Antara Candana dan Mataram

foto:hannystiawan

Menjelang runtuhnya Majapahit di abad ke-15, Demak dan kota-kota pelabuhan di pantai utara memanfaatkan peluang untuk menyebarkan Islam dan mengganti ideologi Dewa-Raja di wilayah pedalaman Jawa dan pantai selatan.

Transisi ideologi ini berlangsung cukup cepat karena para tokoh Islam dan ulama tinggal di desa-desa, plosok-plosok, dan bekerja di sawah-ladang bersama para petani. Peran Ulama seperti inilah yang mampu memikat rakyat Majapahit beralih menjadi “warga negara” kerajaan Islam.

Akan tetapi Mataram, sebagai kerajaan Islam terbesar di pantai selatan Jawa, justru memelihara konsep Dewa-Raja dengan memodifikasi raja/sultan sebagai panotogomo (Pemimpin Agama).

Sultan Mataram sendiri menyejajarkan agama dengan Negara. Bahkan sang Sultan dianggap sebagai wahyu/firman tuhan untuk memimpin agama dan negara. Dalam konsep ini dirumuskan bahwa rakyat menyatu dengan sultan dan sultan menyatu dengan tuhan sehingga rakyat juga menyatu dengan tuhan.

Berdasarkan konsep ini tidak boleh ada seorangpun yang menentang sultan. Bisa jadi dari sinilah konsep manunggaling-kawula gusti muncul yang kemudian sangat mempengaruhi Syech Siti Jenar yang mencoba melawan Walisongo di Demak.

Konsep kekuasaan ini ditentang oleh Sunan Ampel dan Sunan Giri yang memiliki pengaruh kuat di pantai utara. Setelah itu Mataram membangun koalisi dengan VOC untuk melawan penentangan dari kedua sunan itu. Terjadilah peperangan-peperangan yang melibatkan VOC sebagai dalangnya.

Di pedalaman sendiri terjadi dua kali pembantaian besar terhadap ulama yang dianggap mengganggu stabilitas kekuasaan mataram di zaman sultan Amangkurat I.

Kesultanan Mataram memang sangat brutal dalam membinasakan ulama yang beda pendapat dengan kraton. Karena hanya dengan cara seperti inilah Mataram menjaga stabilitas kekuasaan. Mataram hanya “memelihara” ulama dengan keilmuan dangkal yang hanya meng-iya-kan sikap politik penguasa.

Pada akhirnya Mataram menang terhadap perlawanan oposisi, tapi karena ada bantuan VOC di situ, maka VOC meminta jatah kepada Mataram. Karena keteledoran penguasa Mataram inilah penjajahan bangsa Belanda dimulai.

Konsep kekuasaan tradisional yang didominasi aroma agama masih berlaku di panggung politik modern. Polanya tetap sama, seolah-olah ada pertentangan ideologis tapi sesungguhnya yang dipertentangkan soal penguasaan sumber daya dan aset negara.

Kehadiran tokoh agama yang mau berkompromi dengan penguasa sangat dibutuhkan. Bila perlu sang penguasa memelihara tokoh agama yang tega mengkafir-bid’ah-sesat-kan sesamanya. Jika ada tokoh agama lain yang kritis terhadap penguasa, maka dengan segera tokoh agama tersebut dituduh beda aliran dan memiliki ajaran sesat.

Kroni-kroni cendana yang selalu menjadikan agama sebagai senajata politik jelas bertentangan dengan prinsip Islam yang ingin menjadikan agama sebagai jalan hidup manusia.

Geng cendana memberi posisi kelompok Islam garis keras di MUI dan dibuatkan organisasi serta dibuatkan wadah untuk berdakwah di TV agar siap bertarung dengan semua lawan politiknya.

Stelah kelompok Islam garis keras dipelihara, Geng Cendana membangun kongsi politik dengan para pengusaha kaya yang pernah dibesarkan Soeharto, mereka berperan sebagai donatur politik. Para donatur politik ini tentunya meminta mahar berupa sumber daya negara dan seluruh aset negara seperti halnya Mataram dengan VOC.

Sebetulnya, baik Mataram dan cendana bukanlah entitas politik yang menguasai modal. Mereka hanya menjual pengaruhnya dan melakukan perselingkuhan antara kekuasaan, agama, dan modal. Geng cendana tak peduli ketika perselingkuhan itu membawa kehancuran untuk bangsanya.


Tiba-tiba saya teringat ketika Mourinho mundur dari Chelsea tahun 2007 karena Abramovich tunduk dihadapan sponsor klub dan pemodal yang mengintervensi pembelian pemain.

Comments

Popular posts from this blog

Sarasehan Jurnalistik, Gerakan Santri Menulis Lawan Paham Radikalis

Bangun SDM dan Tekankan Peran Keluarga dalam Pendidikan

PB PMII Dukung POLRI Berantas Terorisme Sampai Ke Akar-Akarnya

Tebarkan Kasih di Gersangnya Hati

Lawan Terorisme, FKPT Jateng Kenalkan Konsep Gemeter