Cerpen: Tertipu Persekongkolan Jahat Para Setan

Cerpen: Tertipu Persekongkolan Jahat Para Setan


foto:harris Oyik

BARDAH terpana. Vonis Hakim yang baru saja di jatuhkan serupa geledek menyambar dirinya. Ia tidak mengira bakal mendapat vonis sesuai dengan apa yang dituntutkan Jaksa. Sejenak matanya melirik ke kanan, dilihatnya Suto masih tegak bagai cadas. Matanya tajam memandang ke depan dan parasnya terlihat sangat tenang. Bahkan nampak anggun! Dan ketika Bardah mencoba melirik ke kiri, Mujab berkaca-kaca nampak matanya.

Demi melihat wajah Mujab, meski lewat sebuah lirikan, Bardah seperti dibanting dalam liang kemarahan. Ia marah kepada Mujab! Karena bagaimanapun, Mujablah yang membawa dirinya hari ini bukan saja menjadi terpidana, tapi juga membawa dirinya sebagai seorang penghianat! Dengan kelakuan cerobohnya, Bardah telah rela menghianati Suto, kawan seperjuangannya. Dan baru kali inilah selama lebih dari setengah abad ia hidup di dunia baru merasakan bagaimana rasanya menjadi manusia yang tidak berguna.


Ya, Suto, Bardah dan Mujab telah didakwa melakukan pembalakan liar, penyerobotan tanah dan permufakatan jahat pada tanah di mana sudah sejak turun menurun dari kakek moyang, mereka bersama warga desa telah mengolah tanah itu. Masing-masing sebaga tersangka 1, 2 dan 3, ketiganya telah dijerat dengan pasal yang pada akhirnya mendudukkan mereka sebagai pesakitan di pengadilan.

Pada awalnya mereka adalah tiga kekuatan yang satu. Di belakang mereka, warga desa beramai-ramai soroh bahu untuk membela. Satu ditersangkakan, semua jadi tersangka. Satu ditahan, semua ditahan. Begitu semboyan warga desa menemani mereka. Sehingga rasa gigrik menjauh dari mereka.

“Apapun yang terjadi, kita harus tetap mempertahankan tanah ini!!! Bukan demi diri kita sendiri… melainkan untuk anak cucu kita!!!! Kita pertahankan tanah ini… sadhumuk bathuk, sanyari bumi… harus kita hadapi sampai pecah dada dan tumpahnya darah!!! Rawe-rawe rantas, malang-malang putung!!!” Begitu teriak Bardah suatu malam di hadapan warga desa yang tengah menggelar tirakatan di makam tetua desa. Dan warga desapun menyambut teriakan dengan penuh sukacita.

Selanjutnya, paginya mereka semua berkumpul di lading. Dengan dipimpin oleh Bardah, warga mencoba melakukan pembagian tanah… atau lebih tepatnya pengaturan tanah agar warga beroleh tanah garapan dengan adil. Tidak ada yang berlebih dan juga tidak ada yang berkurang. Kerja-kerja pengukuran itu dilalui dengan riang ria lantaran terbayang masa depan yang lebih baik. Bardah tersenyum menyaksikan semua itu.

(bersambung)

Comments

Popular posts from this blog

Lantik Ranting NU se Kecamatan Gunungpati, Kiai Hanif Tunjukkan Peran NU Hadapi Tantangan

Lawan Terorisme, FKPT Jateng Kenalkan Konsep Gemeter

Sarasehan Jurnalistik, Gerakan Santri Menulis Lawan Paham Radikalis

Ragam Aksi Teror, Ika Unnes Sampaikan Pernyataan Sikap

PB PMII Dukung POLRI Berantas Terorisme Sampai Ke Akar-Akarnya