Alumni Unnes; Kita Butuh Jokowi, Bukan Jokowi Butuh Kita



SemarNews.com || Semarang - Kesadaran putra bangsa dalam memilih yang terbaik bagi masa depan bangsa dan negaranya dapat diperhatikan dari alasan yang muncul di balik pilihannya, satu diantaranya memilih Presiden. Dr. Drs. Budiyanto, SH, MHum menegaskan hal tersebut sebagai kebutuhan rakyat.

"Kita yang butuh Jokowi, bukan Jokowi yang butuh kita," kata Budiyanto saat diwawancarai awak media di antara ratusan alumni Universitas Negeri Semarang (Unnes) yang tergabung dalam Koalisi Diponegoro Dukung 01 Jokowi-Amin di Gedung PPI, Jalan Garuda, kawasan Kota Lama Semarang, Ahad (3/2/2019)

Budiyanto, aktifis senior yang masih gemar berdiskusi ini menjelaskan, kebutuhan tersebut merupakan kesadaran intelektual putra bangsa yang menginginkan kemajuan bagi bangsa dan negara yang dicintainya. Hal ini merujuk dari banyak hal yang telah dilakukan oleh calon presiden petahana, Joko Widodo - Ma'ruf Amin.

"Kita butuh sosok Jokowi demi kelangsungan pembangunan, yang muaranya bagi kesejahteraan rakyat. Kalau kita peduli terhadap nasib negeri ini kita jargonkan Jokowi sekali lagi. Memberikan kesempatan Jokowi untuk melanjutkan pembangunan yang belum selesai pada periode pertamanya," ujarnya.

Anti Hoax
Menghadapi berbagai isu yang menerpa pribadi Jokowi, Budiyanto menghimbau untuk tak terpengaruh oleh kabar bohong. Lebih dari itu, aktivis senior yang pernah menjabat ketua Dewan Pengurus Daerah (DPD) Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) Jawa Tengah ini mengajak untuk melawan hoax dan menjadi penggerak sikap optimis.

"Jangan percaya hoax!. Lihat faktanya. Tegas Budiyanto, "kita haru menjadi penggerak optimisme. Kita harus yakin masa depan bangsa ini (Indonesia,red) lebih baik lagi, lebih maju dan bersaing dengan negara negara maju yang lain," tandasnya

Menegaskan peran intelektual dalam memerangi hoax, Dr. Anang Budi Utomo menyatakan sifat intelektual yang menyampaikan informasi berlandaskan data dan fakta yang sesungguhnya.

"Salah satu ciri intelektual harus sejujur-jujurnya, harus berbicara berdasarkan data yang sesungguhnya, tidak boleh menyampaikan hoax, tidak boleh memfitnah," tandasnya, "Intelektual jangan sampai termakan hoax," imbuhnya menegaskan.

Memerangi hoax yang beredar di media sosial, Anang mengajak kalangan intelektual untuk menyampaikan sesuai roh intelektual.

"Kesungguhan, kedisipilan, kejujuran. Sampaikan sesuai fakta. Ini roh intelektual," pumgkasnya. [HQ]
---------------

Comments

Popular posts from this blog

Antara Candana dan Mataram

PSSI saja bisa dibekukan, kenapa HTI tidak?

Jika Wahyu Telah Hilang, Ibukota Akan Gamang