Santri Dafa Besongo Sambung Ruhani dengan Muassis NU



Semarnews.com | Jombang - Pesantren merupakan bagian dari salah satu sejarah pendidikan yang tertua di Indonesia. Mereka yang menjadi santri memiliki keunggulan dalam etika yang pada lazimnya disebut al akhlak al karimah (akhlak terpuji). Sementara sang pengasuh biasanya disebut Kiai. Peran kiai dan sesepuh sesungguhnya berada di belakang kesuksesan santri santri zaman old sampai zaman now. Demikian disarikan dari pengasuh PP Darul Falah Besongo (Dafa Besongo) KH Imam Taufiq bersama segenap santri, dan para ustadz yang memanfaatkan momen libur panjang di akhir pekan dengan berziarah ke makam para pendiri Nahdlatul Ulama.

Dikatakan dari KH Bisri Syansuri, KH Wahab Hasbullah, KH Abdurrahman Wahid, Syaikh Kholil Bangkalan dan sebagian Wali Songo yang ada di Jawa Timur. Ziarah ini berlangsung selama 3 hari dari tanggal 30 Maret sampai 1 April yang diikuti 300 santri putra-putri. Ziarah dimaksudkan untuk menyambungkan ruhani. Ziarah merupakan agenda rutin tahunan yang diadakan Dafa Besongo. Selain mendoakan para leluhur santri juga menguatkan keilmuan dengan studi banding ke Ma'had Aly Tebuireng Jombang. Silaturahim (menyambungkan persaudaraan), silatul'ilmi (menyambungkan ilmu) hingga silaturruh (menyambungkan ruh) diyakini menjadi penopang kekuatan pesantren dan Nahdlatul Ulama. Tentu dilanjutkan dengan silatul'amal (menyambungkan tindakan) di kemudian hari dengan adanya kerjasama.

Diterangkan bahwa Ma'had Aly Hasyim Asy'ari dan Pesantren Tebuireng menjadi tujuan studi banding. Sebab pada 2006 sudah berdiri namun, secara legalitas disahkan Kemenag 2016. Secara esensi Ma'had Aly menjadi salah satu rujukan Dafa Besongo dalam perjalanannya mengembangkan pola pendidikan pesantren. Hal tersebut dimaksudkan untuk memadukan kampus dengan pesantren sebagaimana Tebuireng, "Kami dengan rombongan datang agar terinspirasi dengan Tebuireng," ungkap Kiai Imam Taufiq. Bagi santri, hadir mendoakan langsung di makam Hadratus Syaikh Hasyim Asy'ari memiliki nilai sendiri bagi santri. Sebab, untuk menyambungkan ruhani santri dengan para pendiri Nahdlatul Ulama.

Senada dengan pernyataan yang disampaikan perwakilan pengasuh pesantren Tebuireng, KH. Luqman Hakim BA, "barangsiapa saja yang datang ke Tebuireng, yakni ke makam Hadratus Syaikh berarti itu murid mbah Hasyim" tutur Kiai Luqman, "Walau hanya satu jam saja niat tholab Ilmi sudah jadi santri mbah Hasyim" lanjutnya menerangkan. Pada para santri, ia berpesan untuk dapat memiliki nilai kebaikan di mana pun tempat  yang didiami dan bahkan disinggahi. Nilai manfaat harus ditanamkan sejak masih santri atau mahasiswa hingga terbiasa dan nanti telah terbiasa saat terjun ke masyarakat.

Lebih lanjut ia berpesan untuk dapat mengajar. Sekecil apapun itu selayaknya sebuah ilmu mesti diajarkan dengan baik, "Jangan melupakan ilmu yang kecil. Walaupun sudah sarjana ajarkan pada tetangga, saudara juz amma, walaupun anak TK datang ke tempat kita harus kita ajarkan" tuturnya.

Dikatakan, hal lain yang khas dari Hadratus Syaikh adalah racikan dalam menghadapi masyarakat. Sebagaimana kutipan KH Tholhah Hassan menyatakan bahwa membuka wacana fikih yang tidak dogmatif menjadi fikih solutif. Hal inilah yang menginspirasi munculnya kitab Arrisalah Ahlus Sunnah Waljamaah.

Sementara, KH. Imam Taufiq menambahkan dengan memahami dan mengamalkan pemikiran Hadratus Syaikh harapannya kita bisa menyambungkan keruhanian dan benar-benar menjadi santri Mbah Hasyim. [HQ/hms.semarnews)

Comments

Popular posts from this blog

Lantik Ranting NU se Kecamatan Gunungpati, Kiai Hanif Tunjukkan Peran NU Hadapi Tantangan

Lawan Terorisme, FKPT Jateng Kenalkan Konsep Gemeter

Sarasehan Jurnalistik, Gerakan Santri Menulis Lawan Paham Radikalis

Ragam Aksi Teror, Ika Unnes Sampaikan Pernyataan Sikap

PB PMII Dukung POLRI Berantas Terorisme Sampai Ke Akar-Akarnya