Warisan Perlawanan dari PATMI

foto:akunfacebooklapaksemogabarokah

PATMI, panggilan sederhana dari sebuah daerah sederhana dan pasti nama itu diberikan oleh orangtua yang berkehidupan sederhana dan hanya memiliki pandangan hidup sederhana pula. Bagi dia kesederhanaan adalah kehidupan itu sendiri, tak perlu ngoyo-woromencari “penghidupan” yang berlebihan. Cukuplah dengan apa adanya dia ditakdirkan hidup, tidak lebih.

Higgga pada suatu hari di mana kesederhanaan yang dia nikmati diganggu oleh korporasi semen yang maha bejat yang dengan angkuhnya akan mengangkat kehidupan Patmi yang sederhana menuju kemakmuran. Pertanyaan yang selalu terngiang di benak Patmi “kemakmuran macam apa yang akan diberikan pabrik semen itu? Toh dengan kesederhanaan aku tak merasa kekurangan.”

foto:akunfacebooknaomisrikandi


Patmi yang kesehariannya menghidupi Ibu Bumi dengan bertanipun bertanya langsung kepada para penguasa, “kemakmuran yang bagaimana yang akan kami dapat dari pabrik semen? Apakah kami bisa beradaptasi dengan pekerjaan baru di pabrik itu? Atau bagaimana? Apakah masih kurang kemakmuran dengan menanam bahan pangan untuk bangsa ini?”

Tak digubris pertanyaan itu oleh penguasa, Patmi menantang dengan wajah memerah lalu berteriak “jika kalian jadikan gunung kendeng sebagai lahan pertambangan semen, kami akan mengutuk kalian...!!”


Kekuatan dan ketangguhan Patmi mengangkat perlawanan patut kita jadikan contoh. Di tengah gema gerakan sosial yang tak jelas visinya, Patmi memberi sinar pencerah bahwa perlawanan memang tak pernah mati.

Comments

Popular posts from this blog

Lantik Ranting NU se Kecamatan Gunungpati, Kiai Hanif Tunjukkan Peran NU Hadapi Tantangan

Lawan Terorisme, FKPT Jateng Kenalkan Konsep Gemeter

Ragam Aksi Teror, Ika Unnes Sampaikan Pernyataan Sikap

Wow, Seminar Hasil Penelitian Balai Litbang Agama Semarang Ungkap 42 Persen Mahasiswa LDK Setuju Khilafah

FKPT Jateng Ajak Tingkatkan Kewaspadaan Dini Hadapi Terorisme