Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Fiqh Sosial KH MA Sahal Mahfudh dalam Menjawab Problematika Aktual Umat Di Indonesia


 Toleransi adalah sikap untuk saling menghargai dan menghormati setiap orang yang memiliki perbedaan pendapat atau faham tertentu agar tidak terjadi konflik didalamnya, maka sifat toleransi sangat perlu ditekankan. 

Dalam artikel yang berjudul “Paradigma Fiqh Sosial KH MA Sahal Mahfudh dalam Menjawab Problematika Aktual Umat Di Indonesia” yang ditulis Moh Dahlan, KH MA Sahal Mahfudh berpendapat bahwa fiqh sosial bertujuan untuk mewujudkan persaudaraan, toleransi, kebersamaan, dan hidup berdampingan antar sesama anggota masyarakat baik dengan sesama muslim maupun dengan sesame anggota masyarakat non muslim. Meskipun ada perbedaan baik dari ras, suku dan agama, namun hal itu tidak berakibat munculnya suatu perpecahan, permusuhan dan perlawanan. Bahkan sikap saling melengkapi , saling bertoleransi dan saling peduli demi kemaslahatan bersama menjadi terbentuk dan memiliki kekuatan yang sangat kokoh. Ikatan persaudaraan yang kokoh ini mampu membendung pengaruh pengaruh negatif dari luar yang tidak sesuai dengan ajaran fiqih. Yang mana fiqh ini mengajarkan akan pentingnya persaudaraan, toleransi, kerukunan dan sekaligus mencegah lahirnya paham radikal dikalangan umat beragama.

Seperti  di Desa Kembang sumurtowo, Kecamatan Dukuhseti Kabupaten Pati, desa ini  dikecamatan dukuhseti adalah desa yang terpencil yang hanya ada 60 kartu keluarga, dengan mayoritas muslim 75% dan kristen 25% mungkin bisa dijadikan sebagai potret toleransi, karena di desa ini ada dua tempat ibadah, yaitu masjid dan gereja. Namun perbedaan ini tidak menyurutkan semangat mereka untuk tetap saling menjaga toleransi, kerukunan dan silaturahmi. 

“Toleransi di desa Sumurtowo ini terbilang cukup baik. Pasalnya perbedaan keyakinan ini bukan suatu alasan bagi kami untuk tetap hidup rukun, hidup berdampingan antar sesama anggota masyarakat. Misalnya saat ada pelaksanaan paskah atau perayaan hari natal, kami juga mengundang kepala desa untuk hadir, dan untuk masyarakat muslim juga pada berkunjung kerumah kami. Begitupun sebaliknya jika masyarakat muslim sedang merayakan hari idul fitri, kami juga berkunjung ke rumahnya. Semua ini kami lakukan untuk menjaga tali silaturahmi antar sesama dan untuk saling menghormati dan menghargai”. Ujar Bapak sutikyo selaku pendeta digereja injili tanah jawa didesa sumurtowo satu . Jum’at (05/12/2020)

Beliau juga menjelaskan bahwa toleransi di desa Sumurtowo ini terjalin dengan sangat baik dan rukun. Setiap ada kegiatan-kegiatan misalnya bersih desa, gotong royong, renovasi masjid, pembangunan pagar gereja, semua masyarakat Sumurtowi ini berbaur menjadi satu tanpa pandang bulu. Dari kegiatan bersosial misalnya, apabila ada warga muslim sedang mengadakan acara di rumahnya, warga non muslim ini ikut membantu, ikut menyiapkan hal-hal yang diperlukan untuk berjalannya suatu acara begitupun sebaliknya. Dan apabila ada warga muslim yang meninggal, warga non muslim ini juga ikut bertakziah, ikut mengaji meskipun mereka hanya berdiam diri. Untuk hal ekonomi, mereka tetap melakukan jual beli tanpa pandang bulu, tanpa adanya suatu perbedaan. Dan mereka hidup berdampingan ini tanpa adanya batasan batasan. Selain itu dalam hal berorganisasi, masyarakat ini juga berbaur menjadi satu, misalnya pada organisasi di desa. Kepala desa tak hanya melibatkan orang muslim saja untuk berperan penting demi kemajuan desa, namun kepala desa juga melibatkan orang non muslim untuk ikut andil bekerjasama memajukan desa. 

“Apabila ada peringatan natal atau paskah, Banser di desa Sumurtowo juga ikut berperan membantu menertibkan acara. Toleransi merupakan suatu sikap yang sangat penting untuk bekal bermasyarakat. Karena toleransi menjadi salah satu pondasi atau kunci utama dalam hal memelihara kerukunan dan perdamaian dalam kehidupan bermasyarakat. Tak hanya itu saja, menghormati perayaan hari hari besar agama lain, bergotong royong untuk membangun tempat ibadah agama lain dan tidak saling membully atau mengejek agama lain, juga merupakan bagian dari toleransi antar sesama umat beragama. Apabila di negara ini minim sikap toleransi, maka akan muncul ancaman-ancaman, serangan dan permusuhan yang dapat menghancurkan bangsa ini. 

Maka peran kita sebagai generasi milenial, sebagai generasi penerus bangsa adalah tetap melestarikan dan tetap menjaga kerukunan, kesatuan, persatuan dan menjunjung tinggi nilai-nilai toleransi agar terhindar dari perpecahan antar umat beragama.


Penulis : Muhammad riza abrori

Posting Komentar untuk " Fiqh Sosial KH MA Sahal Mahfudh dalam Menjawab Problematika Aktual Umat Di Indonesia"

Berlangganan via Email