Kontra-Nasionalisme Kendeng dan Papua

Solidaritas Kendeng, Puluhan Mahasiswa Papua Cor Kaki di Monas

Sebelumnya saya gak pernah nyinggung-nyinggung soal papua, tapi hari ini saya nulis karena isu soal kemerdekaan papua udah mulai reda. Dulu pas waktu papua diisukan merdeka masih kenceng, mana berani saya komentar, takut mencederai nasionalisme. Tapi apa mau dibuat, wong berkunjung ke Papua aja belum pernah.

Ini ada cerita dari temen, temenku itu temennya jadi tentara di papua. Dia cerita aksi-aksi heroiknya dalam menumpas “pemberontak” yang pengin Papua Merdeka.

Si tentara itu dengan bangga nendang, mukul, nyubit, sekaligus nelanjangin para “pemberontak”. Denger cerita ini hatiku jadi perih banget.

Saya kepikiran ketika Belanda njajah bangsa ini. Bangsa kita dituduh pemberontak, bodoh, dan harus “ditertibkan”. Dengan cara pandang kayak gini negeri belanda merasa sah memerintah Indonesia. Dan sekarang giliran Papua yang distigmatisasi sebagai suku primitifi, labil, pemberontak dan harus “ditertibkan” oleh Indonesia. Sekaligus Indonesia merasa sah buat nerima divestasi Freeport yang udah ngacak-ngacak Papua, padahal perusahaan bejat itu dateng juga karena prakarsa pemerintah Indonesia.

Jujur aja, saya sendiri gak rela kalo Papua pisah dari NKRI, wong di sana banyak pemain bola brilian yang bisa ngangkat prestasi timnas. Tapi kalo cara memperlakukan orang Papua sekasar itu mana tega saya ngelihatnya. Masa iya bangsa kita jadi bangsa penjajah.”

Papua gabung sama Indonesia itukan karena pengin kehidupannya lebih maju, kalo toh gabungnya mereka karena”dipaksa” sama Soekarno, itu malah jadi kewajiban maha besar buat Negara kita Menuhin kebutuhan dasar orang papua, mulai pendidikan, kesehatan, dan kesejahteraan. Jangan cuman eksploitasi kekayaan alam secara membabi buta dong. Sekarang malah cuman dieksploitasi kekayaan alamnya doang.

Problema hidup orang Papua sebenernya udah bukan rahasia lagi. Kondisi hidup yang “ditelantarkan” kayak gitu dialami hampir sepertiga Warga Negara Indonesia. Termasuk warga di pegunungan kendeng. Mereka ditelantarkan kayak gitu bukan karena negara gak bisa ngurus, memang itu konsekwensi dari pembangunan yang disetting berat sebelah.

Trend pembangunan di Indonesia antara lain; kalo di suatu daerah punya potensi tambang pasti pembangunan infrastruktur dasar buat warga gak memadai, contoh jalan dibikin jelek, irigasi alakadarnya, gak ada subsidi rumah, gak ada penyuluhan pertanian, dll. Hal itu emang sengaja buat persiapan jika sewaktu-waktu BUMN atau perusahaan asing mau investasi tambang bisa segera melakukan eksplorasi tanpa “bongkar-pasang” infrastruktur lagi. Contoh daerah-daerah yang kayak gini pedalaman Sumatra, pedalaman Kalimantan, pedalaman Papua, dan Pegunungan Kendeng.

Kebalikannya kalo suatu daerah potensinya lebih kepariwisata, pasti daerahnya punya status hutan lindung, cagar alam, atau taman nasional. Contohnya Raja Ampat, Bali, Lombok, Wakatobi, dan beberapa daerah yang eksotis tapi gak punya potensi tambang. Daerah-daerah ini akan banyak pembangunan hotel, jalan raya, dan spot-spot mewah lain.

Beda lagi dengan kota-kota adminstratif seperti ibukota provinsi, kota-kota ini pasti mengedepankan motropolitanisme. Dan kota-kota penyangga disekitarnya dijadikan kawasan industri serta perumahan.

Lantas bagaimana dengan petani, nelayan, dan peternak? Menyesuaikan aja dengan kebutuhan pembangunan. Petani, nelayan, dan peternak kelas bawah kontribusi pajaknya minim. Kalo petani biasanya bisa digandeng dengan program pengembangan pariwisata. Lah kalo nelayan sama peternak, udah kumuh bau lagi, gak cocok kalo digandengkan kepariwisata. Gusur aja...

Coba renungkan, pajak aja minim, apalagi mbantu negara buat program pembangunan. Apa layak para petani, nelayan, dan peternak tetep dipertahankan sebagai tulang punggung perekonomian nasional?

Kalo kita melihat lagi kehidupan ekonomi masyarakat Papua yang lebih suka bertani, beternak, dan menangkap ikan, kira-kira pemerintah memandang mereka sebagai berkah atau beban? Sementara kekayaan tambangnya kalo dijadiin duit jumlahnya bisa jutaan triliyun, sedangkan warga papua gak mau jadi penambang karena takut kualat sama alam tempat mereka hidup. Ironis kan...

Demikian juga dengan warga kendenga yang mati-matian melindungi ibu bumi dari gempuran pabrik semen.


Negara gak ada urusannya sama ibu bumi, ngapain ngurusin wong lek Joko aja gak pernah kenal. Yang penting nambang trus jadi duit. Kalo udah jadi duit, dikemanain duitnya...??

Comments

Popular posts from this blog

Sarasehan Jurnalistik, Gerakan Santri Menulis Lawan Paham Radikalis

Bangun SDM dan Tekankan Peran Keluarga dalam Pendidikan

PB PMII Dukung POLRI Berantas Terorisme Sampai Ke Akar-Akarnya

Tebarkan Kasih di Gersangnya Hati

Lawan Terorisme, FKPT Jateng Kenalkan Konsep Gemeter