Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Peran Guru di Tengah Pandemi


 Penulis : Robiah Adawiyah 

Sistem pendidikan Indonesia mulai berubah total semenjak di putuskannya Indonesia darurat covid-19, hal ini mengakibatkan semua instansi pendidikan tanpa terkecuali dimanapun instansi tersebut berada harus merubah metode pembelajarannya dari metode tatap muka menjadi daring (online). Tentunya sangat sulit untuk bisa menjalankan metode pembelajaran daring dan tidak semua mata pembelajaran bisa menggunakan metode pembelajaran tersebut.

Sudah beberapa bulan instansi pendidikan menerapkan metode pembelajaran daring. Metode ini ada 2 cara dalam pelaksanaannya, pertama; guru menyiapkan soal guna di kerjakan siswa di waktu pembelajaran yang sudah di jadwalkan serta langsung dikumpulkan waktu itu juga, kedua; menggunakan aplikasi tatap muka seperti zoom untuk menjelaskan mata pelajaran sesuai yang dijadwalkan.

Dalam pelaksanaannya banyak sekali kendala yang di alami baik itu dari peserta didik atau dari pendidik, mayoritas kendala yang dialami beruba sulitnya koneksi internet dan borosnya penggunaan data internet. Masalah yang di hadapi kemudian adalah banyak ditemukan peserta didik yang bukannya belajar ketika jam sekolah justru bermain bersama teman-temannya.

Disini peran guru menjadi sangat penting dalam memantau perkembangan belajar peserta didik. Tidak seperti pembelajaran tatap muka biasa yang mana guru dan murid dalam satu ruangan sehingga guru secara langsung dapat melihat mana murid yang memerhatikan pelajaran dan yang tidak. Metode daring ini guru memiliki beban ganda beruba mengontrol pembelajaran siswa, apakah ketika jam pembelajaran mereka benar-benar belajar yang dalam hal ini mengerjakan tugas yang telah di berikan masing-masing guru atau berupa pembelajaran tatap muka online. Guru harus lebih aktif mendekati siswa-siswa bukan hanya setelah memberikan soal lalu menunggu jawaban dan menilainya, itu bukan belajara melainkan ujian. bahkan kerap ditemukan tugas siswa tersebut di kerjakan orang tuanya atau temannya.

Tidak semua mata pelajaran bisa menggunakan metode daring, seperti mata pelajaran akhlak yang menurut ansor seorang guru akhlak MI mengatakan "bagaimana caranya pelajaran akhlak menggunakan metode daring sedangkan akhlak harus di jelaskan langsung agar murid dapat mencontoh dari gurunya, apalagi ini anak-anak MI yang harus dipantau perkembangannya" menurut ansor akhlak yang terpenting bukan nilainya melainkan prakteknya. lainhalnya mata pelajaran akhlak begitu juga dengan mata pelajaran olahraga, apakah guru harus memaksa muridnya untuk olahraga mandiri? apakah hal ini mungkin dan bagaimana cara menilainya?

di beberapa instansi pendidikan ada yang sudah menerapkan metode belajar  tatap muka dengan protokol kesehatan dan sistem sift belajar, yakni dengan membagi jam balajar tatap muka di kelas seperti seminggu 2 kali menyesuaikan dengan jumlah kelas dan murid selebihnya tetap metode daring, metode ini tentunya lebih maksimal dibanding sepenuhnya pembelajaran metode daring. Karena ketika tatap muka guru bisa melihat sejauh mana perkembangan siswanya.

Peran guru yang sebenarnya di tengah-tengah metode pembelajaran daring ini adalah menyadarkan siswa-siswanya agar sadar dan mau untuk belajar sendiri tanpa bantuan orang lain. Sayangnya pembelajaran saat ini mengedepankan nilai bukan mengedepankan kejujuran, tentunya guru harus berani mengontrol muridnya secara langsung dengan memastikan apakah benar siswa-siswanya belajar ataukah tidak. Dalam hal ini akan sangat sulit bagi guru dalam pelaksanaannya, harus ada kerjasama satu instansi pendidikan sehingga hasil yang didapat benar-henar sesuai yang diharapkan. disamping itu guru juga harus aktif berkomunikasi kepada semua muridnya sehingga nantinya apabila beberapa murid mendapatkan kendala belajar sang guru bisa langsung memberikan solusi yang tepat.jangan jadikan murid terbebani soal tapi jadikan murid gemar membaca dan belajar.

Posting Komentar untuk " Peran Guru di Tengah Pandemi"