Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Intoleransi Pemicu Sikap Radikal



Semarnews.com || Semarang - Sikap toleransi  yang telah melekat erat dan membumi di kalangan masyarakat Jawa Tengah mampu membentengi, menangkal dan mencegah pengaruh gerakan intoleransi yang berpotensi menjadi cikal bakal gerakan radikakisme dan terorisme. Ketua bidang Penelitian dan Kajian Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme Jawa Tengah (FKPT Jateng), Dr Syamsul Ma'arif, M.Ag mengatakan, berbagai aksi radikal dan teror yang terjadi di tanah air jika ditelusuri latar belakang pelakunya hampir dipastikan berkaitan dengan berbagai sumber dan gerakan yang akarnya dari Jateng. Isu intoleransi menjadi pemicu awal yang dihembuskan untuk menarik perhatian

"Spirit, relasi dan inspirasi gerakan bahkan teks- teks acuan gerakan itu didapat di Jateng,ini salah satu hasil temuan penelitian kami,"ujar Syamsul saat menyampaikan paparan hasil penelitian tentang Peningkatan Daya Tangkal Masyarajat Jateng terhadap _Radikalisme_ melalui Kearifan Lokal di hotel Candi View Semarang, Minggu malam (7/10).

Menurutnya, masyarakat Jateng sudah terlatih dan terbiasa menjalani hidup bersama-sama ditengah keragaman. Perbedaan - perbedaan yang ada mulai dari agama, adat istiadat, suku bangsa, bahasa dan sebagainya tidak menjadi pemicu atau pangkal untuk saling  memusuhi.

Namun justru sebaliknya, perbedaan yang ada disikapi sebagai sebuah keniscayaan, masing-masing menurunkan tensi egonya sehingga tercipta suasana saling memahami dan menghormati bahkan saling menyayangi. Akhirnya suasana dan realitas ketidaksamaan itu  mengkristal menjadi sebuah kekuatan  pemersatu yang besar dan mampu bertahan dalam kurun waktu yang panjang

Jadi, lanjutnya kekuatan itu tidak muncul secara tiba-tiba, namun konstruksinya sudah dibangun sejak lama oleh nenek moyang bangsa Indonesia.

Dia menambahkan, hadirnya paham-paham dan gerakan-gerakan baru yang senantiasa meniupkan ujaran kebencian dan intoleransi yang dikemas melalui isu-isu keagamaan maupun pertentangan kelas masyarakat tidak mendapat respon dari sebagian besar masyarakat Jateng.

Hanya sebagian kecil masyarakat yang merespon dan larut dalam isu paham dan gerakan baru seperti radikalisme dan terorisme yang pada mulanya diawali dengan pemassifan isu intoletansi. Namun karena blow up media seolah mereka menjadi representasi sikap masyarakat pada umumnya,padahal kondisi riil justru malah sebaliknya. (HQ)
---------------

Berlangganan via Email