Ulama Dihimbau Tak Jadi Provokator



SemarNews.com || Semarang - Riuh ramainya media sosial (Medsos) menjadikan dinamika kehidupan dirasa memanas. Persoalan yang ramai di Medsos kerap tak seperti realitanya di masyarakat. Hal ini kerap menjadi perbincangan tersendiri. Terlebih banyaknya tokoh agama yang kedapatan viral berlaku bak provokator.

Prof. Dr. H. Noor Achmad, MA menegaskan, para da'i untuk jelas dalam memposisikan dirinya. Dikatakannya, jangan menggunakan waktu berdakwah dengan mengisi ceramah untuk berpolitik.

"Saya mengimbau ulama untuk tidak menjadi provokator dari masing-masing calon atau menjadi Jurkam pada saat bertabligh," kata Noor Achmad saat menjadi pembicara dalam talkshow Hari Pers Nasional 2019 PWI Jateng, Senin (11/2/2019), "kalau bertabligh, bertablighlah. Kalau menjadi Jurkam, jadilah Jurkam yang baik," sambungnya.

Sementara, tekait Tabloid Indonesia Barokah yang banyak diperbincangkan masyarakat. Noor Achmad meminta penegasan posisi tabloid tersebut diakui sebagai media dalam perspektif pers atau alat politik sebagian kelompok.

"Pertama itu kita klarifikasi dulu apakah tabloid Indonesia Barokah itu media atau bukan?," ujarnya, "Tergantung pada teman-teman pers itu menganggap itu bagian dari media atau bagian dari kelompok-kelompok lain?," terangnya.

Kalau dianggap bentuk media, kata dia, tentu harus disikapi sebagai media yang salah. Demikian pula dikatakan kalau tabloid tersebut disebut sebagai alat politik, maka akan menjadi propaganda perang antar media politik. Oleh sebab itu, kalau tulisan berisikan ujaran kebencian, hoaks, dan menghujat satu sama lain, perlu adanya penegasan sikap.

"Siapa pun yang menulis bukan wartawan. Artinya profokator," tegasnya.


Sementara, Ketua DPRD Kota Semarang, Supriyadi, SSos, MA dalam kesempatan tersebut mengingatkan peran media dalam menjaga kondusifitas keberagaman masyarakat. Terlebih di Jateng yang sejauh ini damai menyambut pemilu legislatif (Pileg) dan pemilihan kepala daerah (Pilkada).

"Media juga memiliki peran untuk menciptakan kondusifitas, dan kekompakan antar warga," kata Supriyadi.

Lebih lanjut, ia mengimbau, pesta demokrasi yang berjalan lima tahunan jangan sampai merusak kerunan yang selama ini terjalin. Ia berpendapat warga Jawa Tengah bijak dalam menyikapi perkembangan politik. Dia menegaskan pada semua pihak untuk menjaga kondusifitas yang ada.

"Saya kira di Jawa Tengah ini yang sudah kondusif, kita jaga bersama kerukunan, keberagaman, pemilu untuk memilih dengan cara yang semestinya," lugasnya.

Dialog yang berlangsung di Gedung Pers PWI Jateng, Jalan Trilomba Juang No 10, Mugassari Kota Semarang, Senin (11/2/2019) menghadirkan Wakil Gubernur Jateng, H Taj Yasin Maemoen, Ketua DPRD Kota Semarang, H Supriyadi, S.Sos, MA, Ketua PWI Jateng, Amir Machmud NS, Ketua Komisi Penyiaran Indonesia Daerah (KPID) Jateng, Budi Setyo Purnomo, S.Sos, M.Ikom, Ketua Paguyuban Sosial Marga Tionghoa Indonesia (PSMTI) Jateng, Dewi Susilo Budihardjo, dan Sekretaris Dewan Pertimbangan MUI Pusat, Prof. Dr. H Noor Achmad, MA. (HQ)
---------------

Comments

Popular posts from this blog

Antara Candana dan Mataram

PSSI saja bisa dibekukan, kenapa HTI tidak?

Jika Wahyu Telah Hilang, Ibukota Akan Gamang