Asyiknya Plikada DKI dalam Dongeng Sebelum Tidur

foto:amg.antaranews.com

Ada sebuah cerita yang sebenarnya saya sendiri tidak paham secara utuh. Maka dari itu sebelum saya lanjut ada baiknya saya minta maaf karena tulisan ini ditulis dengan logika yang tidak tuntas. saya sendiri memang gegabah untuk membuat postingan ini karena rasa penasaran yang tak kunjung usai. Maka dari itu, kisah ini juga tidak layak untuk dijadikan refrensi untuk melihat dinamika pilkada DKI.

Daripada kelamaan, langsung saja saya sajikan kisahnya.

Ceritanya begini.

Di sebuah tempat di Jakarta, saya bertemu dengan politisi pendukung Ahok-Djarot. Dia cerita ngalor-ngidul soal dinamika menjelang pilgub. Isu keimanan dan sentiment keagamaan jadi bahan gorengan yang laku keras. Setiap orang menawarkan bumbu-bumbu sebagai penyedap rasa. Jadilah ibu kota Negara kita sebagai ibu kota yang paling “berketuhanan” di dunia, karena tuhan sudah berhasil “dihasut” untuk menjadi pendukung salah satu pasangan calon Gubernur.

Tapi bukan hal itu yang menarik buat saya, toh soal isu keagamaan sudah sering saya dengar sekalipun tidak di Jakarta. Yang bikin kuping saya betah berlama-lama mendengarkan cerita itu adalah bagaimana si politisi ini sudah merasa mendapat kepercayaan dari tuhan untuk mensukseskan Ahok-Djarot.

Bagi politisi ini, musuh politiknya yang saat ini berbicara bagaimana memelihara keimanan dengan memilih pemimpin yang juga seiman, bukan pemimpin kafir, adalah orang-orang yang canggung dengan imannya sendiri. Artinya, orang-orang yang mendukung Anis-Sandi adalah orang yang masih butuh penyempurna iman karena imannya belum sempurna.

Beda dengan pendukung Ahok-Djarot, wabil khusus si politisi ini yang udah yakin betul dengan keimanannya sehingga tanpa keraguan dia mendukung Ahok walaupun beda iman. Baginya, memilih pemimpin yang kredibel dan mumpuni adalah sebuah jihad yang sangat mulia.

Di level ini, si politsi ini bukan hanya merasa yakin dengan keimanannya, dia justru yakin sudah mendapatkan kepercayaan dari tuhan untuk mendukung pasangan calon yang pas untuk menyelesaikan banyak persoalan yang menumpuk di Jakarta.

Boleh jadi dia menganggap diri sama dengan As-sabiqun Al-Awalun (sahabat-sahabat nabi paling awal) yang berjuang “mempromosikan” status kenabian dan kerasulan Muhammad SAW.

Menariknya, yang bikin saya ketawa, si politisi ini selalu tahajud dan berdoa tiap malam, bilangnya sih demi kemenangan Ahok-Djarot. Dia melakukannya dengan ikhlas. Dari keikhlasan yang dia lakukan dalam ritual ibdahnya itu, dia merasa dibisiki bahwa pasangan calon yang dia dukung sekarang adalah pemimpin yang dikirim tuhan untuk Jakarta, sekali lagi, walaupun beda iman. Toh dahulu kala Gusudur pernah meramal kalo Ahok bakal jadi pemimpin masa depan (wallahu a’lam).

Tapi ya karena yang cerita adalah politisi, yang menurut saya selalu bicara dengan kadar ketidak-pastian akut, bagi saya cerita itu hanya sebuah dongeng yang menarik menjadi “suplemen” obat tidur.

Comments

Popular posts from this blog

Lantik Ranting NU se Kecamatan Gunungpati, Kiai Hanif Tunjukkan Peran NU Hadapi Tantangan

Lawan Terorisme, FKPT Jateng Kenalkan Konsep Gemeter

Sarasehan Jurnalistik, Gerakan Santri Menulis Lawan Paham Radikalis

Ragam Aksi Teror, Ika Unnes Sampaikan Pernyataan Sikap

PB PMII Dukung POLRI Berantas Terorisme Sampai Ke Akar-Akarnya