FGD Dispora Kota Semarang, Dari Hoax Sampai Bahaya Gaptek



SemarNews.com || Semarang - Era millenial merupakan era percepatan, baik informasi maupun ekonomi. Focus Group Discussion (FGD) yang diadakan Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) Kota Semarang bersama Dewan Pengurus Daerah (DPD) Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) Kota Semarang di Hotel Siliwangi, Jalan MGR. Soegijopranoto Kota Semarang, Kamis (28/2/2019) membincang hal ihwal persoalan yang ada, dari hoax sampai bahaya gagap teknologi.

Moderator FGD, Lukman Hakim memancing perhatian peserta dengan membincang berbagai isu hoax yang marak belum lama ini. Dari mulai kasus hoax Ratna Sarumpaet pada akhir tahun 2018 lalu, hingga foto hoax anak calon presiden 01, Kaesang Pangarep yang mengenakan kaos berlambang PKI.

"Tadi pagi anak bungsu Jokowi diinfokan menggunakan kaos berlambang palu arit. Ternyata setelah dikonfirmasi yang dipakai adalah kaos hitam polos, terus diedit dikasih lambang PKI," kata Lukman.

Sebelumnya, Kepala Bidang Pengembangan Pemuda,  Drs. R. Budi Santosa, MM dalam sambutannya juga mengatakan, seiring dengan kemajuan teknologi, apalagi menyongsong era 4.0, pengguna internet di Indonesia kian marak. Otomatis, pengguna aktif media sosial juga semakin banyak.

"Artinya, potensi untuk tersebarnya berita hoax semakin besar karena mayoritas berita bohong diproduksi oleh media sosial," jelasnya.

Selain kasus Ratna Sarumpaet yang berujung pada jeruji, ada banyak kasus serupa lainnya. Katanya, belum lama ini tersebar berita ditemukannya 7 kontainer yang mengangkut surat suara yang sudah dicoblos. Setelah diselidiki oleh pihak berwenang ternyata itu hanya hoax.

Oleh sebab itu, dia mengimbau, manakala mendapati berita apapun, sebelum membagikan ulang harus mengecek terlebih dahulu keakuratannya. Sehingga, potensi untuk penyebaran berita bohong bisa terminimalisir. "Sharing (diskusi) dulu sebelum mengeshare," pesannya.

Sementara, Ketua DPD KNPI Jateng, Tino Indra Wardono menerangkan potensi ekonomi dan komunitas di era digital. Menurutnya, revolusi yang ada di dunia ditandai dengan maraknya digitalisasi, baik digitalisasi informasi maupun digitalisasi dalam aktifitas ekonomi.

"Hal ini berpengaruh terhadap pola berpenghasilan," ujarnya, "Siapa yang bisa bertahan dan beradaptasi terhadap perubahan ini (teknologi informasi,red), itulah yang bisa bertahan hidup. Secara ekonomi maupun komuntas," imbuhnya.

Dampak buruk dari era digital, ungkapnya, dikhawatirkan menghasilkan generasi yang anti sosial. Seorang anak bisa menjadi susah bergaul dengan lingkungan, cukup bermodalkan androit dengan berbagai vitur aplikasi percakapan sudah dapat merasakan sosialisasi.

"Cukup dengan androit dengan vitur percakapan terus mojok dengan fasilitas wifi sudah bisa berkomunikasi dengan banyak orang tanpa pernah bertemu langsung. Saya khawatir nanti kalau terus berlanjut, tidak ada yang minat berorganisasi, tidak ada yang minat menjadi ketua KNPI, lha terus bagaimana nasib NKRI ini?," tukasnya.

Oleh karena itu, Tino berharap agar media sosial bisa dimanfaat dengan baik tanpa mengganggu aktifitas sosial dan menjadi sarana mempermudah proses dalam berorganisasi.

Sementara, Ketua DPD KNPI Kota Semarang, Choirul Awaludin seusai memimpin deklarasi mitra Kamtibmas Polrestabes Semarang mengatakan, peran pemuda dalam membangun negara perlu dikedepankan. Dalam lingkupnya masing-masing, pemuda harus mengambil peran tersendiri.

"Hari ini kita tidak hanya FGD, tapi juga deklarasi pemuda sebagai mitra Kamtibmas dan pemuda deklarasi anti hoax," katanya, "Dengan demikian, peran pemuda dalam menangkal hoax, dan ikut serta menjaga ketertiban dan keamanan masyarakat harus lebih menonjol," sambungnya.

Kasatbinmas Polrestabes Semarang, AKBP Muhammad Fahrudin mengamini apa yang menjadi perbincangan dalam FGD. Masifnya berita hoax yag beredar di media sosial menjadi keprihatinan bagi pihak kepolisian, sehingga ia mengimbau agar jangan ikut terjerumus.

"Sebab, membagikan berita bohong saja tanpa membuatnya juga sudah termasuk tindak pidana. Makanya jangan coba-coba ikut menyebarkan. Kroscek terlebih dahulu," tandasnya. (HQ)
---------------

0 Response to "FGD Dispora Kota Semarang, Dari Hoax Sampai Bahaya Gaptek"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel