Sastra Sebagai Pendidikan Telah Berdampak Psikosomatis

foto:parenting.com

Oleh : Okty Budiati

Talqin
:gp

Lantaran kamu
Lebih memilih beton tumbuh
Di otakmu di matamu di telingamu di mukamu
Di dadamu di perutmu
Di duburmu di penismu
Di sekujur tubuhmu
Beton!
Maka bersimpuhlah kamu
Pada batang beton
Dan kelak
Katakan pada kedua malaikat
Bahwa semen adalah tuhanmu
Nabimu uang
Serta kitabmu?
Logika ngawur menjadi
Kitab pedoman hidup
Seenak-enak udelmu
Jangan lupa,
Ibadahmu adalah
Menerbitkan surat ijin petaka
Yang bakal
Memperkosa ibu bumu
Menista sesamamu!

Kelana Siwi
Kendal, 10 Desember 2016

Setelah membaca kembali satu per satu susunan kata dalam teks puisi di atas, kita dapat melihat sebuah kalimat terbaca sebagai sarkasme sekaligus dilematis. Sarkasme biasanya keluar dari ruang bawah sadar manusia scara personal apabila merasa terusik. Namun dalam sebuah karya sastra, sarkasme menjadi satu ciri atas kritik sosial kepada penguasa atau kebijakan bemasyarakat. Sarkasme menjadi bentuk sindiran satir. Awal munculnya karya dengan genre ini oleh Fyodor Dostoyevsky, sastrawan dari rusia. Gaya ini menjadi ciri di mana karya-karya yang demikian mendalam berbicara mengenai keadaan politik, sosial, dan spiritual di Rusia pada masanya secara psikologis.

Sedangkan di Indonesia bentuk-bentuk karya sarkasme cenderung muncul setelah tahun 1965. Ada masa di mana karya-karya seni pada tahun 1965-1970-an seakan hilang. Mungkin lebih tepatnya dihilangkan. Kemunculan baru dengan bentuk ironi/satir menjadi ciri dari sebuah karya sastra barulah hadir paska 1970-an. Sejarah masa lalu yang masih gelap membuat tali perkembangan seni budaya terputus. Pada lampiaran di tulisan ini saya akan menyisipkan sebuah artikel utuh yang pernah ditulis oleh Putu Oka Sukanta, salah seorang sastrawan Lembaga Kebudayaan Rakyat (LEKRA) dalam membaca perkembangan sastra di Indonesia yang masih tetap hadir di masa kini. (*terlampir)

Namun prinsip Ideologi tentang seni untuk seni yang diusung kelompok Manifest Kebudayaan hingga kini, bisa dipandang sebagai sebuah proses individu atau patriotisme namun sekaligus menjadi satu kerancuan atas realita sehingga sangat mungkin membentuk dualisme karakter psikologi manusia. Ada nilai yang sangat prinsip sekaligus kemunafikan dalam prakteknya. Bagi saya sendiri, seni adalah proses dari kehidupan itu sendiri, berarti seni untuk seni adalah sebuah proses manusia dalam kehidupan kesehariannya. Namun sekaligus menjadi kehancuran kemanusiaan karena proses ini cenderung bersifat personal, sehingga karakter ini mampu menumbuhkan ketidakmapanan dalam ideologi hidup.

Jika kita kembali membaca ulang sejarah yang hingga kini masih belum benar-benar terbuka lebar, maka sebuah gerakan kebudayaan di masa 1950-1965 melalui karya-karya yang dihadirkan akan memiliki benang merah di setiap karya yang ada, baik sastra, rupa, musik, drama, hingga film. Sehingga karya-karya yang kini bermunculan dan lebih bersifat sarkasme dapat dipahami sebagai sebuah budaya yang sakit. Karya-karya satir ini menjadi satu pemicu gerakan anarki yang tidak terkontrol, bahkan mungkin bisa dikatakan sebagai budaya pop saat ini. Sehingga tanpa disadari, kebudayaan yang sakit ini menjadi bentuk euforia masyarakat dengan latar belakang terjadinya satu trauma psikologi yang tidak lagi bersifat individu namun massal.

Eksistesi gerakan manusia dalam satu budaya yang mengarah kepada perubahan budaya sangatlah erat berkaitan dengan keseharian. Kompleksitas individu hingga sejarah kemanusiaan dalam satu masyarakat yang belum bersifat merata secara pendidikan, ekonomi, industri akan mengakibatkan manusia itu mengalami keterasingan dengan diri sendiri. Keterasingan ini berkembang menjadi satu konflik pribadi seperti kegelisahan, kemarahan, kekecewaan, kesedihan, hingga bunuh diri.

Ketimpangan sosial yang adapun tidak mampu merangkul manusia dengan manusia yang lain untuk saling bekerjasama kecuali adanya satu kesetaraan semu yang telah dibentuk oleh kekuasaan yang berlaku. Sehingga manusia yang hidup dalam tatanan yang rapi dengan mengikuti segala aturannya menjadi cenderung kaku, jika boleh saya katakan; sebenarnya mereka telah kehilangan hasrat hidup untuk hidup dengan hidup itu sendiri. Memanipulasi kehidupan yang terselimuti oleh etika moral yang baku, tidak lain adalah tatanan doktrin dari hukum negara yang berkuasa saat ini atas rentetan sejarah bangsa ini sendiri. Tubuh manusia di sini akhirnya menjadi media komuniskasi bagi kekuasaan melalui pendidikan. Derita serta tekanan psikis yang telah dibentuk secara langsung akan memunculkan kompleksitas dalam berpikir yang tentu saja akan berdmpak langsung pada sistem tubuh manusia (Psikosomatis)

Psikosomatis sendiri merupakan penyakit psikis yang menurut Franz Alexander, seorang pakar psikoanalisis, berpendapat bahwa kondisi psikis ini akan mempengaruhi fungsi pencernaan khususnya pada bagian dinding lambung. Di mana konflik emosi personal/individu atas trauma perasaan terluka, kecewa, kehilangan hingga perasaan duka atas kematian akan secara langsung mempengaruhi fungsi organ tubuh. Kondisi ini secara nyata hadir daam masyarakat yang telah mengalami berbagai macam kekerasan fisik maupun psikis, hingga ketimpangan sosial, baik secara ekonomi, pendidikan, dan status eksistensi di lingkungan sosial. Reaksi yang ditimbulkan pada tekanan psikis ini secara reflek menghadirkan berbagai macam bentuk seperti sikap anti sosial, anarki, hingga bunuh diri; bunuh diri secara karakter dalam sosial dan kematian.

Konsep kekerasan politik dalam pendidikan yang telah dihadirkan sastra selama ini sebenarnya scara langsung telah mematikan daya kreatifitas manusia secara massal. Melalui berbagai macam gaya bahasa, sebuah bahasa telah menjadi pembunuh paling keji atas hak hidup manusia. Saya harap, dunia seni budaya dapat membaca hal ini sebagai satu gejala psikosomatis yang perlu dicari solusinya bersama-sama menuju satu bentuk gerakan budaya dalam pendidikan yang lebih positif. Karya, apapun itu (ilmiah dan seni), sebaiknya mampu menjadi satu metode terapi bagi pelaku maupun pembaca.


Jakarta, 18 Desember 2016

Comments

Popular posts from this blog

Lantik Ranting NU se Kecamatan Gunungpati, Kiai Hanif Tunjukkan Peran NU Hadapi Tantangan

Lawan Terorisme, FKPT Jateng Kenalkan Konsep Gemeter

Sarasehan Jurnalistik, Gerakan Santri Menulis Lawan Paham Radikalis

Ragam Aksi Teror, Ika Unnes Sampaikan Pernyataan Sikap

PB PMII Dukung POLRI Berantas Terorisme Sampai Ke Akar-Akarnya