Posts

Showing posts from April, 2017

PSSI saja bisa dibekukan, kenapa HTI tidak?

Image
Masih ingat waktu PSSI dibekukan pemerintah, tepatnya oleh menpora, gara-gara organisasi induk bal-balan itu dianggap sembrono. Bukannya fokus ngurusin bola malah PSSI dijadikan bahan bancaan para politisi berjas kuning.
PSSI yang harusnya “dikuasai” oleh orang-orang yang kapabel dalam urusan sepak bola, malah yang terjadi para mantan pemain bola, pelatih, pengamat, profesor-profesor olahraga, dan sejenisnya diusir. Mereka gak dijinin masuk ke PSSI dengan asumsi orang-orang kayak gini cuman paham masalah teknis sepak bola tapi gak paham soal ke-organisasi-an.
Akhirnya banyak politisi-politisi oportunis yang nendang bola aja gak bisa malah duduk jadi ex-co di PSSI.
Daripada ngabis-ngabisin duit sponsor, mending dibekuin aja sekalian. Toh negara gak bakal rugi kalo gak punya PSSI. Rakyat juga masih bisa kok main sepak bola, sekalipun gak dianggep sama FIFA. Yah apa sih FIFA. Itu cuman organisasi transnasional yang mengklaim diri sebagai “negaranya” sepakbola. Persis kaya Hizbut-Tahrir da…

Antara Candana dan Mataram

Image
Menjelang runtuhnya Majapahit di abad ke-15, Demak dan kota-kota pelabuhan di pantai utara memanfaatkan peluang untuk menyebarkan Islam dan mengganti ideologi Dewa-Raja di wilayah pedalaman Jawa dan pantai selatan.
Transisi ideologi ini berlangsung cukup cepat karena para tokoh Islam dan ulama tinggal di desa-desa, plosok-plosok, dan bekerja di sawah-ladang bersama para petani. Peran Ulama seperti inilah yang mampu memikat rakyat Majapahit beralih menjadi “warga negara” kerajaan Islam.
Akan tetapi Mataram, sebagai kerajaan Islam terbesar di pantai selatan Jawa, justru memelihara konsep Dewa-Raja dengan memodifikasi raja/sultan sebagai panotogomo (Pemimpin Agama).
Sultan Mataram sendiri menyejajarkan agama dengan Negara. Bahkan sang Sultan dianggap sebagai wahyu/firman tuhan untuk memimpin agama dan negara. Dalam konsep ini dirumuskan bahwa rakyat menyatu dengan sultan dan sultan menyatu dengan tuhan sehingga rakyat juga menyatu dengan tuhan.
Berdasarkan konsep ini tidak boleh ada seora…

Debu Proyek Tol; Kalo Hujan Becek, Kalo Panas bikin Kelilipan

Image
Setiap proyek infrastruktur pasti mengandung resiko, wajar sih emang. Tapi apa jadinya kalo resiko itu gak diantisipasi, pasti runyam urusannya.
Kebanyakan proyek di indonesia, pulau jawa khususnya, wabil khusus di kalangan masyarakat jawa yang abangan dan ijoan (bisa NU, PKB, PPP, atau Ijo-ijo yang lain) yang jelas bukan masyarakat kuningan (sebut saja GO**AR) apalagi biruan (MU******ah) yang modernis itu, yang namanya pembangunan pasti makan tumbal, tinggal siapa yang jadi tumbal dan berupa apa tumbalnya.
Kalo buat golongan kuningan dan biruan sih pembangunan itu niscaya, negara gak akan maju kalo gak ada pembangunan (semua orang bilang gitu kali), apapun resikonya pembangunan harus tetep jalan demi kesejahteraan bangsa dan negara.
Tapi pembangunan, apalagi proyek infrastruktur harus tetep dikawal gan, jangan mentang-mentang demi bangsa dan negara trus kita diem aja. Lebih-lebih kalo tumbal proyeknya masyarakat umum yang gak punya urusan sama pembangunan.
Contohnya proyek …

Jika Wahyu Telah Hilang, Ibukota Akan Gamang

Image
Saya meniru tulisan almarhum Onghokham tentang konsep kekuasaan tradisional. Menurut “grand master” sejarah nusantara ini, tradisi kekuasaan Nusantara (khususnya Jawa) sebetulnya tidak dilekatkan kepada kedinastian yang berorientasi kepada keturunan sebagai pewaris tahta. Tapi menurutnya, kekuasaan di Nusantara lebih didasarkan kepada wahyu tuhan (Wahyu Kedaton. Red).
Konsep kekuasaan berdasarkan wahyu ini memiliki dua kecenderungan mutlak. Dalam satu sisi kekuasaan bisa sangat absolut, tapi di sisi lain kekuasaan sebuah dinasti sangat rapuh berlangsung sangat singkat. Jika ada seorang penguasa yang gagal dalam meyakinkan rakyat bahwa dia mendapat wahyu kedaton, pasti dengan mudah sang penguasa bisa digulingkan.
Karena itulah suatu dinasti di Nusantara umumnya berumur maksimal 100 tahun. Berbeda dengan dinasti-dinasti di Mesir, Cina, dan India yang satu dinasti bisa mempertahankan keuasaan selama ribuan tahun. Bahkan, mayoritas dinasti-dinasti kecil di Nusantara umurnya tidak mencapai s…

Pesona Harlah PMII

Image
Tentangmu... Adalah suatu KETIDAKBOSANAN yang tak perlu kujelaskan 57 tahun sekarang usiamu PMII Tetap beriman & Bernyali. "BerPMII-lah wahai kalian semua, kelak kedepan nanti kamu akan merasakan betapa nikmatnya hidup ini adalah suatu bentuk proses bukan Mak bedunduk hasil.
Kita akan bernilai jika kita ikut berproses, akan tetapi kita tak akan punya nilai jika kita hanya puas hidup dalam satu tahap saja alias hedonis, apatis bahkan pragmatis. Nilai dasar pergerakan (NDP) tak bisa diamalkan jika kita sendiri belum pernah masuk,ikut bahkan mendalami di dalam PMII.
Berproseslah karena hidup selalu berkelanjutan bukan stagnan diam. Gerak, bergerak, dan menggerakkan. Jenjang-jenjang pergerakan harus dilalui dengan niat tulus berproses, sabar dalam menghadapi gejolak konflik internal maupun eksternal yang melanda dalam proses kaderisasi.
Bergeraklah secara kolektif-progressif biar kelak nanti kita mampu melalui benturan-benturan yang maha dahsyat dan akhirnya kita menjadi kader ya…

Asyiknya Plikada DKI dalam Dongeng Sebelum Tidur

Image
Ada sebuah cerita yang sebenarnya saya sendiri tidak paham secara utuh. Maka dari itu sebelum saya lanjut ada baiknya saya minta maaf karena tulisan ini ditulis dengan logika yang tidak tuntas. saya sendiri memang gegabah untuk membuat postingan ini karena rasa penasaran yang tak kunjung usai. Maka dari itu, kisah ini juga tidak layak untuk dijadikan refrensi untuk melihat dinamika pilkada DKI.
Daripada kelamaan, langsung saja saya sajikan kisahnya.
Ceritanya begini.
Di sebuah tempat di Jakarta, saya bertemu dengan politisi pendukung Ahok-Djarot. Dia cerita ngalor-ngidul soal dinamika menjelang pilgub. Isu keimanan dan sentiment keagamaan jadi bahan gorengan yang laku keras. Setiap orang menawarkan bumbu-bumbu sebagai penyedap rasa. Jadilah ibu kota Negara kita sebagai ibu kota yang paling “berketuhanan” di dunia, karena tuhan sudah berhasil “dihasut” untuk menjadi pendukung salah satu pasangan calon Gubernur.
Tapi bukan hal itu yang menarik buat saya, toh soal isu keagamaan sudah sering …

Popular posts from this blog

Lantik Ranting NU se Kecamatan Gunungpati, Kiai Hanif Tunjukkan Peran NU Hadapi Tantangan

Lawan Terorisme, FKPT Jateng Kenalkan Konsep Gemeter

Sarasehan Jurnalistik, Gerakan Santri Menulis Lawan Paham Radikalis

Ragam Aksi Teror, Ika Unnes Sampaikan Pernyataan Sikap

FKPT Jateng Ajak Tingkatkan Kewaspadaan Dini Hadapi Terorisme