Pesan Sejarah dan Nasionalisme dalam kitab Pegon Jawa



Semarnews.com | Semarang - KH Bisri Mustofa Rembang atau Mbah Bisri, ayahanda KH Musthofa Bisri (Gus Mus) disebutkan sebagai Ulama kharismatik yang memiliki banyak karya. Diungkapkan oleh Ketua PPIBJ (Pusat Pengkajian Islam dan Budaya Jawa) Drs KH Anashom MHum bahwa banyak hal menarik terkait karya Mbah Bisri bila ditelaah secara mendalam memiliki pesan sejarah dan nasionalisme. Menurut dia Mbah Bisri merupakan ulama Jawa yang sangat luar biasa, produktif dalam karya dan harus menjadi teladan bagi umat Islam, "Kita harus banyak berguru dari karya beliau yang berjumlah 176 kitab dan buku" kata Anashom.

Hal tersebut menjadi latar belakang diskusi di metting room LP2M UIN Walisongo yang membedah tiga kitab Jawa pegon karya Mbah Bisri, Selasa (20/2/2016). Dikatakan bahwa Tafsir Al Ibriz, Tarikhul Auliya' dan Ngudi Susilo, merupakan sebuah karya klasik yang mengandung unsur nasionalisme dan memiliki unsur sejarah yang cukup kuat, "Tiga kitab yang dikupas ini jelas memberikan warna karya ulama Jawa yang sangat peduli terhadap sejarah dan nasionalisme" kata M Rikza Chamami, dosen FITK UIN Walisongo yang membedah Kitab Ngudi Susilo. Menurut dia, pesan nilai dalam sejarah Walisongo hingga kemerdekaan Indonesia ditulis secara rapi oleh Mbah Bisri dalam Kitab Tarikhul Auliya'. Sedangkan pesan-pesan mencintai agama dan negara ditulis dalam Kitab Ngudi Susilo.

Kehebatan Mbah Bisri dalam membuat Tafsir Al Ibriz juga diungkapkan oleh Dr Abu Rokhmad MAg, dosen FISIP. Menurutnya ulama dahulu belum ada yang membuat karya terjemahan dan tafsir Al Qur'an "Dulu tidak ada yang bisa menerjemah 30 juz tafsir yang dikarang Mbah Bisri karena saking sempurnanya" ucapnya. "Setiap ada yang mau menerjemah selalu gagal di tengah jalan." Lanjutnya. Ia menjelaskan bahwa tujuan menulis tafsir Al Ibriz agar masyarakat Jawa yang tidak paham bahasa Arab bisa mengetahui artinya dengan bahasa Jawa. "Ada pola makna gandul khas pesantren dan terjemah bebas dalam tafsir Al Ibriz ini" Tutur Abu menerangkan.
Ditambahkan olehnya bahwa tafsir tersebut telah digunakan untuk mengajar para santri yang sekarang ini menjadi Kyai pesantren yang tersebar di seluruh Indonesia bahkan di Malaysia, Brunei dan Thailand.

Hal yang dipetik dari diskusi tentang karya Pegon Mbah adalah seorang tokoh yang luar biasa, tekad yang kuat dalam belajar ilmu agama telah mengantarkan Mbah Bisri menjadi sebuah panutan dengan wawasan ilmu agama yang menjadi rujukan. Dari seorang Mbah Bisri diharapkan menjadi inspirasi bagi generasi muda saat ini. (HQ Semarpers)

Semarnews.com | Semarang - KH Bisri Mustofa Rembang atau Mbah Bisri, ayahanda KH Musthofa Bisri (Gus Mus) disebutkan sebagai Ulama kharismatik yang memiliki banyak karya. Diungkapkan oleh Ketua PPIBJ (Pusat Pengkajian Islam dan Budaya Jawa) Drs KH Anashom MHum bahwa banyak hal menarik terkait karya Mbah Bisri bila ditelaah secara mendalam memiliki pesan sejarah dan nasionalisme. Menurut dia Mbah Bisri merupakan ulama Jawa yang sangat luar biasa, produktif dalam karya dan harus menjadi teladan bagi umat Islam, "Kita harus banyak berguru dari karya beliau yang berjumlah 176 kitab dan buku" kata Anashom.

Hal tersebut menjadi latar belakang diskusi di metting room LP2M UIN Walisongo yang membedah tiga kitab Jawa pegon karya Mbah Bisri, Selasa (20/2/2016). Dikatakan bahwa Tafsir Al Ibriz, Tarikhul Auliya' dan Ngudi Susilo, merupakan sebuah karya klasik yang mengandung unsur nasionalisme dan memiliki unsur sejarah yang cukup kuat, "Tiga kitab yang dikupas ini jelas memberikan warna karya ulama Jawa yang sangat peduli terhadap sejarah dan nasionalisme" kata M Rikza Chamami, dosen FITK UIN Walisongo yang membedah Kitab Ngudi Susilo. Menurut dia, pesan nilai dalam sejarah Walisongo hingga kemerdekaan Indonesia ditulis secara rapi oleh Mbah Bisri dalam Kitab Tarikhul Auliya'. Sedangkan pesan-pesan mencintai agama dan negara ditulis dalam Kitab Ngudi Susilo.

Kehebatan Mbah Bisri dalam membuat Tafsir Al Ibriz juga diungkapkan oleh Dr Abu Rokhmad MAg, dosen FISIP. Menurutnya ulama dahulu belum ada yang membuat karya terjemahan dan tafsir Al Qur'an "Dulu tidak ada yang bisa menerjemah 30 juz tafsir yang dikarang Mbah Bisri karena saking sempurnanya" ucapnya. "Setiap ada yang mau menerjemah selalu gagal di tengah jalan." Lanjutnya. Ia menjelaskan bahwa tujuan menulis tafsir Al Ibriz agar masyarakat Jawa yang tidak paham bahasa Arab bisa mengetahui artinya dengan bahasa Jawa. "Ada pola makna gandul khas pesantren dan terjemah bebas dalam tafsir Al Ibriz ini" Tutur Abu menerangkan.
Ditambahkan olehnya bahwa tafsir tersebut telah digunakan untuk mengajar para santri yang sekarang ini menjadi Kyai pesantren yang tersebar di seluruh Indonesia bahkan di Malaysia, Brunei dan Thailand.

Hal yang dipetik dari diskusi tentang karya Pegon Mbah adalah seorang tokoh yang luar biasa, tekad yang kuat dalam belajar ilmu agama telah mengantarkan Mbah Bisri menjadi sebuah panutan dengan wawasan ilmu agama yang menjadi rujukan. Dari seorang Mbah Bisri diharapkan menjadi inspirasi bagi generasi muda saat ini. (HQ Semarpers)

Comments

Popular posts from this blog

Sarasehan Jurnalistik, Gerakan Santri Menulis Lawan Paham Radikalis

Bangun SDM dan Tekankan Peran Keluarga dalam Pendidikan

PB PMII Dukung POLRI Berantas Terorisme Sampai Ke Akar-Akarnya

Tebarkan Kasih di Gersangnya Hati

Lawan Terorisme, FKPT Jateng Kenalkan Konsep Gemeter