Diapresiasi, Tak Semua Orang Mampu Lakukan


Tommy Y Said saat memberikan sambutan pembuka


semarnews.com || Semarang - Berbagai persoalan sosial yang ada di tengah masyarakat ditangani oleh Dinas Sosial. Melalui Potensi Sumber Kesejahteraan Masyarakat (PSKS) yang ada. Satu di antaranya, Pekerja Sosial Masyarakat (PSM) yang bertindak secara sukarela dalam mengatasi pelbagai persoalan yang ada, orang terlantar, wanita rawan sosial, difable, orang tidak mampu dan sebagainya mendapat pendampingan PSM. Atas kinerja tersebut Kepala Dinas Sosial Kota Semarang, Tommy Yarmawan Said menyampaikan apresiasinya saat memberikan sambutan pembuka pelatihan peningkatan kompetensi PSM di Gedung PKK Kota Semarang, jalan dr. Soetomo 19 A Kota Semarang, pagi ini, Selasa, (30/10/2018).

"Mengurusi permasalahan sosial yang sedemikian banyaknya itu suatu hal yang luar biasa. Tidak semua orang bisa melakukan itu," kata Tommy

Lebih lanjut, Tommy menegaskan pentingnya sinergitas pilar-pilar yang ada. Empat Pilar bergerak bersama, kata dia, Pemerintah sebagai pemangku kebijakan harus terus bergerak dalam membangun negara, namun demikian, Pemerintah tidak bisa membangun sendiri tanpa ada yang lain. Di antaranya Pengusaha.

Peran pengusaha bergerak bersama Pemerintah dalam menopang perekonomian masyarakat, terutama sektor industri yang bisa mengakomodir masyarakat sebagai pekerja. Dengan adanya penyerapan tenaga kerja merupakan bagian dari membantu Pemerintah dalam mensejahterakan masyarakat.

Pilar selanjutnya Pewarta. Diterangkan, Pewarta atau Jurnalis memberikan peran yang secara signifikan diharapkan memberikan pengetahuan tentang suatu peristiwa, situasi dan perkembangan yang ada melalui informasi atau berita yang disampaikan.
"Tanpa adanya pewarta, kita tidak akan tahu perkembangan yang ada," terangnya.
Sebagian peserta berfoto bersama usai pembukaan pelatihan

Dikatakan, Penduduk sebagai pilar keempat bukan hanya sebagai objek permasalahan. Namun juga memiliki peran tersendiri dalam mensejahterakan masyarakat. Ibarat mobil, 4 pilar tersebut adalah roda yang mana kesemuanya bergerak bersama, bersinergi dalam menangani persoalan sosial.

"Ada PSM, TPD (Tim Penjangkauan Dinsos), TKSK (Tenaga Kesejahteraan Sosial Kecamatan), Tagana (Taruna Siaga Bencana), Karang Taruna, dan lain sebagainya, mereka memiliki peran tersendiri dalam mensukseskan program Pemerintah dalam mengatasi persoalan sosial," tuturnya, "semua potensi harus bersinergi," tegasnya.

Perlu diketahui, kata Tommy, Walikota Semarang memiliki ruang operation rooms yang berfungsi memonitor setiap perkembangan yang ada di masyarakat, termasuk di dalamnya kinerja PSM.
"Kita sebagai bagian dari 4 pilar tadi, bergerak di bidang sosial juga tetap termonitor," ujarnya.

PSM sebagai salah satu dari PSKS yang ada dalam Dinas Sosial, diakui memiliki kinerja yang seolah tak kenal waktu, dan tidak ada liburnya.
"Peran PSM ini sungguh luar biasa. Secara situasional, banyak persoalan yang membutuhkan peran kita," ungkapnya.

Dalam kesempatan tersebut, Tommy mengungkapkan, pendataan saat ini dalam skala nasional telah menggunakan BDT (Basis Data Terpadu) yang terpusat dengan menggunakan aplikasi tersendiri. Dia berharap, masyarakat semestinya sadar diri terhadap kondisinya. Karenanya, bila berada dalam taraf perekonomian yang mapan, tidak perlu mengakses atau menggunakan fasilitas bagi warga yang tidak mampu. Sebab itu, bila terdata sebagai penerima bantuan semestinya melaporkan pada PSKS yang ada untuk segera diganti, dan dialihkan pada warga yang lebih membutuhkan.

Ironisnya, Tommy mencontohkan kasus yang beberapa pekan lalu ditangani oleh PSM. Ada warga yang lapor membutuhkan bantuan jasa ambulan gratis untuk berobat kontrol di Puskesmas. Namun, setelah ditelusuri tergolong orang mampu dan tinggal di perumahan elit. Proses verifikasi dilakukan sebab membaca alamat pelapor berada di lokasi yang mustahil terdapat orang tak mampu. Namun demikian, untuk sesuatu yang emergency hal ini diperbolehkan.

Selanjutnya, Tommy mencontohkan kasus lain tentang permintaan rekomendasi untuk mendapatkan fasilitas UHC (Universal Health Coverage). Meski program tersebut bersifat umum bagi warga kota Semarang, namun sejatinya dimaksudkan bagi warga yang tidak mampu. Maka dari itu saat ini proses pengajuan rekomendasi UHC dibuktikan dengan foto kondisi rumah, kamar mandi, dapur dan sebagainya.

Pelatihan ini merupakan periode kedua, sebagaimana diungkapkan Kepala Bidang Pemberdayaan Sosial, Agus Salim. Dikatakan, target peningkatan kompetensi sejumlah 65 peserta dari unsur PSM, dan TKSK dari 16 Kecamatan. Hal ini sebagai upaya untuk menunjang kinerja dalam menangani persoalan yang dihadapi dalam aktifitasnya sebagai pekerja sosial di lingkungan masing-masing. (HQ)
---------------

0 Response to "Diapresiasi, Tak Semua Orang Mampu Lakukan"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel