Serat Nitisruti; Tanggungjawab, Optimisme, dan Ketakwaan

foto: Maspanji Kerthajagat Putrenggumi

Suatu ketika saya bertemu dengan seorang pemuda, saya lupa namanya dan sampai saat ini saya masih berusaha untuk mengingat-ingat siapa nama pemuda itu. Daripada kelamaan dan mumpung masih segar ide cerita ini, saya tulis langsung saja dengan mengabaikan namanya.

dia temen SMA adek saya, tapi umurnya lebih tua empat tahun. Setelah lulus SMA dia kerja di Kor-Sel, di pabrik sepatu di kota Seoul.

Konon katanya, pemuda ini dulu miskin. Sekolah saja dibiyayai oleh gurunya. tapi memang dia pintar dan bersemangat, tidak kelihatan dia sedang hidup menderita.

Sebetulnya pemuda ini pengin sekali melanjutkan kuliah, namun karena keterbatasan biaya dia harus kerja. Dia berangkat ke Kor-Sel juga tidak sengaja, dia berangkat karena ada tawaran dari gurunya. Ada les bahasa korea sekaligus kalau nilai lesnya bagus akan dicarikan lowongan kerja.

Dengan semangat tinggi pemuda ini langsung menyambut tawaran itu, dan kita tahu, dia langsung kerja di Kor-Sel. Selang setahun di Kor-Sel, dia diperkenankan kerja sambil kuliah oleh bosnya dan mendapat beasiswa full dari perusahaan. Tapi memang kuliahnya untuk meningkatkan kapasitas kerjanya, dia kuliah di bidang keahlian produksi.

Setelah empat tahun di Kor-Sel, dia pulang ke kampung halaman dan bersilaturahim dengan teman-temannya, salah satunya adek saya yang akhirnya saya bertemu dia dan berkenalan. Kami ngobrol kesana kemari dan melakukan tanya-jawab, pemuda ini betul-betul bersemangat bercerita tentang pengalamannya di Kor-Sel sampai-sampai saya hanya bisa mendengarkan dan sekali dua kali saja mengajukan pertanyaan, selebihnya forum dikuasai oleh dia.

Dari cara bicaranya terlihat sekali pemuda ini sosok yang bersemangat dan optimistis. Dia bercerita, prinsip yang dia pegang dalam melakukan apapun, harus fokus dan pastikan harus selesai. Bagaimana caranya? Kita harus tahu apa yang kita kerjakan, kalau belum tahu cari tahu dulu, dengan bertanya misalnya, sehingga bagaimana resiko dan hambatannya bisa kita perhitungkan. Kita juga harus tahu apa tujuan sesuatu yang kita kerjakan itu. Itu penting. Menurut dia “bagaimana kita bisa kerja kalau gak tau pekerjaan kita” begitu yang dia bilang.

Dia sendiri mengakui kalo kehidupan keluarganya memang jauh di bawah garis kemiskinan, tapi bagi dia buat apa diratapi, toh itu nasib, kalau suatu saat nasibnya berubah ya kita syukuri saja. Diapun tidak mau dikasihani, makanya dia tidak pernah menunjukkan sikap menderita dan memelas. Kalau kita dapat pekerjaan ya kerjakan saja dengan benar, kalau dapat kesempatan ya manfaatkanlah kesempatan itu sebaik-baiknya, tentunya sesuai dengan kemampuan kita, jangan over akting.

Baginya Kor-Sel negara yang mengagumkan, negara itu sama dengan Indonesia yang sama-sama pernah dijajah, bahkan Indonesia lebih dulu merdeka dibanding Kor-Sel. Tapi kita tahu, Kor-Sel jauh lebih pesat kemajuannya ketimbang Indonesia. Namun begitu dia tidak menyesal menjadi orang Indonesia, justru merasa bersyukur.

Ngomong-ngomong soal negara, saya tanya dia soal bagaimana Indonesia ini. Ternyata jawabannya sederhana, dia tidak berpikir apapun soal kenegaraan, baginya cukup dengan menjadi warga negara yang taat hukum itu sudah membuktikan rasa nasionalisme terhadap negara. Baginya, menghormati dan tunduk terhadap pemerintah adalah bukti sah kita adalah warga negara yang baik. Coba bayangkan kalau tidak ada pemerintah yang memfasilitasi kebutuhan rakyatnya?

Bagi pemuda ini, tidak mungkin dia bisa berangkat ke Korea dan merubah nasib kalau negara tidak pernah membuka akses kesana. Sebejat-bejatnya pemerintah, toh warganya masih difasilitasi banyak sekali kesempatan dan pelayananan. Baginya, mensejahterkan diri-sendiri, keluarga, dan kerabat dengan banyak-banyak bekerja dan membuka lowongan kerja adalah bukti riil kontribusi rakyat terhadap negara, apalagi kalau rutin bayar pajak, pasti kaya negara kita. Kalau toh nanti dikorupsi, biar tuhan yang membalas.

Begitu lama saya ngobrol dengan pemuda ini, dia betul-betul antusias mengungkapkan semua pendapatnya. Dia betul-betul tipikal orang yang sangat optimis dengan negara, tentu karena dia diberi fasilitas pekerjaan di Kor-Sel.

Setelah panjang lebar bicara soal negara, pemuda itu mulai menyinggung masalah agama. Menurut dia, Indonesia ini bangsa yang terlalu lebay dengan agama. Memang betul kita harus jadi bangsa yang relijius, tapi bukan relijius yang negatif, yang hanya mengajarkan kepasrahan saja, harus juga mengajarkan optimisme dan menunjukkan kenyataan dunia. Ini penting.

Kor-Sel juga negara yang relijius menurut dia, ya sama-sama bangsa timur lah, tidak ada yang mengaku Atheis. Tapi pemerintah Kor-Sel tidak mau ikut campur urusan agama, bahkan di KTP korsel tidak tercantum kolom agama. Institusi-institusi agama juga lebih banyak mengajarkan semangat mengisi kehidupan, ajaran agama yang umum di Kor- Sel adalah, tuhan tidak akan mengubah nasib manusia kalau manusia tdak mau mengubah nasibnya sendiri. Persis seperti salah satu ayat dalam Al-Qur’an, dan memang dulu Kor-Sel mengambil intisari ajaran Al-Qur’an dari masjid Baiturrahman Banda Aceh.

Obrolan dengan pemuda ini mengingatkan saya pada Serat Nitisruti, sebuah kitab klasik hasil olah pikir sastrawan jawa yang mengajarkan optimisme, fokus, tanggungjawab, sekaligus kepasrahan. Kitab yang seharusnya menjadi semangat hidup orang jawa.

Serat Nitisruti berbeda dengan serat-serat jawa lainnya yang lebih mengajarkan kepsrahan hidup dan mempersiapkan hidup setelah mati. Jika serat yang lain bersifat deterministik dengan lebih mengutamakan kepentingan alam akherat, serat nitisruti sebaliknya. Alam dunia tempat manusia hidup harus menjadi ladang perjuangan bagi manusia, ini sebetulnya yang sangat menentukan alam kematian.

Serat Nitisruti juga mengajarkan kebakaan di akherat, akan tetapi mustahil kita bisa mendapat tempat yang layak jika di dunia saja kita tidak berjuang. Hidup di dunia harus diperjuangkan, agama seharusnya mengajarkan perjuangan untuk mengisi kehidupan.

Saya mengandaikan serat Nitisruti ini dengan buku The Protestan Ethics And The Spirit Capitalisme karya Max Webber. Buku itu mengungkapkan, sebetulnya agama punya potensi untuk menggerakkan umatnya berjuang dan bekerja sekaigus bisa menjadi motor untuk negara. Saya sebetulnya curiga, kemungkinan karya Webber ini terinspirasi dari serat Nitisruti, tapi kita abaikan dulu soal ini.

Dari cerita pemuda ini, sebetulnya ini adalah kritik keras terhadap orang-orang yang sekarang sudah mulai pesimis dengan negara, bahkan kepada mereka yang pesimis dengan agama. Menurut saya, yang paling menentukan bagaimana kualitas kehidupan kita di dunia ya kita sendiri, bukan orang lain.


COMMENTS

Name

artikel,253,berita,106,Cerpen,4,esai,26,Fotografi,19,hiburan,7,jualbeli,1,kolom,4,opini,2,Puisi,20,resensi,3,sastra,14,semartv,5,
ltr
item
SemarNews.com: Serat Nitisruti; Tanggungjawab, Optimisme, dan Ketakwaan
Serat Nitisruti; Tanggungjawab, Optimisme, dan Ketakwaan
https://3.bp.blogspot.com/-md9gzbBtFtw/WEbWdJ-Lf9I/AAAAAAAAAIY/ANKjYmjhkqsP5yV_72l-PbbiyAi9CxKmQCLcB/s640/sunan%2Bkalijaga.JPG
https://3.bp.blogspot.com/-md9gzbBtFtw/WEbWdJ-Lf9I/AAAAAAAAAIY/ANKjYmjhkqsP5yV_72l-PbbiyAi9CxKmQCLcB/s72-c/sunan%2Bkalijaga.JPG
SemarNews.com
https://www.semarnews.com/2016/12/serat-nitisruti-tanggungjawab-optimisme.html
https://www.semarnews.com/
https://www.semarnews.com/
https://www.semarnews.com/2016/12/serat-nitisruti-tanggungjawab-optimisme.html
true
6531980057997603091
UTF-8
Loaded All Posts Not found any posts VIEW ALL Readmore Reply Cancel reply Delete By Home PAGES POSTS View All RECOMMENDED FOR YOU LABEL ARCHIVE SEARCH ALL POSTS Not found any post match with your request Back Home Sunday Monday Tuesday Wednesday Thursday Friday Saturday Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat January February March April May June July August September October November December Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec just now 1 minute ago $$1$$ minutes ago 1 hour ago $$1$$ hours ago Yesterday $$1$$ days ago $$1$$ weeks ago more than 5 weeks ago Followers Follow THIS CONTENT IS PREMIUM Please share to unlock Copy All Code Select All Code All codes were copied to your clipboard Can not copy the codes / texts, please press [CTRL]+[C] (or CMD+C with Mac) to copy