Nada, Sastra Dan Doa Untuk Guru Bangsa


SemarNews.com || Semarang - Sang Pluralis KH. Abdurrahmad Wahid atau yang akrab disapa Gus Dur merupakan sumber inspirasi generasi bangsa Indonesia. Mengenang jasanya dalam menegakkan nilai-nilai kemanusiaan tanpa sekat suku, agama, ras, dan berbagai latar belakang lainnya, Gusdurian Semarang menggelar Nada, Sastra, dan Doa dalam haul ke-9 Gus Dur di Pastoran Johannes Maria Tinjomoyo Dhuwur Kaligarang, Semarang, Sabtu (29/12/2018).

Romo Aloys Budi Purnomo, merasa terkesan adanya kegiatan tersebut. Perbedaan agama bukan penghalang untuk tampil tanpa canggung dan buruk sangka di Pastorat.

"Tanpa ragu dan prasangka, mereka (Gusdurian Semsrang) berkegiatan di situ (Pastoran), memberi inspirasi tentang penghayatan indahnya keberagaman dalam persatuan," ungkap Romo Budi, (31/12/2018), "Itulah tempat tinggalku sementara ini, sejak 28 November 2017 lalu," imbuhnya

Gusdurian berkreasi dalam dua sesi, dengan menggaet Ikatan Pelajar dan Mahasiswa Blora (IMPARA) untuk menampilkan seni Barongan Singa Jaya dan Bujang Ganong. Tampak dua penari Barongan meliuk-liuk diiringi perangkat beberapa unsur gamelan yang dipadu dengan perkusi.

Pada kesempatan tersebut, Arbi, salah satu dari anggota Gusdurian, membacakan puisi dan dilengkapi dengan iringan musik dari teman-teman Pradah Hindu Semarang dibawah koordinasi Komang.

Sesi selanjutnya testimoni, para peserta mengungkapkan kenangan indah Gus Dur 'Sang Guru Bangsa' sebagai sosok yang perlu diteladani pemikiran dan perjuangannya hingga tumbuh bibit-bibit semangat dalam melanjutkan perjuangan pluralisme Gus Dur. Suasana akrab, persaudaraan, dan persatuan berlangsung meski kegiatan telah usai, dan waktu telah hampir pagi.

Sesi yang dilaksanakan di teras atas diwarnai dengan musik rebana. Lantunan puisi, testimoni dan orasi budaya Mohammad Sobary berbasis pada novel terbarunya 'The President' turut memeriahkan gelaran tersebut. Semua bersatu padu tanpa memandang perbedaan yang ada.

Disebut dalam orasi itu sosok Gus Dur yang harus menginspirasi orang muda untuk selalu bersikap kritis konstruktif, memilih kebaikan, dan kebenaran, bukan keburukan dan kejahatan.

Gus Dur dan Gusdurian selalu memberikan kesan mendalam bagi Romo Budi. Yakni, nilai-nilai kemanusiaan dalam peradaban kasih yang tampak dari persatuan dan persaudaraan yang nyata antar pemeluk agama.

"Bagiku, inilah kisah nyata motivasi mereka, yakni Gusdurian Semarang yang bukankah istimewa? Mereka kaum muda menimba inspirasi Gus Dur dan menerapkannya dengan bahagia!," ungkapnya.

Romo Budi melanjutkan, kedekatan secara personal membuatnya mudah menilai secara proporsional dalam penyelenggaran gelaran tersebut.

"Menurutku, Ajid dan Gopang yang menjadi ketua acara dan koordinator Gusdurian Semarang berhasil menyelenggarakan peristiwa ini. Sungguh luar biasa istimewa!," pungkasnya. (HQ)
---------------

0 Response to "Nada, Sastra Dan Doa Untuk Guru Bangsa"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel