jepang selain sastra propaganda juga sangat simbolik karena sensor pemerintah jepang sangat keras.

Pada tahun 1964 di Jakarta saya sempat melakukan penelusuran sastra yang ditulis di jaman Jepang, terutama sastra perlawanan, untuk dirangkum ke dalam buku Sejarah Sastra Indonesia. Tetapi sayang semua data yang sudah saya kumpulkan hilang bersama dengan ditangkapnya saya pada bulan Oktober 1966.

Angkatan 45. Surat Kepercayaan Gelanggang yang merupakan manifes politik angkatan 45, menurut saya tidak benar berjiwakan Humanisme Universal. Angkatan ini lahir dari pergolakan bangsa yang memerdekakan diri dari penjajahan. Tidak hanya pergolakan pisik tetapi juga pergolakan pemikiran dan budaya. Bagaimana mungkin dalam pergolakan seperti itu lahir puisi-puisi yang berpaham Humanisme Universil. Kalau kita membaca puisi Angkatan 45, seperti puisi-puisi Chairil Anwar: Karawang Bekasi, Persetujuan Dengan Bung Karno, Dipo Negoro, maupun puisi Rivai Apin “Batu Tapak” sangat jelas pendirian dan pemihakan politik mereka.

Untuk melengkapi nama Angkatan 45, bisa disebutkan beberapa orang lagi yaitu Pramoedya Ananta Toer, Sitor Situmorang, Asrul Sani, Basuki Resobawo, Mochtar Apin, Henk Ngantung, M. Balfas dan yang lainnya. Beberapa seniman Angkatan 45 ini kemudian hidup berkreasi sebagai orang LEKRA maupun sahabat LEKRA.

Salah satu sumber mengatakan bahwa Surat Gelanggang tersebut dibuat pada tahun 1946 ketika Chairil Anwar masih hidup, tetapi baru diumumkan 1950 tanggal 18 Februari.

Beberapa bulan sesudah Surat Kepercayaan Gelanggang diumumkan, yaitu pada tanggal 17 Agustus 1950, dibentuk Lembaga Kebudayaan Rakyat di Jakarta, yang pandangan dan haluan politik kebudayaannya tertuang dalam Mukadimah Lembaga Kebudayaan Rakyat. Para pendiri LEKRA adalah D.N. Aidit, Nyoto, M.S Ashar, A. Kartamiharja dan A.S Dharta. Waktu persiapannya juga hadir HB Jassin.

Untuk para mahasiswa yang punya keingin-tahuan besar, pasti sangat tertarik untuk melakukan kajian terhadap kedua Surat Politik Kebudayaan tersebut, sehingga paham amat sangat, persamaan dan perbedaan antara Angkatan 45 dengan LEKRA. Bahkan kalau perlu juga dilakukan studi banding dengan Manifes Kebudayaan (Manikebu) untuk memperkaya wawasan berpikir.

Joebar Ayoeb (1920-1990) sebagai sekjen LEKRA menyatakan dalam buku “Sebuah Mocopat Kebudayaan Indonesia”, Teplok Press 2004, bahwa hubungan Angkatan 45 dengan Lekra sbb; “hubungannya jelas dan berkelindan sekali. Sebagian kekuatan penting dari Angkatan 45 itu kemudian sesudah tahun 1950 mengejawantah pada LEKRA.”

Di dalam dunia Indonesia yang banyak larangan ini itu, maka perlu mengetahui, mempelajari dan memahami mengapa ada hal tertentu yang dilarang, apakah memang perlu dilarang, mengapa tidak disukai, dan seterusnya. Seorang calon intelektual tidak sepatutnya hanya berpegan pada begitu katanya si A, kata orang, dan katanya, katanya, dan katanya tetapi bagaimana kataku. Ciri lain dari seorang intelektual adalah berani mempunyai pendapat sendiri.

Untuk bisa memahami eksistensi sebuah wujud dan hakekatnya, haruslah kita memahami tradisi situasi sosio budaya, ekonomi dan politik pada jamannya. Pemahaman harus kontekstual agar obyektif.

Surat Kepercayaan GELANNGANG.

Surat Kepercayaan Gelanggang Berbunyi:
KAMI adalah ahli waris yang sah dari kebudayan dunia dan kebudayaan ini kami teruskan dengan cara kami sendiri. Kami lahir dari kalangan orang banyak dan pengertian rakyat bagi kami adalah kumpulan campur-baur darimana dunia baru yang sehat dapat dilahirkan.


Ke-Indonesia-an kami tidak semata-mata karena kulit kami yang sawo matang, rambut kami yang hitam atau tulang pelipis kami yang menjorok kedepan, tetapi lebih banyak oleh apa yang diutarakan oleh wujud pernyataan hati dan pikiran kami.


Kami tidak akan memberi kata ikatan untuk kebudayaan Indonesia, kami tidak ingat akan melap-lap hasil kebudayaan lama sampai berkilat dan untuk dibanggakan, tetapi kami memikirkan satu penghidupan kebudayaan baru yang sehat. Kebudayaan Indonesia ditetapkan oleh kesatuan berbagai-bagai rangsang suara yang disebabkan oleh suara yang dilontarkan kembali dalam bentuk suara sendiri. Kami akan menentang segala usaha yang mempersempit dan menghalangi tidak betulnya pemeriksa ukuran nilai.


Revolusi bagi kami ialah penempatan nilai-nilai baru atas nilai-nilai usang yang harus dihancurkan. Demikian kami berpendapat, bahwa revolusi di tanah air kami sendiri belum selesai.


Dalam penemuan kami, kami mungkin tidak selalu asli; yang pokok ditemui adalah manusia. Dalam cara kami mencari, membahas, dan menelaah kami membawa sifat sendiri.


Penghargaan kami terhadap keadaan sekeliling (masyarakat) adalah penghargaan orang-orang yang mengetahui adanya saling pengaruh antara masyarakat dan seniman.


Gelanggang/Jakarta, 18 Februari 1950


Bisakah puisi Chairil Anwar di bawah ini dikatakan apolitis dan berpaham Humanisme universal?
Persetujuan Dengan Bung Karno
Ayo!Bung Karno kasi tangan mari kita bikin janji.
Aku sudah cukup lama dengar bicaramu,
Dipanggang atas apimu, digarami oleh lautmu


Dari mulai tanggal 17 Agustus 1945
Aku melangkah kedepan berada rapat di sisimu
Aku sekarang api aku sekarang laut


Bung Karno! Kau dan aku satu zat satu urat
Di zatmu di zatku kapal-kapal kita berlayar
Di uratmu di uratku kapal-kapal kita bertolak dan berlabuh


Sudah dulu lagi terjadi begini
Jari tidak akan beranjak dari petikan bedil
Jangan tanya mengapa jari cari tempat di sini
Aku tidak tahu tanggal serta alasan lagi
Dan jangan tanya siapa akan menyiapkan liang penghabisan
Yang akan terima pusaka: kedamaian atau reruntuhan menara
Sudah dulu lagi. Sudah dulu lagi
Jari tidak bakal beranjak dari petikan bedil
1946



Apakah itu LEKRA?


Untuk mengerti kelahiran, keberadaan dan sepak terjang LEKRA (1950-1965), maka ada beberapa dokumen yang valid dan akurat.

1.    Alasan LEKRA didirikan.
2.    Mukadimah LEKRA.
3.    Arti seni untuk rakyat
4.    Semboyan politik sebagai panglima
5.    Rumusan 1.5.1 sebagai metode penciptaan
6.    Hubungan LEKRA dengan PKI

Secara singkat saya akan memberikan beberapa data menyangkut hal tersebut.

LEKRA didirikan 5 tahun sesuadah Negara RI memproklamirkan kemerdekaannya. Walaupun proklamasi kemerdekaan sudah dikumandangkan, tidak berarti kaum penjajah serta merta meninggalkan Indonesia, membiarkan Rakyat Indonesia mengatur diri sebagaimana dikehendaki oleh Rakyat itu sendiri. Pengaruh kebudayaan feodal yang tidak produktif, pengaruh kebudayaan kaum penjajah masih sangat kuat dan mempengaruhi kehidupan Rakyat Indonesia. Oleh karena itu diperlukan sebuah gerakan untuk mendukung usaha rakyat membangun kebudayaannya, yaitu kebudayaan dan kesenian yang bersumber dari rakyat itu sendiri.

Tanpa rakyat tidak ada negara, tidak ada pemerintahan, tidak ada sekolah, tidak ada murid dan guru. Rakyat adalah sebuah nilai, sebuah eksistensi mutlak. LEKRA didirikan oleh pendirinya yang terdiri dari politisi dan seniman untuk membantu rakyat mencipta kesenian baru, melestarikan yang sudah ada dan memanfaatkannya untuk meningkatkan derajat kehidupannya.

Dalam Mukadimah LEKRA, dinyatakan antara lain:
a.    Rakyat Indonesia dewasa ini adalah semua anggota di dalam masyarakat yang menentang penjajahan.
b.    Revolusi Agustus adalah usaha pembebasan diri rakyat Indonesia dari penjajahan dan peperangan penjajahan serta penindasan feodal.
c.    LEKRA bekerja khusus di lapangan kebudayaan, dan untuk masa ini terutama di lapangan kesenian dan ilmu.
d.    LEKRA membantah pendapat bahwa kesenian dan ilmu bisa terlepas dari masyarakat
e.    LEKRA menerima dengan kritis peninggalan-peninggalan nenek moyang kita, mempelajarinya dengan seksama segala peninggalan-peninggalan itu, seperti halnya dengan mempelajari dengan seksama pula hasil-hasil ciptaan klasik, maupun dari bangsa lain, manapun dengan ini berusaha meneruskan secara kreatif tradisi yang agung dari sejarah dan ilmiah.
f.     Di lapangan kesenian, LEKRA mendorong inisiatif yang kreatif, mendorong keberanian kreatif LEKRA, menyetujui setiap aliran bentuk dan gaya, selama ia setia kepada kebenaran, keadilan, dan kemajuan dan selama ini mengusahakan keindahan astistik yang setinggi-tingginya.
g.    LEKRA menguluran tangan kepada organisasi kebudayaan yang lain dari aliran atau keyakinan apapun untuk bekerja sama dalam pengabdian ini.

Kita bisa menemukan aroma revolusi, nuansa perjuangan melepaskan diri dari penjajahan dan feodalisme yang sama di kedua dokumen itu. Kita tidak menemukan azas humanisme universil pada Surat Gelanggang. Juga kita tidak menemukan azas Marxisme Leninisme pada Mukadimah LEKRA.

Seni Untuk Rakyat. Ada dua semboyan di dalam dunia kesenian yang selalu hidup dari jaman ke jaman yaitu seni untuk seni dan seni untuk rakyat. Ada juga semboyan seni untuk bertendensi atau seni untuk masyarakat. Tetapi kedua semboyan yang disebut belakangan tidak populer.

Pada semboyan seni untuk seni, lebih menandaskan bahwa tujuan seni itu adalah untuk seni itu sendiri, untuk keindahan itu sendiri, bukan untuk tujuan lain. Padahal di dalam kehidupan seni itu mempunyai tujuan untuk memperhalus perasaan, pendidikan, komunikasi, hiburan dan juga propaganda. Seni adalah alat, meskipun kata Goenawan Moehammad, “kesusastraan bukanlah semata-mata alat, meskipun mempunyai aspek itu, seperti kita mengakui bahwa kesusastraan bukanlah pensil atau pistol. Sebab kesusastraan mengandung fungsi komunikasi yang langsung.” (revolusi dan Kesusastraan, 1993)

Seni untuk rakyat adalah semboyan yang diusung oleh LEKRA sebagai pengejawantahan mukadimahnya. Semuanya menjadi jelas, bahwa seni itu tidak ada yang netral. Dan pemahaman seni untuk rakyat bukanlah hal baru dan bukan monopoli LEKRA. Semboyan itu hal yang biasa-biasa saja, dipahami dan dianut oleh banyak seniman. Bukan persoalan bagi mereka.

Satu-satunya lembaga kebudayaan di jamannya, LEKRA telah merumuskan metode/tuntutan penciptaan agar seni yang dilahirkan oleh seniman-seniman rakyat mencapai tujuannya yaitu karya yang bermutu tinggi dan artistik serta mendorong terjadinya kemerdekaan yang lepas dari penjajahan dan feodalisme. Tuntutan penciptaan itu disebut 1.5.1, ini sebuah bacaan teori yang boleh diikuti dan boleh pula tidak diperhatikan. Tidak ada keharusan dan tidak ada yang mengharuskan, oleh karena itu boleh jadi sebagian besar seniman yang berada di sekitar LEKRA pun tidak mengetahuinya.

Rumusan tersebut sebagai berikut:
1.    Politik adalah panglima. (Politik adalah cara dan orientasi berpikir, bukan organisasi dan juga bukan orang)
-          Memadukan kreatifitas individu dengan kearifan masa. (agar karya tidak bertentangan dengan tradisi baik, adat dan cita-cita rakyat)
-          Meluas dan meninggi. (sebaran karya melebar dan kwualitas meninggi)
-          Tinggi mutu artistik dan ideologi. (isi dan bentuk agar terpadu harmonis)
-          Memadukan tradisi baik dengan kekinian revolusioner. (tradisi yang positif dipadukan dengan cita-cita yang modern)
-          Memadukan realisme revolusioner dengan romantisme revolusioner. (realitas yang mengarah ke pembaruan yang lebih baik dalam seni hendaklah diungkapkan dengan estetika yang romantis, indah dan penuh harapan)
1.    Turun kebawah. (wawancara, investigasi mendalam untuk mengurangi subjektifitas)

Dengan seperangkat panduan visi, misi, dan program, LEKRA sebagai gerakan kebudayaan mendapat dukungan luas baik dari seniman-seniman di seluruh nusantara maupun dunia internasional. Gerakan Rakyat melawan penjajahan di negara-negara terjajah dan di negara-negara yang baru merdeka, dibarengi juga dengan gerakan kebudayaan, sehingga LEKRA bersama kebudayaan yang pro rakyat lainnya tampil memimpin dalam konperensi Pengarang Asia Afrika, yang salah satu sesinya pernah diselenggarakan di Bali.

LEKRA dan PKI

Untuk menjelaskan hubungan LEKRA dan PKI ada baiknya kembali kita mengutip tulisan Joebaar Ajoeb yang punya kapasitas untuk menjelaskannya.
“LEKRA adalah sebuah gerakan kebudayaan yang nasional dan kerakyatan, yang di dalamnya memang ada orang-orang yang jadi anggota PKI, tetapi yang sebagian besarnya bukan, LEKRA didirikan dan bekerja untuk kepentingan yang nasional dan kerakyatan di lapangan kebudayaan…….kira-kira menjelang akhir tahun ’64, sebuah gagasan PKI disampaikan kepada sementara anggota Pimpinan Pusat LEKRA. Gagasan itu menghendaki agar LEKRA dijadikan organisasi PKI yang juga punya anggota non PKI. Tapi LEKRA telah menolak gagasan itu…..dan LEKRA berhasil menentang penguasaan PKI secara organik atas dirinya, sampai katakanlah 1 oktober 1965…..ironisnya bahkan terjadi di tahun-tahun sesudah ’65 banyak sajalah orang mem-PKI-kan LEKRA. Sehingga yang terjadi adalah, jika D.N Aidit tidak berhasil, orang lain yang padahal atau tampak seperti anti PKI malah “berhasil” mem-PKI-kan LEKRA.”
(Joebaar Ajoeb, Sebuah Mocopat Kebudayaan Indonesia, Teplok Press, 2004)

Periode 1950-65 yang Hilang?

Sebenarnya tidak ada periode yang hilang, yang ada hanyalah periode yang disembunyikan. Kurun waktu 1950-1965 adalah rentang sejarah yang banyak sekali melahirkan dan membesarkan sastrawan dan seniman. Dikemanakan mereka?

Pada tahun 1950an pernah Ajip Rosidi mengumumkan adanya Angkatan Terbaru, tetapi banyak reaksi menyanggahnya karena tidak ada alasan kuat. Angkatan Terbaru tidak menunjukkan adanya genre, ekspresi estetika yang berbeda dengan angkatan sebelumnya. Juga tema yang diangkatnya tidak mempunyai ciri yang spesifik. Maka Angkatan Terbaru ini perlahan redup dan hilang.

Buku-buku sejarah sastra sebagian besar hanya menuliskan nama-nama sastrawan di luar LEKRA, baik yang sebelum tahun 1965 apalgi sesudahnya. Apakah ada mahasiswa yang mengenal HR. Bandaharo, Agam Wispi, Putu Wijaya, NH Dini, Sapardi Djoko Damono, dan puluhan nama sastrawan lainnya di luar lingkaran LEKRA?

Situasi dunia pada masa 1950-65 ditandai oleh perang dingin yang menyelusup sampai ke sumsum tulang penduduk dunia. Peristiwa-peristiwa penting terjadi di Indonesia antara lain: terjadinya perlawanan daerah terhadap pusat di Sumatra, Sulawesi, Maluku, dan Jawa Barat. Perjuangan merebut Irian Barat, Ganyang Malaysia, Perjuangan pembebasan Rakyat Kalimantan Utara, Aksi pelaksanaan UUPA dan UUBH, Indonesia keluar dari PBB, Ganefo, Lahirnya Manifes Kbudayaan (Manikebu), dan banyak peristiwa penting yang berpengaruh terhadap polarisasi kehidupan rakyat, kehidupan berkesenian dan ekonomi secara mikro dan makro.

Amerika dan sekutunya punya kepentingan menguasai Indonesia yang condong ke pihak kubu sosialis, semangat anti Amerika dan sekutunya setiap hari bergelora, yang pada 1 oktober 1965 mulai redup dan padam tidak lama kemudian.

Dampak di dalam kehidupan bangsa Indonesia sangat parah, terjadi penangkapan, pengasingan, pembunuhan tanpa proses hukum dan pengadilan. Seniman-seniman LEKRA mengalami penistaan berulangkali, bukunya dilarang beredar sesuai dengan keputusan menteri PD dan K No.1381/1965 tanggal 30 Nopember 1965, orangnya dilarang menulis/berkreasi, dibunuh. Dan sisanya yang hidup dipenjarakan tanpa proses hukum.

Angkatan 66 dan Angkatan LEKRA

Buku angkatan 66, saya baca di penjara Salemba sekitar tahun tujuhpuluhan. Terkadang di penjara beredar buku-buku menarik hasil barter atau selundupan tahanan. Pada waktu saya membaca buku tersebut, saya gembira karena HB Jassin melalui buku tersebut secara tidak langsung tapi nyata mengakui politik sebagai panglima. Angkatan 66 sepenuhnya angkatan politik dalam sastra. Banyak orang menolak Angkatan 66, antara lain Subagio Sastrowardoyo, melalui artikelnya “Sajak-sajak Perlawanan Taufiq Ismail” dan “Angkatan 66” yang termuat dalam buku “bakat Alam dan Intelektualisme” PN Balai Pustaka.

“yang dinamakan Jassin ‘Angkatan 66’ tidak punya horizon yang lebih jauh daripada yang telah dicapai oleh Angkatan-angkatan sebelumnya, dan karena itu pula tidak membawa sikap, pikiran, dan penilaian dunia baru. Cita-cita keadilan dan kebenaran, kemerdekaan dan kemanusiaan sudah lama dikandung dalam Angkatan 45, sekalipun di sana dinyatakan dengan subtil, implicit dan estetis seperti pada sajak-sajak Chairil Anwar  (“prajurit Jaga Malam”, “Dipo Negoro”,”Karawang Bekasi”) atau Rivai Apin (“dari Dua Dunia Belum Sudah”,”Batu Tapak”). Bahkan seruan-seruan yang lebih terus terang hendak membela keadilan, kebenaran, kebebasan dan kemanusiaan yang menjadi ciri umum puisi “Angkatan 66” telah didahului oleh sajak-sajak LEKRA. Bahkan dilihat dari dasar pendangan dunia yang historis-materialistis dan cara berfkir dialektis, dengan azas penilaian dalam alam, manusia dan sejarah yang tersendiri, barangkali LEKRA lebih berhak disebut Angkatan daripada generasi Taufiq Ismail.”

Pada bagian lain dari artikel ini Subagio menulis:

“Tetapi dengan mengakui kepentingan saat-saat sejarah itu, tidaklah harus kita terima bahwa karya sastra yang mengungkapkan dan mencatat sejarah itu pasti bernilai juga. Dan menurut kenyataannya, karya sastra “Angkatan 66” yang berupa sajak-sajak perlawanan itu pada umumnya amat meragukan nilainya.”

Selain pembahasan Angkatan 66 yang disandingkan dengan LEKRA oleh mas Bagio (begitu saya memanggilnya), juga ada baiknya kita mengetahui pendapat Bung Gun (begitu saya memanggil Goenawan Moehammad) tentang artikel yang saya tulis mengenai Manifes Kebudayaan. Tulisan Goenawan itu dapat dibaca pada artikel “peristiwa Manikebu”: Kesusastraan Indonesia dan politik di tahun 1960-an.

“Dalam membicarakan Politik kebudayaan di Indonesia, Putu Oka menyatakan Humanisme Universal itu diharamkan oleh Manipol. Alasannya, karena aliran ini menganggap bahwa manusia itu di mana-mana sama. Humanisme Universal menggariskan bahwa, setiap manusia harus cinta dan merasa kasih sayang terhadap manusia yang lainnya, tak peduli apakah manusia mengisap atau menindas kita.
Apa yang termaktub dalam argumen semacam itu ialah pendapat bahwa di dunia yang belum adil orang harus membedakan secara jelas antara yang ditindas dan yang menindas. Putu Oka tentu saja dalam hal itu benar dan saya kira kuatnya kandungan pendapat seperti itu punya pengaruh di kalangan “Manikebu” pula, terutama di masa ketika pikiran yang hidup waktu itu adalah pemikiaran Marxis, yang sangat kuat hadir dalam ajaran Bung Karno. Lagi pula tahun 1960-an adalah tahun-tahun militan. Mungkin dalam konteks seperti itulah Wiratmo Soekito menuliskan dalam naskah Manifes Kabudayaan suatu pandangan tentang Humanisme Universal dengan sikap yang tak jauh beda seperti yang dikemukakan Putu Oka. Apabila dengan humanisme Universal yang dimaksudkan pengaburan kontradiksi antagonis, kontradiksi antara kawan dengan lawan, tulis Manifes Kebudayaan, maka kami akan menolak Humanisme Universil itu. Orang tidak bisa “indiferen” terhadap semua aliran politik, kata Manifes pula, orang tidak bisa toleran terhadap imperialisme dan kolonialisme.”

Dengan penjelasan Goenawan itu, kita bisa melihat bahwa antara LEKRA dan Manikebu pun ada titik temu.

Teks Lengkap MANIFES KEBUDAYAAN

“Kami para seniman dan cendikiawan Indonesia dengan ini mengumumkan sebuah Manifes Kebudayaan yang menyatakan pendirian, cita-cta dan politik kebudayaan nasional kami. Bagi kami kebudayaan adalah perjuangan untuk menyempurnakan kondisi hidup manusia. Kami tidak mengutamakan salah satu sektor kebudayaan di atas sektor kebudayaan yang lain. Setiap sektor berjuang bersama-sama untuk kebudayaan itu sesuai dengan kodratnya.
Dalam melaksanakan kebudayaan nasional kami berusaha mencipta dengan kesungguhan yang sejujur-jujurnya sebagai perjuangan untk mempertahankan dan mengembangkan mertabat diri kami sebagai bangsa Indonesia di tengah-tengah masyarakat bangsa-bangsa.
Pancasila adalah falsafah budaya kami.”
Jakarta 17 Agustus 1963

Saya tampilkan dua puisi tentang dua zaman yang berbeda oleh dua penyair dari dua kelompok yang berbeda: LEKRA dan Manikebu.

Puisi Karya Taufiq Ismail dari Manikebu.

Catatan sejarah 1965

Di lapangan dibakari buli
Mesin tikmu dibelenggu
Piringan hitam dipanggang
Buku-buku dilarang
Kita semua diperanjingkan
Gaya rabies klongsongan
Hamka diludahi pram
Masuk penjara sukamiskin
Jassin dicaci diserapahi terbenam daftar hitam
Usmar dimaki lentera
Takdir disumpahi Lekra
Sodjono dicangkul BTI
Nasakom bersatu apa
Umat dibunuhi di desa
Kanigoro bagaimana lupa
Kus bersaudara dipenjara
Mochtar masih diterungku
Osram bungkuk meringkuk
Jalan aspal kubangan
Minyak tanah dikemanakan
Rebutan beras antrian
Siapa mati kelaparan
Infalsi saban pagi
Pidato tiap hari
Maki-maki sebagai gisi
Bahasa carut diperluaskan
Beatle gondrong dipersetankan
Pita suara dimatirasakan
Susunan syaraf dianestasi
Genjer-genjer jadi nyanyi
Tari perang dipamerkan
Warna merah dikibarkan
Warna hitamdikalbukan
Pawai garang digenerangkan
Kolone kelima
Disusupkan
Sarung siapa dilekatkan
Matine gusti Allah dipentaskan.

(Pwai HUT PKI, 23 Mei 1965)

Puisi Karya Putu Oka Sukanta dari LEKRA
Pencipta kerangkeng kemanusiaan


Aku ingat benar kata Soeharto semasa jaya
Anak cucu tidak akan membayar utang karena kita kaya
Hutan tidak akan ligir, sungai tidak akan tercemar karena kita berbudaya
Burung tidak akan kehilangan sarang, kandungan bumi membangun sejahtera
Ternyata telah dibuktikan anak cucu cenadana

Aku ingat benar senyumannya, menyeringai serigala
Taringnya tuidak pernah bersih dari darah jelata
Ya, aku ingat benar kata-katanya
Anak cucu tidak akan menderita, ternyata anak cucu cendana

Ia dengan lihai membangun bui kecil, bui besar, bui maha luas
Bui berjeruji, dan menyaingi angkasa dengan bui tanpa batas
Sekarang aku bertanya kepadamu, untuk siapakah itu semua?
Penjara itu? Adakah juga untuk anak cucu cendana?

Aku ingat benar, setiap bulan masih harus melapor, tidak boleh lupa
Erte, erwe, lurah, babinsa, koramil dan seterusnya dinobatkan menjadi mata-mata
Dan sampai kini ada yang tertinggal tak mampu disapu
Menteri dalam negeri masih bengong, seperti tidang diam terpaku
Membisu, aku ingin mendengar bisikan kalbumu

Dua ribu, Indonesia baru?
Indonesia baru?
Apa yang baru?
Dua ribu
Kalkulator dihidupkan langkah zaman
Dendam diusung keranda kematian
Tanganmu, tanganku akan berjabatan
Seusai pengadilan
(Jakarta 1999)

Sejarah Sastra yang Belum Berakhir

Sejarah itu terus berjalan, membangun dan menonggakkan ciri-cirinya, memperbaharui diri seperti ular melepas selongsongnya, melahirkan anak-anak dan kemudian memangsanya. Salah satu kebahagiaan manusia, lebih khusus seniman/sastrawan adalah ia ikut melahirkan sejarah melalui ciptaan sastranya dan meninggalkannya dalam keadaan tetap hidup ketika senimannya sudah berangkat ke liang kubur.

Dalam perjalanan kepengarangan saya, saya menjadi pengarang bukan karena LEKRA tetapi karena tulisan-tulisan saya. Saya mulai menulis ketika umur 16 tahun di SMP dan mulai menjadi wartawan ketika SMA kelas 2. Saya merasa bahwa tulisan saya, tema tulisan saya tidak pernah berubah baik sebelum, semasa, atau sesudah LEKRA tidak ada. Pengembangan estetika tidak bisa saya pungkiri ikut diadon selama hidup di lingkungan LEKRA, tetapi lebih-lebih lagi ketika dalam penjara.

Pada perjalanan hidup saya lebih lanjut, tulisan-tulisan saya telah menjadi burung yang menerbangkan saya (puisi, cerpen, novel, drama) saya mengabdikan dan memperjuangkan harkat hidup kaum terpinggirkan yang disebabkan oleh berbagai alasan.

Sastra dan juga seni lainnya, seperti yang sudah saya coba merentangkannya memang tidak pernah lepas dari realitas, sebab kehidupan itulah ibu kandungnya, sedangkan daya khayal bagaikan ayahnya.

Singaraja, Bali, tidak pernah absen dalam melahirkan, membesarkan sastrawan dan senimannya. Dari setiap babakan sejarah sastra Indonesia, sastrawan Bali sanggup meletas ke tingkat nasional dan internasional.

Saya teringat dengan kata-kata Dr. Keith Foulcher yang mungkin tepat untuk disajikan menjelang halaman terakhir tulisan saya, “sastrawan berikut karya sastranya tidak terasing dari persoalan yang ada di masyarakatnya. Bahkan terjadi interaksi secara langsung antara sastrawan, karya sastra, realitas kehidupan, dan masyarakat.”

Maka akhirnya saya tutup uraian saya dengan sebuah puisi yang saya tulis tahun 1962, sudah dibaca banyak orang di pelosok dunia.
Bali

Di Balipun berhektar padi menguning
Tapi di Balipun beribu petani mati

Kita datang di Bali ada penari
Kita datang di Bali banyak candi
Keduanya menandai bumi

Kita datang di Bali petani mati
Bukan berarti panen tak menjadi
Inipun pertanda bumi Bali
Inipun meminta arti

(Jakarta, September 2015)


Daftar bacaan:
1.    Ajoeb Jobar: Sebuah Mocopat Kebudayaan Indonesia, Teplok Press 2004
2.    Foulcher Keith: Social Commitmen in Literature and the Arts, South Asian Studies, Monash University, Clinton Victoria, 1986
3.    Mohammad Goenawan: Kesusastraan dan Kekuasaan, Pustaka Firdaus, 1993
4.    Picard Michel, Bali Pariwisata Budaya dan Budaya Pariwisata, KGP-2006
5.    Sambodja Asep, Historiografi Sastra Indonesia 1960-an, Ultimus 2010
6.    Sastrowardoyo Subagio, Bakat Alam dan Intelektualisme, PN Balai Pustaka
7.    Sukanta Putu Oka, Selat Bali, Inkultra Foundation, 1982
8.    Teeuw A., Modern Indonesian Lterature II, The Hague-Martineus Nuhoff-1979
9.    Yuliantri Rhoma Dwi Aria-Muhidin M. Dahlan, Lekra tidak Membakar Buku, Mera Kesumba 2008.

Lampiran.
Lembaga Kebudayaan Rakyat
Mukaddimah
“Menjadari,bahwa rakjat adalah satu-satunya pentjipta kebudajaan, dan bahwa pembangunan kebudajaan, dan bahwa pembangunan kebudajaan Indonesia baru hanja dapat dilakukan oleh rakjat, maka pada hari 17 Agustus 1950 didirikan Lembaga Kebudajaan Rakjat, disingkat Lekra. Pendirian ini terjadi di tengah-tengah proses perkembangan kebudajaan jang sebagai hasil keseluruhan daja-upaja manusia setjara sadar untuk memenuhi setinggi-tingginja kebutuhan hidup lahir dan batin, senantiasa madju dengan tiada putus-putusnja.

Revolusi Agustus 1945 membuktikan, bahwa pahlawan di dalam peristiwa bersedjarah ini, seperti halnja di dalam seluruh sedjarah bangsa kita, tiada lain adalah rakjat. Rakjat Indonesia dewasa ini adalah semua golongan di dalam masjarakat jang menentang pendjadjahan. Revolusi Agustus adalah usaha pembebasan diri Rakjat Indonesia dari pendjadjahan dan peperangan, pendjadjahan dan penindasan feodal. Hanja djika panggilan sedjarah ini revolusi Agustus terlaksana, djika tercipta kemerdekaan dan perdamaian serta demokrasi, kebudajaan rakjat bisa berkembang bebas. Kejakinan tentang kebenaran ini menjebabkan Lekra bekerdja membantu pergulatan untuk kemerdekaan tanahair untuk perdamaian di antara bangsa-bangsa, di mana terdapat kebebasan bagi perkembangan kepribadian berdjuta-djuta rakjat.

Lekra bekerdja chusus di lapangan kebudajaan, dan untuk masa ini terutama di lapangan kesenian dan ilmu. Lekra menghimpun tenaga dan kegiatan seniman-seniman, sardjana-sardjana pekerdja-pekerdja kebudajaan lainnja. Lekra membantah pendapat bahwa kesenian dan ilmu bisa terlepas dari masjarakat. Lekra mengadjak pekerdka-pekerdja kebudajaan untuk dengan sadar mengabdikan daja-tjipta, bakat serta keahlian mereka guna kemadjuan Indonesia, kemerdekaan Indonesia, pembaruan Indonesia.

Zaman kita dilahirkan oleh sedjarah yang besar, dan sedjarah bangsa kita telah melahirkan putera-putera jang baik di lapangan kesusastraan, seni bentuk, musik, maupun di lapangan-lapangan kesenian lain dan ilmu. Kita wadjib bangga bahwa kita terdiri dari suku-suku jang masing-masingnja mempunjai kebudajaan jang bernilai. Keragaman bangsa kita ini menjediakan kemungkinan jang tiada terbatas untuk pentjiptaan jang sekaja-kajanja serta seindah-indahnja.

Lekra tidak hanja menjambut setiap sesuatu jang baru; Lekra memberikan bantuan jang aktif untuk memenangkan setiap jang baru madju. Lekra membantu aktif perombakan sisa-sisa “kebudajaan” pendjadjahan jang mewariskan kebodohan, rasa rendah serta watak lemah pada bangsa kita. Lekra menerima dengan kritis peninggalan-peninggalan nenek mojang kita, mempeladjari dengan seksama segala-gala segi peninggalan itu, seperti halnja mempeladjaari dengan seksama pula hasil-hasil tjiptaan kelasik maupun baru dari bangsa lain jang manapun, dan dengan ini berusaha meneruskan setjara kreatif tradisi jang agung dari sedjarah dan bangsa kita, menudju kepentjiptaan kebudajaan nasional jang ilmiah.

Lekra  mengandjurkan kepada anggota-anggotanja, tetap djuga kepada seniman-seniman sardjana-sardjana dan pekerdja-pekerdja kebudajaan lainnja di luar Lekra, untuk setjara dalam mempeladjari kenjataan, dan untuk bersikap setia kepada kenjataan dan kebenaran.

Lekra mengandjurkan untuk mempeladjari dan memahami gerak perkembangannja serta hari depannja. Lekra mengandjurkan pemahaman jang tepat atas kenjataan-kenjataan di dalam perkembangannja jang maju, dan mengandjurkan hal itu, baik untuk tjara-kerdja di lapangan ilmu, maupun untuk pentjiptaan di lapangan kesenian. Di lapangan kesenian Lekra mendorong inisiatif, mendorong keberanian kreatif, dan Lekra menjetudjui setiap bentuk, gaja, dsb., selama ia setia kepada kebenaran dan selama ia mengusahakan keindahan artistik jang setinggi-tingginja.

Singkatnja, dengan menolak sifat anti-kemanusiaan dan anti-sosial dari kebudajaan bukan-rakjat, dengan menolak perkosaan terhadap kebenaran dan terhadap nilai-nilai keindahan. Lekra bekerdja untuk membantu pembentukan manusia baru jang memiliki segala kemampuan untuk memadjukan dirinja dalam perkembangan kepribadian jang bersegi banjak dan harmonis.


Di dalam kegiatan Lekra menggunakan tjara saling bantu, saling kritik dan diskusi-diskusi persaudaraan di dalam masalah-masalah pentjiptaan. Lekra berpendapat, bahwa setjara tegas berpihak pada rakjat dan mengabdi kepada rakjat, adalah satu-satunja djalan bagi seniman-seniman, sardjana-sardjana maupun pekerdja-pekerdja kebudajaan lainnja untuk mentjapai hasil jang tahan udji dan tahan waktu. Lekra mengulurkan tangan kepada organisasi-organisasi kebudajaan jang lain dari aliran atau kejakinan apapun, untuk bekerdjasama dalam pengabdian ini.

Comments

Popular posts from this blog

Lantik Ranting NU se Kecamatan Gunungpati, Kiai Hanif Tunjukkan Peran NU Hadapi Tantangan

Lawan Terorisme, FKPT Jateng Kenalkan Konsep Gemeter

Ragam Aksi Teror, Ika Unnes Sampaikan Pernyataan Sikap

Wow, Seminar Hasil Penelitian Balai Litbang Agama Semarang Ungkap 42 Persen Mahasiswa LDK Setuju Khilafah

FKPT Jateng Ajak Tingkatkan Kewaspadaan Dini Hadapi Terorisme